Jumat, 11 Juli 2008

Mandalawangi

MANDALAWANGI - PANGRANGO

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

Rabu, 02 Juli 2008

Mengenang soe hok gie

KENANGAN KEPADA SEORANG DEMONSTRAN
SOE HOK GIE

Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.

"Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan," kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.

Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. "Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu," lanjutnya.

Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. "Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru ... perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu," begitu bunyi naskah buku kecil acara "Mengenang Seorang Demonstran", (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Kasih batu dan cemara

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.

Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.

Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.

Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, "Simpan dan berikan kepada kepada 'kawan-kawan' batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI." Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. "Soe dan Idhan kecelakaan!" katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.

Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

"Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya," begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa naik gunung

Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.

Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. "Pokoknya gue akan berulang tahun di atas," katanya sambil mesam-mesem. "Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali."

Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. "Keren enggak?" Tanyanya.

Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.

Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.

Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan "falsafahnya", kala mengajak seseorang mendaki gunung. "Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini," kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.

Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.

Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.

Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan ... Tides dan Wiwik 18-12-69.

Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan "site" tempat jenazah Soe dan Idhan ... kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat ... sebanyak mungkin!
Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.
Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet tua yang dikurung

Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: "... Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ...."

Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan "Cina Kecil", memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata "sakti" filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: "Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."

Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: "Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras ... diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil ... orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur."

Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang ... makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan ... Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian." (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: "Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang." Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: "Ah, Mama tidak mengerti".

Arief pun menulis kenangannya lagi: ... di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik ... dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan ... saya terbangun dari lamunan ... saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, "Gie kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.

Mimpi seorang mahasiswa tua

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.

Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: ...Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih ... kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.

Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: ... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan .... Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan ... bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.

Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, ... Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!

Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: ... Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan ... Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.

Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.

Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: ... Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.

Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki "politisi berkartu mahasiswa". Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.

Berpolitik cuma sementara

John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, "Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas."

Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun ... namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental "asal bapak senang", serta "yes men", atau sudah pasrah.

Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa." Demikian tulis Maxwell.

Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.

Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.

Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya "Pesan" dan cukilan pentingnya berbunyi:

Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras

Yang berbicara tentang kemerdekaaan

Dan demokrasi

Dan bercita-cita

Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka

yang tanpa tentara

mau berperang melawan diktator

dan yang tanpa uang

mau memberantas korupsi

Kawan-kawan

Kuberikan padamu cintaku

Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?


Kamis, 19 Juni 2008

soe hok gie

Soe Hok-gie, Anak Zaman Peralihan

Judul: Soe Hok-gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani, Penulis: John Maxwell, Penerbit: PT Pustaka Utama Grafiti, Cetakan Pertama, 2001, Tebal: (xiii + 443) halaman.


DALAM perjalanan panjang sejarah Indonesia pascakemerdekaan, dekade tahun 1960-an mempunyai arti yang sangat penting karena ditandai dengan transisi jabatan kepresidenan secara "paksa" dari Soekarno ke Soeharto. Peristiwa itu didahului adanya kup yang disebut-sebut didalangi oleh Partai Komunis Indonesia. Di era itu juga dilaksanakan Demokrasi Terpimpin, yang kemudian berakhir setelah Soekarno jatuh.

Soe Hok-gie, sebagai anak zaman yang "kebetulan" besar dan tumbuh saat bangsa Indonesia sedang bergejolak tahun 1960-an tersebut. Ia dan kawan-kawan ikut menyuarakan perjuangan menentang pemerintah (Soekarno) yang dinilai mulai mengarah ke tirani.

John Maxwell dalam Soe Hok-gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani ini mengungkapkan bahwa Soe Hok-gie adalah sosok minor dalam dunia politik Indonesia. Minor karena nama Soe Hok-gie tak dikenal luas di Indonesia, kendati tulisannya begitu mencengangkan di kalangan tertentu, terutama di antara orang-orang Indonesia yang menjadi pembaca media cetak bermutu di Jakarta.

Dalam buku yang semula adalah desertasinya di Australia National University, Department of Political and Social Change Canberra, Maxwell juga menjelaskan bahwa sisi minor tadi masih ditambah bahwa secara etnis dan kultural, sebagai orang Cina-Indonesia, Soe Hok-gie ia harus memulai kehidupan sebagai orang "asing".

Secara politik, ia bukanlah anggota atau pemimpin suatu partai politik tertentu. Ini menyebabkan nama Soe Hol-gie sulit ditemukan dalam catatan kaki dan publikasi literatur politik dasawarsa tahun 1960-an (hlm 4).

Namun, Maxwell menegaskan bahwa Soe Hok-gie adalah sebuah sejarah; sejarah munculnya kesadaran politik seorang anak muda ketika ia tengah berusaha merespon apa yang terjadi dalam masyarakat di sekelilingnya dan ketika ia berusaha menjawab persoalan politik bangsanya.

***

BUKU ini dibagi menjadi enam bab yakni: Asal-usul, Konteks, Tahun-tahun Awal di Universitas: Kemunculan Seorang Aktivis Politik, Terjun ke Kancah Aktivisme Politik: Demonstrasi Mahasiswa 1966, Membersihkan Orde Lama; Bergulat dengan Kemunculan Orde Baru. Dalam tiap bab yang terdiri dari bagian-bagian tertentu, diuraikan urutan fase kehidupan Hok-gie lebih berfokus pada kejadian-kejadian sosial politik bangsa tahun 1950-1970.

Bagian pertama menceritakan asal usul Soe Hok-gie sebagai keturunan peranakan yang istimewa. Maxwell begitu jernih mengulas tentang latar belakang Soe Hok-gie kecil dan remaja yang begitu terpikat pada dunia buku dan ide-ide yang kreatif penuh imajinasi. Orang-orang terdekat Soe Hok-gie, juga menjadi ulasan Maxwell dalam usaha lebih dalam mengenal pribadinya.

Seperti lazimnya anak manusia, identitas adalah sesuatu yang menjadi pemikiran Soe Hok-gie dalam perkembangan pribadinya. Ia tumbuh dan terpengaruh gejolak pada awal masa kemerdekaan, saat pencarian identitas bangsa Indonesia juga berpengaruh pada pencarian keyakinan, jati diri, keadilan dan kemanusiaannya (Bab 1).

Maxwell berusaha secara gamblang menguraikan sosok paradoksal ini dengan seringnya mengemukakan persaingan Soe Hok-gie dengan kakaknya Arief Budiman, kebimbangannya akan cinta dan seks, juga keraguannya akan agama, sampai pada kebenciannya pada dunia borjuis dan ketertarikannya pada demokrasi, hak-hak individu, dan kebebasan.

Bab-bab selanjutnya (dua sampai enam), penuh diisi dengan kiprah Soe Hok-gie di dunia kampus dan politik Indonesia. Sebagai mahasiswa Jurusan Sejarah, nuraninya tergugah ketika melihat betapa kacaunya situasi bangsa dan negara Indonesia waktu itu karena pemerintahan yang tidak stabil dan bobroknya moral para pejabat. Tulisan-tulisannya (yang banyak dikutip oleh Maxwell) begitu tajam, menggigit dan seringkali sinis ketika ia menyerang seorang tokoh, keadaan ataupun kebijakan pemerintah yang dirasanya tidak sesuai dengan prinsip demokrasi, kebebasan, dan kejujuran.

Maxwell yang mencoba menganalisis Soe Hok-gie dari tulisan-tulisannya di surat-surat kabar, catatan harian, dan sumber-sumber lain selama periode tahun 1950-1970, dalam lima bab berikutnya, ternyata memang mau tidak mau harus banyak mengungkapkan fakta-fakta politik dan situasi bangsa Indonesia guna menemukan relevansinya dengan entri-entri yang ditulis Soe Hok-gie.

Terlihat bahwa kesadaran subyektif Soe Hok-gie sangatlah menentukan langkah dan pandangannya tentang sebuah perjuangan moral. Maxwell menangkap hal ini, ketika ia menuliskan kekecewaan Soe Hok-gie akan teman-teman seperjuangannya yang larut pada struktur kekuasaan dan meninggalkannya dalam kesepian dan keterasingan (Bab 6).

Akan halnya tentang sisi kehidupan lain seorang Soe Hok-gie, sejalan dengan tidak sedikitnya entri dan catatan harian yang ditulisnya tentang seks, perkawinan, agama, keluarga, cinta, dan dunia petualangan, maka cinta dan petualangan menjadi fokus dari semuanya. Sebagai sosok pribadi yang tegar, keras, kokoh, dan pantang menyerah seperti ditunjukkan dalam petualangannya di gunung-gunung, Soe Hok-gie ternyata adalah pribadi yang lembut dan emosional ketika berbicara tentang cinta. Kasih yang tak sampai kepada gadis pujaannya gara-gara perbedaan agama dan etnis menyebabkannya begitu sedih dan putus asa (hlm 334-336).

Maxwell tampaknya sengaja menyinggung masalah cinta ini guna memperlihatkan sosok Soe Hok-gie yang begitu manusiawi, jujur, dan sederhana saat berbicara tentang cinta sama seperti ketika ia juga menulis dan berbicara secara jujur, lugas dan apa adanya tentang ketidaksenangannya terhadap kekejaman, kekejian, kelicikan, dan ketidakadilan yang menimpa bangsa Indonesia waktu itu.

***

KIRANYA buku biografi ini layak untuk dijadikan bacaan. Tidak hanya bagi mahasiswa yang menjadi salah satu dari the effective opposition guna menjalankan dinamika sosial politik suatu bangsa, melainkan juga bagi para pemerhati sejarah Indonesia. Mengapa? Tidak lain adalah karena minimnya anak zaman seperti Soe Hok-gie yang dimiliki Indonesia.

Secara etnis ia bukan pribumi; tetapi secara jiwa, raga, dan nurani, Soe Hok-gie barangkali lebih meng-Indonesia daripada orang Indonesia sendiri (baca: pribumi). Kejujuran, tulisan-tulisan, dan kedukaannya, bahkan kematiannya di Gunung Semeru (16 Desember 1969) akibat gas beracun, mungkin tidak berarti banyak bagi bangsa Indonesia yang harus terus maju menentang badai.

riwayat hidup soe hok gie

Sosok Soe Hok Gie sendiri dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu Yi dalam bahasa Mandarin (dialek Pinyin). Anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, ini sejak kecil amat suka membaca, mengarang dan memelihara binatang. Keluarga sederhana itu tinggal di bilangan Kebon Jeruk, di suatu rumah sederhana di pojokan jalan, bertetangga dengan rumah orang tua Teguh Karya. Saudara laki-laki satu-satunya Soe Hok Djien yang kini kita kenal sebagai Arief Budiman, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal sebagai seorang akademisi, sosiolog, pengamat politik dan ketatanegaraan yang kini bermukim di Australia. Sejak SMP, ia menulis buku catatan harian, termasuk surat-menyurat dengan kawan dekatnya.
Semakin besar, ia semakin berani menghadapi ketidakadilan, termasuk melawan tindakan semena-mena sang guru. Sekali waktu, Gie pernah berdebat dengan guru SMP-nya. Tentu saja guru itu naik pitam. Di dalam catatan hariannya yang kemudian dibukukan dalam Catatan seorang Demonstran, ia menulis: “Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.” Begitu tulis anak muda yang sampai hari ajalnya, tetap tak bisa mengendarai sepeda motor, apalagi mobil. Tulisnya lagi: “Gue cuma bisa naik sepeda, juga pandai nggenjot becak.”

Sikap kritisnya semakin tumbuh ketika dia mulai berani mengungkit kemapanan. Misalnya, saat dirinya menjelang remaja, Gie menyaksikan seorang pengemis sedang makan kulit buah mangga. Dia pun merogoh saku, lalu memberikan uangnya yang cuma Rp 2,50 kepada pengemis itu. Di catatannya ia menulis: “Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, ‘paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu orang-orang malang.”

Gie melewatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Tahun 1962-1969 ia melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan ilmu sejarah. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rezim Orde Baru. Ketika keadaan perekonomian di tanah air semakin tidak terkendali sebagai akibat adanya depresi perekonomian pada sekitar dekade enam puluhan yang mengakibatkan kemudian pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan seperti pemotongan nilai mata uang (Sanering) yang menurut Gie hal ini akan semakin mempersulit kehidupan rakyat Indonesia .Ia kemudian masuk organisasi Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSOS). Sementara keadaan ekonomi makin kacau. Gie resah. Dia mencatat: “Kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos. Lebih baik mahasiswa yang bergerak.” Maka lahirlah sang demonstran.

Mulai saat itulah hari-hari Gie diisi dengan berbagai aktivitas di dalam dunia pergerakan seperti rapat-rapat, demonstrasi, aksi pasang memasang ribuan selebaran propaganda, sampai dengan ancaman teror serta cacian dari penguasa karena aktivitas pergerakannya menjadi suatu hal yang lumrah bagi Gie, “Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini, menyadari bahwa mereka adalah the happy selected few yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya. Dan kepada rakyat aku ingin tunjukkan, bahwa mereka dapat mengharapkan perbaikan-perbaikan dari keadaan dengan menyatukan diri di bawah pimpinan patriot-patriot universitas,” begitu tulisnya. Tahun 1966 ketika mahasiswa tumpah ke jalan melakonkan Aksi Tritura, Gie kemudian menggabungkan diri di dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ia termasuk di barisan paling depan.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Seperti yang telah diceritakan diatas, Gie adalah juga salah seorang tokoh kunci terjadinya aliansi mahasiswa-militer pada tahun 1966. Gie sendiri dalam buku Catatan Seorang Demonstran, menulis soal aktivitas gerakannya tersebut: “Malam itu aku tidur di Fakultas Psikologi. Aku lelah sekali. Lusa Lebaran dan tahun yang lama akan segera berlalu. Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup.” Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia. Batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran. Tertulis di akhir kalimatnya, Jakarta, 25 Januari 1966.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442 m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya: “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.”

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Soe Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Beberapa tulisannya benar-benar tajam dan menohok pemerintah kala itu, sehingga seringkali ia mendapat ancaman dari berbagai pihak. Salah satu tulisannya yang terkenal adalah “Betapa Tak Menariknya Pemerintah Sekarang”, yang pernah dimuat di harian Kompas, 16 Juli 1969

Dalam tulisannya, aktivis gerakan mahasiswa 1966 ini menyoroti kinerja kabinet di bawah Presiden Soeharto. Gie melihat adanya kesenjangan antara persepsi masyarakat luas dengan kinerja pemerintahan Soeharto saat itu.

Menlu Adam Malik yang bolak-balik ke luar negeri dipersepsikan masyarakat sebagai usaha untuk mendapat utang-utang baru dari negara donor. “Nama Adam Malik dapat diganti dengan nama Emil Salim, Widjojo Nitisastro, Presiden Soeharto dan seterusnya. Seolah-olah seluruh usaha diplomasi kita adalah diplomasi cari utang untuk kelangsungan hidup repulik kita yang sudah 24 tahun usianya,” tulis Gie.

Gie –saat itu– menganggap pemerintah Soeharto yang baru dibentuk merupakan antitesis dari pemerintah Soekarno yang korup dan tidak berpijak pada realitas. Pemerintah Soekarno dan pemerintah Soeharto memiliki cita-cita yang sama besarnya dalam menyejahterakan masyarakat. Namun caranya berbeda. Dan di sinilah subjektivitas Hok Gie muncul. “Jauh lebih mudah membuat sebuah monumen dengan emas di puncaknya daripada membuat dan memperbaiki 1000 kilometer jalan raya,” katanya menyinggung proyek Monumen Nasional yang dibangun di jaman Presiden Soekarno.

Adik Arief Budiman ini juga melihat mispersepsi masyarakat terhadap kinerja kabinet muncul karena tidak adanya partisipasi sosial dan mobilisasi sosial yang dilakukan pemerintah. “Usaha Adam Malik dan kawan-kawan mencari kredit baru, menunda pembayaran utang-utang adalah bagian permulaan daripada usaha besar. Tetapi apakah pemuda-pemuda lulusan SMP di Wonosobo menyadari soal ini?”

Pemerintah yang pragmatis dan kegagalan komunikasi yang dimengerti masyarakat umum pada akhirnya gagal menimbulkan gairah dan sokongan kerja masyarakat. Masyarakat dijejali istilah rule of law, human rights, tertib hukum dari Ketua Mahkamah Agung, Jaksa Agung dan bahkan Presiden Soeharto. Namun di lain pihak, setiap hari mereka mendengar oknum militer yang menampar rakyat, anak-anak penggede yang ngebut serta penyelundupan yang dilindungi.

Gie pernah berkata pada Arief, kakaknya, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Gie menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia, antara lain, “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu Gie sering gelisah dan berkata, “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang”. Terhadap ibunya dia cuma tersenyum dan berkata, “Ah, mama tidak mengerti”.

Kemudian, Gie juga pernah jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orang tuanya tidak setuju — mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orang tua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada Arief, Gie berkata, “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si ***, saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”. Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada Arief. Arief menuturkan, “Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.”

Gie, berdasarkan kedudukannya dapat disetarakan dengan tentara yang kembali dari medan perang. Ia dipuji dan dielu-elukan rakyat, namun ketika sang tentara hendak mencari pasangan hidup, tentu orang tua sang wanita tak akan rela menyerahkan anak gadisnya untuk dinikahi sang tentara. Kenapa begitu? Biarpun yang ia lakukan itu benar dan berjasa besar, namun tindakannya terlaku berbahaya dan beresiko.

“…Kelompok yang berjaga-jaga mulai keluar dengan berpakaian serba hitam dan bersenjatakan pedang, pisau, pentungan dan bahkan senjata api. Rumah-rumah penduduk yang diduga sebagai anggota PKI dibakar sebagai bagian pemanasan (warming up) bagi dilancarkannya tindakan-tindakan yang lebih kejam. Kemudian pembantaian pun terjadi dimana-mana…” Tulis Gie dalam buku hariannya.

Gie adalah salah satu tokoh yang sangat menyoroti tragedi G30/S/PKI, tragedy yang sangat memilukan dalam sejarah kelam Bangsa Indonesia. Tapi tidak demikian halnya dengan pengungkapan reaksi balik yang tidak kalah biadabnya dari gerakan 30 September 1965 yang menimpa orang dituduh anggota dan simpatisan PKI. Pembantaian, pemberangusan, penghilangan lawan politik yang sungguh biadab dan diluar batas nilai-nilai kemanusiaan.

Cerita pembantaian massa PKI Bali ditulis oleh Robert Cribb, Soe Hok Gie serta tambahan laporan dari Pusat Studi Pedesaan Universitas Gajah Mada yang dicatat dari pemberitaan harian Suara Indonesia yang terbit di Denpasar. Juga ada dokumen dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat tentang penumpasan G30S/PKI di Bali. Cribb dan Gie mengawali catatannya untuk menggambarakan bagaimana brutal dan sadisnya pembantaian PKI di Bali.

Komandan RPKAD, Sarwo Edhi, yang pasukannya tiba pada akhir Desember 1965, dilaporkan pernah berkata, “Di Jawa kami harus menghasut penduduk untuk membantai orang-orang komunis. Di Bali kami harus menahan mereka, untuk memastikan bahwa mereka tidak bertindak terlalu jauh.”

Situasi di Bali dalam catatan Soe Hok Gie memang agak terlamabat menerima komando untuk melakukan pembantaian. Elite-elite politik di Bali lama mengamati pertarungan yang terjadi di Jakarta dan menunggu siapa yang keluar sebagai pemenang. Banyak para keluarga di Bali yang kehilangan anggota keluarganya dalam Tragedi 65 melakukan ritual ini untuk menutup rapat tragedi menyedihkan tersebut.

Ada sebuah catatan kecil dari pemikiran Soe Hok Gie tentang konsep kebudayaan yang ada di buku hariannya ketika ia sedang berdiskusi dengan Ong Hok Ham yang dicatatnya pada tanggal 31 Desember 1962. Di sana dia menulis, ”Lihat di Irian Barat, telanjang, bercawat, tidak ada kebudayaan.”

Nampaknya waktu itu Soe Hok Gie masih terpengaruh ide yang berpendapat bahwa hal-hal yang masih primitif itu adalah hal-hal yang belum mengenal atau tersentuh oleh kebudayaan. Konsep yang sudah ketinggalan jaman pada waktu itu sebenarnya. Semoga saja pendapatnya ini berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676 meter. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya: “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Dalam suasana yang seperti inilah Gie meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.

8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”

Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut. Gie tewas bersama rekannya, Idhan Lubis. Tanggal 16 Desember 1969, Soe Hok Gie yang berencana merayakan ulang tahunnya di puncak Mahameru menghembuskan nafasnya yang terakhir karena terjebak gas beracun.

24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Soe Hok Gie, Demonstran yang Teguh dalam Prinsip


Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin. Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, RRT.
Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).
Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.
Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Pemuda Kritis
Sejak SMP, Hok Gie menulis buku catatan harian, termasuk surat- menyurat dengan kawan dekatnya. Semakin besar, ia makin berani menghadapi ketidakadilan, termasuk melawan tindakan semena-mena sang guru. Sekali waktu, Soe pernah berdebat dengan guru SMP-nya. Tentu saja guru itu naik pitam.
Dalam catatan hariannya, ia menulis: Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau. Begitu tulis anak muda yang sampai hari ajalnya, tetap tak bisa mengendarai sepeda motor, apalagi nyupir mobil. "Gue cuma bisa naik sepeda, juga pandai nggenjot becak."
Sikap kritisnya semakin tumbuh ketika dia mulai berani mengungkit kemapanan. Misalnya, saat dirinya menjelang remaja, Soe menyaksikan seorang pengemis sedang makan kulit buah mangga. Dia pun merogoh saku, lalu memberikan uangnya yang cuma Rp 2,50 kepada pengemis itu. Di catatannya ia menulis: Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, 'paduka' kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu orang-orang malang.
Bacaan dan pelajaran yang diterimanya membentuk Soe menjadi pemuda yang percaya bahwa hakikat hidup adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dan dapat merasai kedukaan itu.
Catatan Seorang Demonstran
Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).
Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.
Tahun 1966 ketika mahasiswa tumpah ke jalan melakonkan Aksi Tritura, ia termasuk di barisan paling depan. Konon, Soe juga salah seorang tokoh kunci terjadinya aliansi mahasiswa-ABRI pada 1966.
Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.
John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).
Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film yang disutradarai Riri Riza, Gie, dengan Nicholas Saputra berperan sebagai Hok Gie.

soe hok gie

Soe Hok Gie

soe hok gie dipuncak pangrango

Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.

“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran”, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.

Kasih batu dan cemara

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.“Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.

Mengapa naik gunung

Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.”Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren enggak?” Tanyanya.Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya. Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya”, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!
Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.
Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.

Monyet tua yang dikurung

Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….” Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil”, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti”.Arief pun menulis kenangannya lagi: … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, “Gie kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.

Mimpi seorang mahasiswa tua

John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus: …Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut: … Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis, … Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini: Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan: … Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis: … Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa”. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru. Berpolitik cuma sementaraJohn Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, “Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.” Demikian tulis Maxwell.Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung. Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folksong (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:Hari ini aku lihat kembaliWajah-wajah halus yang keras Yang berbicara tentang kemerdekaaan Dan demokrasi Dan bercita-cita Menggulingkan tiran Aku mengenali mereka yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator dan yang tanpa uang mau memberantas korupsi Kawan-kawan Kuberikan padamu cintaku Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

Mandalawangi-Pangrango

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang
manis di lembah Mendalawangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa.

soe hok gie

Sebuah Tanya

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
Di bawah ini ada sebuah puisi Gie yang kita tak tahu judulnya. kiranya ada yang tahu, sila lah berbagi info pada kami.

(Puisi Gie)

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”


Rabu, 18 Juni 2008

H@liMuN@N








Bima's Files thinker 1

VIVAT!!!

Kehidupan Politik Kampus Politik dapat diartikan sebagai alat untuk menjalankan kegiatan di mana pun. Dalam bentuk apapun kegiatannya, Negara, provinsi, kecamatan, kampus dan lain sebagainya. Dasar kehidupan kita yang paling tidak kita sadari ialah ilmu memimpin, mempengaruhi, menguasai dan strategi taktis dalam hidup. Apakah mungkin seorang camat terpilih dengan tangan kosong dan diam sambil duduk merokok dan minu kopi? Atau calon legislative yang kampanye dengan pidato tiap hari bisa terpilih menjadi anggota dewan? Jawabannya jelas tidak. Mereka melakukan apa yang dinamakan dinamika politik. Jika diibaratkan, kita mempunyai medan perang yang harus ditaklukkan. Dan senjata kita bermacam – macam. Tinggal kita pilih saja, yang efektif, mematikan, pelan tapi pasti atau apapunlah. Itu pilihan pribadi, karena dalam hidup seua orang memang pasti dihadapkan kepada pilihan. Nah, dasar apakah yang menentukan pilihan? Salah satunya adalah dengan idealisme yang kuat. Dasar pemikiran, dasar yang menjadi acuan kita untuk berbuat. Namun permasalahannya, apakah ideologi yang kita pilih sesuai dengan hakekat manusia sebagai makhluk social, makhluk bagian alam dan hamba ciptaan tuhan. Pertanyaan ini sering muncul di otak pemikir – pemikir besar kita. Gandhi, berkata “nasionalismeku adalah kemanusiaan”. Tersirat di situ sebagai orang sosialis Ghandi yang sangat mencintai, memahami dan mendalami tanah air sebagai apa yang harus ia perjuangkan sampai akhir hayatnya. Dasar inilah membuat aspek politik mengental dalam masyarakat. hanya orang tertentu saja yang sadar akan keadaan ini. Yang paling peka dan jernih pemikirannya adalah mahasiswa. Kampus sebagai domain pemikiran, hendaknya memberikan sumbangan edukatif mengenai wawasan politik. Saling mendengar pendapat, menelaah suatu masalah kemudian mengintepretasikannya. Kehidupan di kampus tanpa poltik adalah bull shit. Tak ada kampus yang tidak sama sekali melakukan aktifitas poltik. Jika hal ini terjadi maka kampus itu tidak sehat. Tidak sehat di sini, bisa dkategorikan menjadi dua, yaitu secara fisik, entah kampus itu tidak memiliki fasilitas atau tempat yang layak, dn yang kedua sakit secara otak. Yang kedua inilah yang paling parah. Sebab pihak mahasiswa dan rektorat tidak memiliki –atau sengaja- kesadaran untuk menumbuhkan sikap kebangsaaan dengan dasar pancasila. Politik saat ini diidentikkan dengan aksi, demonstrasi dan mogok. Padahal kebanyakan kegiatan politik membuat kampus menjadi sehat. Mahasiswa dihadapkan pada dinamika jaman yang begitu kompleks dengan permasalahan multi dimensi dan global. Jadi mahasiswa bukan hanya jadi korban, tapi harus menjadi pelaku sekaligus praktisi politik. Mahasiswa menjadi pemikir yang siap terjun ke masyarakat dengan bekal yang kuat. Ideology yang tertanam untuk membuat tatanan masyarakat yang adil makmur sejahtera dapat terwujud nyata. Bukan hanya angan yang memberi angina lalu, tapi ombak yang menghempas lautan. Politik memiliki kebebasan bagi tiap manusia. Seperti kasus pemilihan ideology, paham yang berkembang dalam kampus jangan dipandang sebagai suatu hal yang janggal. Semua itu harus ditelaah dahulu. Untuk selanjutnya melihat perkembangannya. Sebab sesungguhnya orang yang yang tidak mau menerima hal baru adalah orang yang kuno, otoriter dan feodal. Jangan bilang bahwa peristiwa 30S adalah penghianatan PKI sebelum membaca dokumen CIA dan Cornell’s Paper. Jangan bilang Soeharto bapak pembangunan sebelum menghitung hutang Indonesia. Semua itu memiliki akar simpul panjang. Berpikiran sempit bukanlah pribadi mahasiswa. Mahasiswa hruslah berpikiran panjang, terbuka, luas, jernih dan jujur. Jangan kita membohongi diri kita sendiri. Jika paradigma demokrasi tertanam dalam jiwa muda mahasiswa, saya yakin 10 – 15 tahun lagi Indonesia akan memiliki pemimpin – pemimpin baru dengan semangat kebangsaan tinggi. Akan lahir Hugo Chaves – Hugo Chaves baru, akan lahir Ahmadinejad Indonesia baru dan akan lahir Soekarno – Soekarno kecil. Dalam pidatonya, Bung Karno pernah berkata, kemerdekaan adalah jembatan emas Indonesia untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur di masa yang akan datang. Dan siapakah pelakunya? Ya, mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa jeli melihat ketidak beresan di sekitarnya, mahasiswa tanggap dengan lingkungannya dan mahasisw tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan kehidupan kampus yang demokratis hal itu bisa terwujud nyata. Bagaimanakah perwujudan demokratis itu? Kembali pada prinsip sosio demokratis. Yaitu kesamaan dalam memilih jalan pemikiran dan ideology secara bebas bertangung jawab. Mahasiswa menjadi centre di tiap perdebatan intelektual. Perlunya kaum akademisi muda yang mampu menjawab tantangan demokratis. Terkikisnya demokrasi sudah menjadi kasus umum dalam kehodupan kita sehari – harinya. Mengapa kita tak dapat berpikir sehat ke arah itu. Jawaban itu bisa ditemukan saat kita mendapatkan pemikiran – pemikiran saat melaksanakan studi. Demokrasi, politik, kebebasan tak dapat lepas satu sama lain. Kampus harus menjadi basis ini semua. Sebab, jika mahasiswa saja tidak mengerti ini, bagaimana nantinya masyarakat kita? Bagaiman Indonesia 50 tahun ke depan. Perubahan kecil akan melahirkan revolusi besar, dan revolusi akan melahirkan transformasi yang menyeluruh. Kita lihat apakah nantinya kita dapat memahami pentingnya politik dalam kampus.
BOLA MANIA INI DIA THE BLUES "CHELSEA"

AKU TAK TAHU SEJAK KAPAN AKU BEGITU TERTARIK DENGAN PERMAINAN SEPAK BOLA. TAPI KENYATAANNYA SESUATU YANG AKU BENCI KINI JUSTRU MENJADI FAVORITKU. ENTAH, MUNGKIN INILAH KARMAKU.





LAMBANG KEBANGGAAN




CREATED BY UPHIE, I HOPE U LIKE IT
Dibalik kerinduan hati


Makassar, 21 Agustus 2006

friends …………………….

Aku tak tahu mengapa ini menimpa keluarga kami, apakah ini merupakan ujian dari Tuhan ? tapi sungguh ini terlalu berat baik untukku maupun keluargaku. Terkadang aku merasa ini hanya mimpi namun jika aku melihat kuburan itu dan jika aku memanggilmu tak sedikit pun engkau menjawabku. Sungguh aku betul-betul kehilanganmu, andaikan bisa terulang kembali, aku ingin mengulang masa-masa bersamamu. Tak pernah terpikir olehku akan ditinggalkan seperti ini, entah sampai kapan maupun sampai berpuluh-puluh tahun kenangan bersamamu takkan terlupakan.


Sekarang aku sendiri, tiada lagi kakak sekaligus teman yang dapat menemaniku saat aku senang, sedih, dan susah, tidak ada lagi yang menunggu kepulanganku, tidak ada lagi yang dapat aku tunggu. Ingin rasanya aku berteriak


tuti……… …………………………………………………………………


namun sekeras apapun aku memanggilmu engkau tetap tidak menjawab ku
I Believe My HEART…………………………..!!!!!
I believe My heart, mungkin sebuah ungkapan yang sangat sederhana, namun demikian mengandung sebuah energi yang luar biasa untuk semakin menguatkan motivku dan menguatkan rasa percaya diriku, bahwa segala keputusan yang lahir dari bibirku yang sama sekali tidak sensual, adalah sebuah sabda yang tidak akan mungkin ditarik kembali, termasuk………………… Menyukaimu!!!

Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu,cukup indahkah dirimu untuk selalu kunantikan……(Sheila on 7(seberapa pantas)…
Hal inikah yang menjadi keluhanmu, beban fikiranmu, mengisi ruang – ruang hibernasimu, yang dapat membuatmu bermeditasi dalam kebingungan……???
Oh tidakkk!!! Don’t have told it…..its dehumanisasi
Manusia siapapun itu, bagaimanapun dia, dan seperti apapun itu, di depan TUHAN sama….bahkan mungkin derajat kemiskinan dan ketertindasan lebih mulia di hadapanNya…
Kamu akan membuatku merasa bersalah sekali, dan membuatku berfikiran, mungkin akulah sebenarnya yang tidak pantas untukmu…

Makassar 30 november 2005

With song, i believe my heart,antara aku kau dan bekas pacarmu(bang iwan fals), hebat(tangga).
Buah karya terindah, kenangan bersama almarhumah
Salam pembebasan kawan bagi yang merasa kawan di sudut koridor, di bawah pohon, sedang berdiskusi ditempat parkir, kawan yang sedang menikmati secangkir kopi di Mace-mace.

Disebuah desa hiduplah keluarga yang sangat miskin . Setiap hari kerjanya hanya mencari kayu bakar di hutan . Hai kawan semua pilihlah saya untuk membawa saudara-saudara kegerbang impian yaitu pencapaian sebagai manusia yang seutuhnya baik lahiriah maupun batiniah. Cita-cita ini akan dapat terwujud bila saudara-saudara membantu saya .


Hari kemarin adalah kenangan , hari ini adalah kenyataan, hari esok adalah tantangan maka hadapilah dengan ketegaran hati. Yakinlah bahwa kau adalah yang terbaik karena keyakinan akan sesuatu adalah suatu kebenaran. Bangkitlah demi asa yang tertunda dan kau akan dapatkan kunci gerbang impian.Hatiku tak mampu menolak ketika ia datang memasuki ruang sempit dalam kalbuku. Kuingin ini hanya sebuah bunga tidur yang datang namun tak berarti, namun mengapa ia terasa semakin nyata dan tak mampu untuk kuhapus. Kuakui aku munafik bila tak mengakui kalau rasa itu sebenarnya ada dan kurasa.

Cinta sejati akan teruji oleh putaran waktu dan rentangan jarak yang memisahkan kita. Perasaan sekalipun takkan pernah didustai oleh cinta sejati. Bila kita merasakan mengapa mesti mengingkari apa yang telah dirasakan. Maka bersatulah atas nama cinta dan cinta akan menjadi suatu kesempurnaan.

Ada tirani yang membelenggu kuasamu, ada asa yang ingin terwujud sebuah kunci pintu belenggu


Alm.Tuty sweet
Jangan panggil aku mahasiswa (sebuah roh pengkaderan)

Hari ini kondisi kekinian yang semakin memprihatinkan, buruh di PHK dan dilgitimasi dengan UU Perburuhan, Petani dirampas tanahnya dan dilegitimasi dengan UU Pertanahan, kaum miskin kota, digusur dilegitimasi dengan UU perampasan tanah, dan mahasiswa yang saat ini sedang meringis ketakutan menunggu datangnya UU BHP yang melegitimasi kenaikan SPP dan swastanisasi kampus, dan mahasiswa hanya bisa DIAM, dan melakukan perlawanan – perlawanan kecil, yang dianggap tidak berarti apa – apa oleh Birokrasi kampus, hal ini disebabkan karena mahasiswa, bahkan hingga saat ini terjebak dalam tembok – tembok elitisme, ekslusivisme dan arogansi keilmuannya, beronani intelektual hingga mulutnya berbusa, dan tidak mau menyatu, bahu membahu dengan massa rakyat yang mempunyai pola kasus yang sama, untuk melawan neoliberalisme (penjajahan gaya baru secara ekonomi politik), terhadap negara,


Nah, pengkaderan sebagai sebuah metode doktrinas dan sekaligus ruang demokrasi yang masih disediakan oleh birokrasi kampus, dimana mau tidak mau akan mempengaruhi kesadaran mahsiswa baru sebab pengkaderan tidak ada yang objektif,(klaim kebenaran ada pada sang pengkader). Merupakan momentum yang tepat untuk menyuntikkan, tidak hanya nilai moral, akademik, tetapi juga semagat juang (militansi) perlawanan terhadap ketidak dilan, mahasiswa harus sadar bahwa saat ini mereka sedang terhegemoni(lupa bahwa mereka sedang dipersiapkan untuk semakin memperpanjang barisan pengangguran).

Kenapa ruh pengkaderan, ”JANGAN PANGGIL AKU MAHASISWA, CUKUP SUDAH JADI BANGSA KULI BANGKIT JADI BANGSA MANDIRI”, tidak lain adalah upaya untuk menanamkan nilai nilai tersebut diatas (Moral, Akademik dan militansi juang). Bukan bermaksud merendahkan diri kita sebagai mahasiswa, atau mejatuhkan martabat dan reputasi kita(bagi kita yang masih selalu mau dianggap...), tetapi tidak lain hanyalah sebuah bentuk pencerahan, bahwa kita tak bisa berjuang sendiri, kita harus bersatu dengan masyarakat yang punya kepentingan sama, bahwa mahasiswa harus punya kepekaan dan tanggung jawab sosial, dan belajar dari sejarah, bahwa kegagalan gerakan mahsiswa tidak lain adalah karena tidak bersatu dengan massa rakyat tertindas.
MY POEM
SAJAK SUARA
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
POTRET MANUSIA

WIJI TUKUL SANG LEGENDARIS PUISI

Peringatan (setelah direvisi)jika rakyat pergi

ketika penguasa pidato

kita harus hati-hati

barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi

dan berbisik-bisik

ketika membicarakan masalahnya sendiri

penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh

itu artinya sudah gawat

dan bila omongan penguasa

tidak boleh dibantah

kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!



Solo, 1986
SELINTAS ABOUT WIDJI TUKUL
Wiji Thukul,





seorang anak muda yang menurut Arief Budiman (1994) mirip pedagang asongan, mengambil jalan lain.


Ia menulis puisi yang bisa dimengerti oleh teman-temannya sendiri, menulis tentang kenyataan hidupnya sendiri.




Ia pun membacakan puisinya ke kampung-kampung hingga ke kampus-kampus di dalam dan luar negeri. Dan, akhirnya kita lihat bahwa di tangan penyair, fakta sosial bisa menjadi kekuatan yang sangat luar biasa.


Jika Udin membongkar fakta money politics Bupati Bantul, Yogyakarta, dengan kepekaan jurnalistiknya, jika Munir lantang menyuarakan anti-kekerasan dengan kepekaan kemanusiaannya, Wiji Thukul mengungkap fakta ketimpangan sosial dengan kepekaan kepenyairannya. Ketiganya sama-sama mengungkap fakta, sama berartinya bagi kemanusiaan, dan ketiganya sama-sama dilenyapkan. Sekali berarti, sudah itu mati, kata Chairil Anwar.


Namun, kata-kata sang penyair seperti memiliki sejarah hidup yang berbeda dengan penyairnya.



HANYA ADA SATU KATA: LAWAN!.
JAKER | Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat








Ki Suhardi











Kuncoro Adi Broto












'Lukisan Perca' Karya Irma Haryadi

Lukisan ini dibuat dengan menggunakan materi limbah sisa-sisa tekstil atau perca kain. Mirip dengan kolase namun lukisan jenis ini dapat lebih bervariasi dengan eksperimen penggunaan tekstur-tekstur tekstil yang paling halus termasuk cacahan tekstil atau serpihan-serpihan benang untuk menghasilkan objek dan warna yang diinginkan. Potongan-potongan kain menyatu sedemikian rupa, hingga bisa jadi materi pewarna yang agak sulit dikenali sebagai limbah sisa-sisa tekstil yang merupakan bahan baku asal. Sebagian masyarakat Indonesia mungkin telah mengenal lukisan ini yang dipopulerkan oleh Bpk. Didit Susanto sebagai tokoh yang telah berhasil mematenkan teknik lukisan tersebut dengan nama Lukisan Gombal.

Menariknya ada beberapa segi sebagai kelebihan lukisan dengan materi pewarna perca kain ini dibandingkan dengan lukisan yang menggunakan media konvensional lainnya. Beberapa kelebihan tersebut diantaranya adalah :

1.Ramah Lingkungan
Pembuatan lukisan menggunakan materi pewarna dari limbah sisai-sisa kain sehingga melalui proses daur ulang pemakaiannya telah mengurangi sampah atau pengotoran lingkungan

2.Ramah Kesehatan
Tidak seperti halnya cat konvensional yang kental bau kimiawinya, bahan baku lukisan ini tidak mengeluarkan bau menyengat, demikian pula tidak menimbulkan sisa-sisa cairan yang menghasilkan polutan lingkungan

3.Praktis dan fleksibel dalam pembuatan
Pembuatan lukisan dengan menggunakan limbah sisa-sisa tekstil tidak membutuhkan perlengkapan yang bermacam-macam sehingga dapat dilakukan di manapun dan relatif mudah dibersihkan. Limbah perca relatif mudah diperoleh sehingga baik di desa atau di daerah-daerah terpencil yang tidak ada toko tempat penjualan perlengkapan senirupa, lukisan tetap dapat dibuat.

4.Pigmentasi warna prima
Kualitas warna pada kain terbukti kuat dan pemakaiannya sebagai media lukis mempunyai karakter yang tidak dimiliki oleh cat konvensional pada umumnya.

5.Berbahan baku sangat murah
Penggunaan limbah sisa-sisa tekstil sebagai media lukis dapat mengurangi konsumerisme terhadap cat-cat lukis yang sebagian besar masih diimpor dari luar negeri.

6.Penambahan nilai ekonomis yang tinggi
Melaui proses daur ulang, limbah kain atau sisa-sisa perca yang tidak memiliki nilai ekonomis dapat diubah menjadi karya estetika yang memiliki nilai jual yang luar biasa. Selama ini sisa-sisa kain digunakan sebagai bahan pendukung produksi kerajinan seperti quilting atau penambah isi jok meubeler namun ini tidak menghasilkan nilai ekonomis yang maksimum.

7.Perawatan lukisan yang mudah
Bilamana diperlukan lukisan perca dapat dicuci dengan air biasa dan sabun setiap jangka waktu sepuluh tahun. Lukisan disikat lembut dan setelah dikeringkan dicoating lagi dengan liquid adhesive/ lem kertas transparan.

8.Daya tahan kuat
Kualitas lukisan perca dapat menjadi benda cagar budaya karena mempunyai daya tahan yang kuat dan tidak memerlukan perlakuan yang khusus sebagaimana dilakukan terhadap lukisan bermedia lain untuk jangka waktu yang lama.

9.Dapat dipindahkan ke media yang berbeda (Removable)
Keistimewaan lainnya dari lukisan dengan bahan perca yakni dapat dipindahkan ke media lain dengan jenis bahan yang sama (misal kain kanvas) atau jenis bahan yang lainnya.

10.Penciptaan lapangan kerja dan komoditas perdagangan
Dengan berbagai kelebihan sebagaimana tersebut di atas penyebarluasan keahlian atau keterampilan dalam pembuatan karya lukisan perca dapat menciptakan lapangan kerja baru untuk berbagai kalangan atau latar belakang pendidikan maupun status sosial. Karya-karya yang dihasilkan dapat berpotensi menjadi komoditas-komoditas perdagangan yang dapat disukai masyarakat luas.








Tentang Pelukis

Karya lukisan ini dibuat oleh Irma Haryadi. Pelukis mulai mengenal karya lukis dengan menggunakan kain perca sebagai media pewarna dari Bpk. Didit Susanto pada tahun 2004 di Museum Tekstil. Baru sejak Juni 2007, mulai intensif menekuni untuk terus berkarya serius dalam menghasilkan karya-karya lukis perca yang memiliki berbagai kelebihan atau keistimewaan bagi dirinya. Lahir di Grobogan Jawa Tengah, 9 Desember 1966, saat ini pelukis bertempat tinggal di Jl. Mampang Tendean Gg. Raden Saleh, Jakarta Selatan. Pada saat ini jika terdapat pemasukan dari penjualan hasil karya lukisan dalam jumlah yang memadai, pelukis bermaksud mendedikasikan sebagian dari jumlah tersebut untuk pengembangan atau pendirian workshop dengan tujuan :

1.Pembinaan generasi muda bagi penciptaan lapangan kerja dan keterampilan yang berguna untuk peningkatan kesejahteraan

2.Pemanfaatan limbah tekstil non ekonomis bagi pemeliharaan atau pelestarian lingkungan
Of Rubber Shoes And The Saddest Baby - Lin Acacio Flores, Illustrated by JOMIKE TEJIDO



















'Si Burad' Karya Joey Stanley


















'MELAWAN Atau MISKIN' Karya: Joey Stanley

























Kumpulan Sajak KLARA AKUSTIA - Rangsang Detik
A.S. Dharta (lahir di Cibeber, Cianjur, 7 Maret 1924, meninggal di Cibeber, Cianjur, 7 Februari 2007) adalah sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya Adi Sidharta, tetapi biasa disingkat A.S. Dharta. Yang sering dipakai adalah Klara Akustia. Lainnya: Kelana Asmara, Jogaswara, Rodji, Barmara Poetra, dan masih banyak lagi.

Perjuangan
Jiwanya bergejolak sejak menjadi anak angkat Okayaman, salah seorang tokoh pergerakan yang dibuang ke Boven Digul. Dan makin dimatangkan di sekolah Nationaal Handele Lallegiun (NHL) di bawah didikan Douwes Dekker. Di masa revolusi, dia bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31, keluar-masuk hutan, bergerak dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran lain. Di Menteng 31 inilah dia mulai mengenal Soekarno, sejumlah tokoh politik, dan juga seniman-seniman.


Dia pernah menjadi wartawan Harian Boeroeh di Yogyakarta. Dia memimpin serikat buruh: Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, Serikat Buruh Pelabuhan, termasuk di lembaga induknya, Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Lalu dimatangkan lewat International Union of Students (IUS), World Federation of Democratic Youth, dan World Federation of Trade Unions, yang membuatnya berkeliling ke sejumlah negara bekas-bekas kolonialisme.


Bersama M.S. Azhar dan Njoto, A.S. Dharta mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950 dan menjadi sekretaris jenderal (Sekjen) pertamanya. A.S. Dharta masuk penjara di Kebonwaru, Bandung tahun 1965-1978.


Puisi, esai, kritik sastra, dan catatan perjalanannya tercecer di sejumlah media dalam dan luar negeri, serta masuk dalam antologi bersama.


Dia juga berkolaborasi dengan Amir Pasaribu, yang tahun 2006 menerima penghargaan Akademi Jakarta untuk bidang musik, menghasilkan antara lain lagu "Irama Mei".


Karya:


* Saidjah dan Adinda (naskah drama, adaptasi novel karya Multatuli yang diterjemahkah Bakri Siregar)
* Rangsang Detik (kumpulan sajak, 1957)


Hati dan Otak Kita

hati dan otak kita
ada dimana-mana
di lima benua di lima samudera

hati dan otak kita
menjalar di tubuh hidup
menembus batu dan beton
mendobrak besi dan baja
menyikat segala baksil terror massa


hati dan otak kita
makin bangkit badai mengancam
makin kuat makin dahsyat
alamat kiamat bagi nafsu
yang mempertahankan neraka atas dunia.


hai, kawan-kawan yang masih tidur
tinggalkan mimpi 40 bidadari


lepaskan hidup setengah mampus
dan mari hidup, mari hidup
di lima benua di lima samudera


hati dan otak kita
meluaskan kasih dan cinta
merata bagi semua.



Jalan Terus


kata Suurhoff*:
bung, jangan main-main politik
siapa berpolitik dia komunis
siapa komunis dia pengacau
bandit, perampok bajingan tengik.


kata POB:
bung, jangan masuk SOBSI
mari kita elus-elus sama majikan
senyum-senyum damai-damai
mogok itu jahat
siapa mogok dia komunis.


kata Amat buruh harian:
gua gak ngerti minis-minisan
gua gak doyan damai-kaburan
gua gak demen terror harga
imperialis jahat habis perkara!


aku Amat, dulu sampi perahan
sekarang merdeka, kata bung Karno
gua minta merdeka dari penjajahan
sepiring nasi.
_____________
* salah seorang pemimpin buruh negeri Belanda yang anti buruh berpolitik.



Nyanyian Buruh Angkutan


Kepada fusi buruh transport


aku Amat buruh angkutan
aku mogok dijalan-jalan kota jakarta.
bersama Chang dari Shanghai
Pierre-Paris dan Joe-London
kita bikin mampus lalulintas
kita raja mobil, kereta api, kapal dan udara
kita bikin botak direktur-direktur.


kita jutaan Amat di seluruh dunia
sudah tahu arti bersatu
kagak doyan lagi terror harga
mogok!, keramaian kota
kita jadikan sunyi kuburan.


aku Amat buruh jakarta
dulu buta huruf buta segala
kini pahlawan, jadi pahlawan
bikinan penindasan imperialis
Aku Triompator Hari Esok!



Teruskan…


In memoriam kawan-kawan Ngalihan


jeruji besi itu cair ditembus
pancaran kilat matamu
teruskan, Generasi Baru, teruskan…


dan kamipun tidak ragu berani menatap
sorotan matamu. Dalam jiwa gemuruh api
darah muda ini bernyanyi lagu
maju terus, maju terus
bekerja, berjuang, hidup mati untuk rakyat.


penjara dan makammu entah dimana, kawan
tidak membikin kami lemah
terkulai layu. Kami tahu engkau mati
di jalan juang tujuan kita bersama:
membebaskan manusia dari laparsengsara.


tersenyumlah kawan, senyum pahlawan
rela ikhlas menyerahkan segala
dan itu penjara siksa derita
hanya karangan melati engkau
taburkan dihati kami Generasi Baru.


dengarlah dengar… gegap gempita
kebangkitan massa menggempur penjara siksa
maju terus! kedunia rakyat kuasa.





Kepada Mao Tje-tung


Menyambut 1 Mei ‘51


matahari yang bersinar pagi ini
akan terkejut gembira melihat
gempita pesta kelas buruh dan perdamaian.


dan engkau yang pernah berjalan ribuan mil
lintasi gunung hutan dan sungai
dalam serangan peluru, lesu dan lapar
pagi ini engkau tak akan terkejut
engkau tahu: matahari reaksi segera tenggelam.


pagi ini engkau saksikan rakyat ketawa
dan pemuda-pemuda menyanyi menari yangko
dan akan kau dengar pula kumandang
suara kami bersatu lagu dengan bangsamu…
engkau tahu: matahari demokrasi makin gemilang.


engkau dan kami sama-sama punya jalan panjang
hianat, maut, siksa dan lapar…
dan kami juga tahu sebentar lagi
tiada batas dalam kebebasan rakyat
kita tahu: matahari kemenangan membunga atas dunia.


matahari yang bersinar di pagi Mei ini
bagimu dan bagi kami membawa nyanyian merdu:
“Serikat Internasionale Pasti di Dunia”



Barisan dan Bendera


kawan-kawan
ini barisan kita sudah banyak bolong-bolong
dan ini bendera sudah penuh koyak-koyak
ini barisan, barisan juang
dan bendera merah warna darah
bolong dan koyak adalah bintang.


kawan-kawan
detik ini kita kenangkan
prajurit yang telah gugur di pangkuan bumi
Digul, Madiun, Ngalihan, dimana-mana
Korea, Vietnam, Marokko, dimana-mana
prajurit barisan pembawa bendera kita


kawan-kawan
pada kita sudah tidak ada ampun lagi
terhadap mereka yang bikin kita bolong dan koyak
dan yang menjadikan neraka atas dunia…
barisan ini barisan kaum lapar
dan benderanya bendera merah darah rakyat.


kawan-kawan
barisan dan bendera ini
sekarang kita bawa ke perang penghabisan
dimana kita: tegakkan perdamaian kekal-adil
dimana kita nyanyikan gembira lepas bebas
bahagia sosialisme, bahagia dunia rakyat!



Senen-Kramat


malam di Senen-Kramat
dua dunia menusuk otak dan rasa.


tuan Parvenu hah-hah-ha mabuk bir
Amat becak hah-hah-ha menari doger
Bir dan doger
sama saja, bikin lupa sementara
dua dunia menusuk otak dan rasa.


Bir, jongos, bir, ayo minum
mari, nyai, mari, ayo mabuk
lari dari cekikan dua dunia.


tapi adik, bersama malam yang berpacu
di Senen Kramat, makin letih
Bir dan doger, makin melintang
garis tegas antara Parvenu dan Amat.


dan adik,
malam ini kudengar dengking memaki
Amat yang habis uang tidak menari:
aku bosan lupa, bosan menyerah
persetan takdir dan nasib!


malam berpacu terus
maki mengguntur menyesak udara
dua dunia berkutetan berkelahi
Senen-Kramat disenyum fajar.


Amat tidak menari lagi
tidak mau lari lagi
tidak mau narik becak
dia hanya mau dunia kembali satu dan sama.



Gang Tengah 29


engkau bintang di hati kami
sumber daya yang ngalir abadi
bikin manusia-manusia baru.


kami yang kini berada dimana-mana
merasa bangga membawa garis
kepunyaanmu, kepunyaan massa
hingga deburan cinta makin menyala
pada tanah air dan dunia.


biarkan siutan taufan mengganas
engkau tenang tahan segala
dan kami makin setia
bela garis bela cita
bikin habis hidup sengsara.


kata-kata di tanganmu hilang hampa
jadi segar laksana cahya
jadi deras laksana darah
segala engkau suruh sumbangkan
kepada kenyataan abad rakyat.


kami yang kini berada dimana-mana
tiap detik berada di tengah gelanggang
susun barisan atur serangan
dan ini hanya permulaan dari
jalan panjang ke pembebasan.


engkau bintang di hati kami
yang bikin dada rindu berdebar
menantikan dunia berseri laksana bunga.



Kader SB


Kepada SOBSI yang besar


kau tanya aku datang dari mana
dan mengapa segar mengintan
bagaikan embun di rumput pagi harapan.


aku adalah anak derita yang dibesarkan cinta
bayi kepedihan hari kemarin
remaja kegairahan hari ini
nyala yang mewarnai bahagia
bagi bangsa dan manusia.


aku adalah perwira yang merebut semua pabrik
pada ujung sorak-sorai revolusi
yang bikin kaya republik
semula tidak punya apa-apa
selain harta merdeka.


aku adalah api yang bertahan dan berkelahi
seteru dari budak-budak bayaran
penganjur keruntuhan
yang mau bikin muram
kegemilangan hidup hari ini.


aku adalah zat yang ada pada segala
dimana manusia merintih
dibelenggu kerja paksa
dan aku pencipta barisan
yang kembali kibarkan harapan.


aku adalah kekuatan Republik kekasih ini
dalam duka dalam suka
karena aku panglima barisan
yang tidak punya apa-apa
tapi pembawa merdeka bagi semua.


kau tanya aku mau kemana?
dengarlah: mari, hari ini jadikan pesta
kejayaan juang menyongsong cinta merata!



Rukmanda


sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku


sebutkan segala badai
kepahitan pembuangan
kerinduan pada kecapi
kesunyian malam sepi
kenangan pada Priangan
dan kelayuan dari menanti.


aku yang telah menghitung
rangkaian detik
berpuluh tahun
aku serahkan segala
pada pesta perlawanan
selama ini jiwa remaja
setiap detak nafas nyawaku
dan kala ini juga diminta
aku nyanyikan “Bangunlah Kaum Terhina”.


aku kini tiada lagi
bersatu dengan bumi tanah air tercinta
tapi lagu aku tamatkan
bersama bintang seminar kelam
dengan debar jantung terakhir
yang melihat fajar bersinar
kelahiran tunas penyambung keremajaanku.


sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku
tapi sebutkan juga kesetiaan
kegairahan dan kepahlawanan
itulah aku!



Petikan Gitar (1949)


Untuk kawan dan lawan


malam ini kawanku memetik gitar
selama ini berdebu disudut kamar
mengalun lagu kenangan lama.


melodi makin segar menaik
trem penghabisan menderu lalu
kawanku menyanyi nyayian hati
cerita remaja mencumbu gadis
cerita lama jutaan buku.


melodi makin segar manaik
dan malam makin menyepi
sukaduka bergetar dalam suara
remaja menempuh badai lautan
hilang gadis, hilang impian.


gitar berdenjar diremas jari
remaja telanjang dilapang luas
sekitar menantang nuntut pilihan
mau kemana, mau kemana
ini batas, ini anggur dan wanita.


aku tatap muka kawanku
dijauhan tukang sate yang mengeluh
dagangan mesti habis malam ini
dan dia tidak mau menyerah
bintang harapan di dalam hati.


gitar halus memperbaja melodi
kawanku mesra merangkai bunga api
dan hati remaja kembali.



Surat Biru


kutumpahkan segala daya puisiku
untuk menamatkan hidup dongengan, Ira
ayo, kusambut ajakan dendang lagumu
memaya zaman ini kita bersama.


suratku ini menterjemahkan ketekunan
hidup keras dalam rimba pengabdian
dimana kita miliki damai di hati
dan tujuan di hidup gemilang arti.


lihat saja keindahan sekitar kita
pesta warna pribadi-pribadi yang tahu cinta
suratku ini menterjemahkan ketekunan
suratku ini menterjemahkan kemenangan.



Mars ke Sosialisme


kami manusia kini
najis dan koyak di kutuk sejarah.
zaman budak, zaman feodal
dan zaman penghisapan kapital
yang ingin ‘ngubur kembali
kemenangan manusia atas hewan
dengan wabah hak milik perseorangan.


sorga dipanggil
neraka dipanggil
perang dipanggil
malaikat dan setan
jadi alat penegak nafsu.


kami manusia kini
najis dan koyak dikutuk sejarah.
menggeliat meraih fajar
dunia milik bersama
yang membunga berwarna merah.


dan kami panggil sorga
tetapi lempar neraka
memuja damai
dan hukum perang
kawan malaikat
seteru setan
sucikan diri dari
rawa koreng zaman lama berabad-abad.


dan kami dalam sucikan diri
ciptakan udara baru
bagi manusia yang meraih fajar
bagi manusia yang ingin wajar
bagi manusia malaikat dan bidadari.


kami manusia kini
suci ditempa sejarah
manusia – yang tak kenal menyerah
manusia – penguasa alam raya:
membuka pintu ke dunia fajar bersinar
ketok hati ke manusia besar karena wajar.









Ki Suhardi



Kelahiran Bandung 20 Februari 1956, bermukim di Jln Tebet Timur Dalam XI No. 20 Tebet Jakarta Selatan. Pada tahun 1980 belajar ke seorang pelukis ekspresionis Jeihan Sukmantoro lalu bergabung dengan Komunitas seni independent Gerbong dan mulai konsisten berkarya juga berpameran.
Email Address : kisuhardi@kisuhardi.com
Site : www.kisuhardi.com/


Pengalaman Pameran


1981 – 1982 : Pameran bersama SSB (Studio Seni Rupa Bandung) di GGM Jl Merdeka Bandung.
1996 : Pameran bersama di Studio Tatang Ganar Cigadung Bandung
1997 : Ikut Jambore seni rupa di Pasar Seni Ancol – Jakarta
1997 : Pameran bersama Gerbong di Mall Matahari Tasikmalaya.
1998 : Pameran bersama 'Pelukis Jalanan 3 Kota' (Bandung-Jogja-Solo)
di Mall Taman Anggrek Jakarta.
1999 : Pameran berdua dengan Ating Sudirman 'Dialog Rakyat' di gedung YPK Naripan Bandung.
1999 : Pameran Tunggal Memperingati Tragedi Trisakti 12 Mei di Selasar Trisakti Jakarta.
2000 : Pameran bersama Gerbong dan Jaker 'Dasar Babi-Babi' di Gedung YPK Naripan Bandung.
2000 : Pameran bersama 'Indonesian Outlook' di Sahid Jaya Hotel.
2001 : Pameran bersama Gerbong seni rupa pertunjukan 'Sidang Para Tengkulak' di Jln Dadali, Unjani, Cibeureum, Unisba, Paspati (Cihampelas), STNB, Unpad Jatinangor Bukit Tunggul Bandung.
2001 : Pameran bersama Gerbong Seni Rupa Pertunjukan 'Stop War' di Plaza Parahiyangan Bandung.
2001 : Workshop & Pameran Grafis 'Vla Print Making' di Galeri Sumardji ITB Bandung.
2001 : Menggelar Lukisan di Acara Asia Pasific Conference/Konferensi Asia Pasifik pada 6 Juni 2001
di Sawangan Bogor.
2002 : Pameran Memperingati Hari Buruh Internasional di Thailand.
2002 : Pameran bersama Peringatan Tragedi 27 Juli di Gedung PDI Jln Diponegoro Jakarta Pusat.
2002 : Workshop Seni Rupa Gerbong di Jl Dago Bandung.
2003 : Pameran Seni Rupa Gerbong 'Transisi' di Galeri Kita Jln RE Martadinata Bandung.
2003 : Pameran Kilas Balik 2002 – 2003 di Galeri Kita Jl RE Martadinata Bandung.
2004 : Pameran bersama Gerbong 'Ekologi Demokrasi' di Rumah Seni Ki Suhardi Jakarta Selatan.
2004 : Pameran bersama Menyambut 'KAA In Memorial' di Gedung YPK Naripan Bandung.
2005 : Pameran Tunggal di Galeri 600 (Jenny Barton Gallery) Washington
Street Willmington Delaware Amerika Serikat.
2005 : Pameran Memperingati 100 Hari Tsunami di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta.
2005 : Pameran bersama Gerbong dan Fok'r (Forum Kreatifitas) Seni Rupa

& Fotografi '8 Kebebasan' di Rumah Seni Ki Suhardi Tebet Jakarta


2005 : Pameran bersama menyambut 50 Tahun KAA '50 x 50' di Galeri
Kita Jln RE Martadinata Bandung
2006 : Pameran bersama Gerbong 'Jahanam Jahanam' di Galerri Pitoe
Jogja dan Balai Sudjatmoko Solo.
2006 : Pameran bersama 'Bandung Art Festival' di Gedung YPK Naripan Bandung.
2006 : Pameran bersama Gerbong di Braga City Walk Jln Braga Bandung.
2007 : Workshop dan Pameran Seni Rupa Propaganda, bersama Jaker,
Indie Art, IGJ dan Galeri Publik di Jln Diponegoro Jakarta Pusat.


Karya-karya


* Rakyat Aparat Konglomerat – Oil on Canvas – 90x90 cm
* Dialog – Oil on Canvas – 100x100 cm
* Diapun Punya Mimpi – Oil on Canvas – 100x83 cm
* Doa untuk Damai – Oil on Canvas – 69x58 cm
* Egosentris – Oil on Canvas – 70x64 cm
* Ghandi – Oil on Canvas – 80x70 cm
* Hama – Oil on Canvas – 110x100 cm
* Hidup = Berjuang – Oil on Canvas – 200x146 cm
* KorLap – Oil on Canvas – 90x70 cm
* Lacur – Oil on Canvas – 100x90 cm
* Menanti Keajaiban – Oil on Canvas – 100x80 cm
* Mimpi Buruk Marsinah – Oil on Canvas – 90x90 cm
* Nyala Api – Oil on Canvas – 95x70 cm
* Padamu Negeri – Oil on Canvas – 90x90 cm
* Pendapatan Kosong – Oil on Canvas – 70x60 cm
* Pengemis – Oil on Canvas – 90x65,5 cm
* Perjalanan – Oil on canvas – 104x73 cm
* Pesta Para Tengkulak - Oil on Canvas – 100x100 cm
* Populasipolusi – Oil on Canvas – 69x63 cm
* Punkers – Oil on Canvas – 95x75 cm
* Punk Music Player – Oil on Canvas – 70x70 cm
* Trafficking – Oil on Canvas – 90x60 cm
* Yang Berjalan di Reruntuhan – Oil on Canvas – 40x40 cm

Gastavo



KUDA BESI


Intro B


Em


kau pacu dan melaju


di atas roda waktu

D


kau jelajahi desa


Em D


ribuan kota kota

Em


diatas pelananya


membuatmu bernyali

D


hujan panas kau terjang


Em


menunggang kuda besi

B


setenggak embun persaudaraan

B


tanpa lampu pekat pun kau terjang

B


kau ciptakan rasa persaudaran

B


kau korbankan semangat berpetualang



Reffrein:


C D


kau lah si kuda besi, lambang kebebasan


C D


kau bebas di jalanan, tiada yang menghadang


C D


meraung dengan garang, pecah kesunyian


C B


kau lah si kuda besi, berkelana di jalanan



Intro Em



GASTAVO
Intro : G D Em C

G D

HEI KAWAN SEMUA MARI BERKUMPUL KEMARI

Em C


HILANGKAN RESAH DAN GUNDAH YANG SELALU DI HATI

G D


TUK MELAWAN NGGAK HARUS DENGAN MEMAKI

Em C


BERSAMA KAMI MARI KITA BERNYANYI

G D


WAHAI KAWAN JANGAN KAU HANYA DIAM

Em C


KEKECEWAAN YANG PERNAH KAU RASAKAN

G D


CEPAT UNGKAPKAN JANGAN HANYA KAU PENDAM

Em C


MASA DEPAN SURAM BILA KAU BUNGKAM




G D


NYANYI MARI BERNYANYI


Em C


NYANYI…… NYANYIKAN SUARA HATI


G D


GOYANG MARI BERGOYANG


Em C G


GOYANG……GOYANG DAN LAWAN TIRANI



REFF


F


JANGAN KAU HANYA DIAM, IKUTLAH BERDENDANG


G


BERSAMA…. GASTAVO… GASTAVO…


F


WALAUPUN RADA SUMBANG, TETAPLAH BERGOYANG


G


BERSAMA…. GASTAVO… GASTAVO…


F


SADARI KENYATAAN, LAWAN KEZALIMAN


G


BERSAMA…. GASTAVO… GASTAVO…


F


BANGUNLAH PERSATUAN, JEMPUT PERUBAHAN


G


DENGAN SYAIR DAN LAGU










KEPADA YTH


Bertanya Bertanya Bertanya Aku Bertanya
Kepada Kepada Kepada Oh Kepada Siapa
Mengapa Semua Orang Kini Semakin Gila
Mengapa Bangsaku Kini Tak Lagi Ber Bu Da Ya


Bertanya Bertanya Bertanya Aku Bertanya
Kepada Kepada Kepada Oh Kepada Siapa
Dimana Persaudaraan Yang Dulu Pernah Ada
Dimana Persatuan Yang Dulu Pernah Tercipta


Bukankah Kita Ini Sebenarnya Satu Bangsa
Bukankah Kita Dilahirkan Di Bumi Yang Sama
Tetapi Mengapa Masih Saja Ada Pertikaian
Tak Tau.. Tak Tau..Mengapa…
Tak Tau.. Tak Tau..Mengapa…


…………………..ORASI……………….


Melody..NYEM-NYEM


Bertanya Bertanya Bertanya Aku Bertanya
Kepada Kepada Kepada Oh Kepada Siapa
Dimana Persaudaraan Yang Dulu Pernah Ada
Dimana Persatuan Yang Dulu Pernah Tercipta


Bukankah Kita Ini Sebenarnya Satu Bangsa
Bukankah Kita Dilahirkan Di Bumi Yang Sama
Tetapi Mengapa Masih Saja Ada Pertikaian
Tak Tau.. Tak Tau..Mengapa…
Tak Tau.. Tak Tau..Mengapa…

Melody..NYEM-NYEM


Bukankah Kita Ini Sebenarnya Satu Bangsa
Bukankah Kita Dilahirkan Di Bumi Yang Sama
Tetapi Mengapa Masih Saja Ada Pertikaian
Tak Tau.. Tak Tau..Mengapa…
Tak Tau.. Tak Tau..Mengapa…



CUMA-CUMA


ribuan bocah putus sekolah
tak pernah usai terus bertambah
harapan !!! ……backing
sekolah hanya impian


impian !!!………..backing


semakin tinggi dan menghilang
bukannya karena tak mampu tuk menuntut ilmu
apa daya hamba memang tak mampu
pendidikan jadi barang dagangan
komoditas industri yang berharga tinggi


gelisah mereka ingin sekolah
dipaksa pasrah dan harus kalah
harapan !!........backing
seklah hanya impian
impian !!!..........backing


cuma-cuma sekolah bebas biaya
mutu terjamin agar MUDAH dicerna
cuma-cuma percuma negerinya kaya
hanya untuk membodohi rakyatnya



BERLARI


BERLARI KU AKAN TERUS BERLARI
DITENGAH PEKATNYA HARI
SEIRING KELAMNYA ALUR HIDUPKU
BERHENTI KU AKAN MATI


BERLARI KU TERUS BERLARI
DEMI UNTUKMU BIDADARIKU
KAN, KU TERJANG SEMUA YANG MENGHADANG
DEMI UNTUKMU OH..SAYANG


KUSADARI JALAN ILLAHI
TAKDIRLAH YANG MEMBUATKU AKAN TERUS BERLARI


BERLARIKU AKAN TERUS BERLARI
TANPA KU SADARI LAGI
TIMAH PANAS SANG PERKAKAS NEGRI
MENGHENTIKAN KU BERLARI


HANYA DENGAN LOBI DAN MATERI
TAKKAN PERNAH KURASAKAN
MATI DAN KEJAMNYA JERUJI BESI


TAPI KENAPA HANYA UNTUK KAMI
JELATA KAUM KURCACI
TIDAK UNTUK RAKSASA
YANG SELALU BEBAS BERLARI

MUNDUR

Atas nama seluruh rakyat indonesia kami menuntut paduka yang mulia untuk segera…


MUNDUR !!
MUNDUR !!
MUNDUR !!
MUNDUR !!
MUNDUR !!


BILA KAU TAK BISA, BILA KAU TAK MAMPU LEBIH BAIK KAU MUNDUR
JANGAN DITERUSKAN JANGAN DIPAKSAKAN LEBIH BAIK KAU MUNDUR

DIBALIK MEJA KAU BERCANDA
DIKURSI BUSA KAU TERLENA
INGKARI JANJI SAH BUAT RAJA
POTONG SUBSIDI ANGGAP BIASA
BBM NAIK RAKYAT SENGSARA
TURUNKAN SEGERA HAI PENGUASA

BILA KAU TAK BISA, BILA KAU TAK MAMPU LEBIH BAIK KAU MUNDUR
JANGAN DITERUSKAN JANGAN DIPAKSAKAN LEBIH BAIK KAU MUNDUR


BILA KAU TAK BISA, BILA KAU TAK MAMPU LEBIH BAIK KAU MUNDUR
JANGAN DITERUSKAN JANGAN DIPAKSAKAN LEBIH BAIK KAU MUNDUR

DIBALIK MEJA KAU BERCANDA
DIKURSI BUSA KAU TERLENA
BBM NAIK RAKYAT SENGSARA
KOMPENSASI RETORIKA BELAKA
OMONG KOSONG PENGHUNI SINGGASANA
PESTA PORA PEMUJA HUKUM RIMBA

BILA KAU TAK BISA, BILA KAU TAK MAMPU LEBIH BAIK KAU MUNDUR

Khayalan


Dimalam yang sepi kuberkhayal
kuhidup dinegri yang tak kukenal
negri yang damai tak ada perang
negri yang tentram tak ada kerusuhan


semua berjalan bergandeng tangan
tak ada dendam tak ada kebencian
negri tanpa raja tanpa penguasa
tanpa tentara tak ada senjata


mungkin....mungkinkah ini menjadi nyata
ataukah ini cuma khayalan
ataukah mungkin cuma bualan


mungkin....mungkinkah ini menjadi nyata
ataukah ini cuma khayalan
ataukah mungkin cuma bualan
tentang perdamaian


khayalan ku...khayalan mu
lamunan ku...lamunan kita


.........lead guitar........


semua berjalan bergandeng tangan
tak ada dendam tak ada kebencian
negri tanpa raja tanpa penguasa
tanpa tentara tak ada senjata


mungkin....mungkinkah ini menjadi nyata
ataukah ini cuma khayalan
ataukah mungkin cuma bualan


mungkin....mungkinkah ini menjadi nyata
ataukah ini cuma khayalan
ataukah mungkin cuma bualan
tentang perdamaian


khayalan ku...khayalan mu
lamunan ku...lamunan kita..


Azab

hutan terbakar..asap dimana-mana
hidup manusia..terasa smakin panas
rusaklah sudah..paru-paru dunia
musnahlah juga..tempat tinggal para satwa


surat HPH jadikan kau perkasa
hanya bersabda bagaikan seorang dewa
kau babat semua hutanku tanpa sisa
kau rampas semua warisan moyang tercinta


lihatlah tuan...ulahmu tuan
terlalu banyak memakan korban
terlalu banyak menelan korban


asap asap azab siapa
asap asap ulah ulah siapa
asap asap azab siapa
asap asap ulah ulah siapa


ayolah kawan cepatlah dihentikan
ulah manusia yang merusak hutan
ayolah kawan marilah lestarikan
kehidupan hutan jangan dimusnahkan


hutan bukan warisan
hutan bukan warisan
tapi untuk kelangsungan


lihatlah tuan...ulahmu tuan
terlalu banyak memakan korban
terlalu banyak menelan korban


asap asap azab siapa
asap asap ulah ulah siapa
asap asap azab siapa
asap asap ulah ulah siapa


ayolah kawan cepatlah dihentikan
ulah manusia yang merusak hutan
ayolah kawan marilah lestarikan
kehidupan hutan jangan dimusnahkan


hutan bukan warisan
hutan bukan warisan
tapi untuk kelangsungan


lihatlah tuan...ulahmu tuan
terlalu banyak memakan korban
terlalu banyak menelan korban


asap asap azab siapa
asap asap ulah ulah siapa
asap asap azab siapa
asap asap ulah ulah siapa




PSPB



65…65…KABUT SEJARAH DI INDONESIA
65…65…PEMBANTAIAN DIMANA-MANA


# JATUHNYA VONIS TANPA PERADILAN
LAWAN POLITIK JATUH BERGUGURAN
IDEOLOGI JADI KAMBING HITAM


65…65…TRAGEDI MELANDA NUSANTARA
65…65…PEMBODOHAN MERAJALELA


# 2 ACUH SAAT BURUH MENGADUH
TIKAM BELAKANG SIAPA YANG MENENTANG (2x)
KARYANYA…KORUPSI…KOLUSI…NEPOTISME (2x)

# 3 ORASI ….


KURASA SEMUA TAU, KURASA SEMUA TAU
KURASA SEMUA PAHAM INI HANYA REKAYASA
INI HANYA TIPU DAYA

Back To # , #3



PASAL 34

SEORANG BOCAH BERDIRI
DITENGAH BISINGNYA KOTA
TUBUHNYA HITAM TERBAKAR
TERIKNYA SINAR MENTARI

MATANYA MENATAP LIAR
SEOLAH MENCARI MANGSA
DEMI TUK SESUAP NASI
SEKEDAR PENYAMBUNG…NYAWA…

TIADA YANG PEDULIKAN NASIBNYA
JALANAN JADI SAKSI HIDUPNYA
BEKERJA BAGAI SEORANG DEWASA
HANYA DO’A DAN HARAPAN
TEMANI MIMPINYA



BERLARI

BERLARI-BERLARI KUKAN TERUS BERLARI
BERHENTI-BERHENTI KUTAKKAN PERNAH BERHENTI
SEIRING KELAM ALUR HIDUPKU KAN KUHADAPI SMUA YANG MENGHALANGI
DEMI UNTUK MU BIDADARIKU, SEMUA RINTANGAN TAKKAN PERNAH BERARTI


BERLARI-BERLARI KUKAN TERUS BERLARI
BERHENTI-BERHENTI KUTAKKAN PERNAH BERHENTI


AKU SADARI JALAN HIDUPKU
AKU MENCURI AYAM TETANGGA, UNTUK MEMBELIKANNYA BUNGA
TANPA KUSADARI TERNYTA TIMAH PANAS BERSARANG DIKAKI


TAPI KENAPA HANYA TUK KAMI KAUM KURCACI YANG SELALU DIKEBIRI
SEDANG RAKSASA BEBAS MENCURI, BEBAS KORUPSI TANPA PERNAH DIADILI






Johnsony Marhasak Lumbantobing

Panggilan : John Tobing
Tempat/Tgl Lahir : Binjai (Sumatera Utara), 01 Desember 1965
Pekerjaan (sekarang) : Wiraswasta
Pendidikan Akhir : S1 (Filsafat UGM Yogyakarta)
Mulai Mencipta Lagu : Di Tanjungkarang (Bandarlampung) tahun 1977
Jumlah lagu yang telah dicipta sekitar 100 –an (jumlah pasti agak sulit karena ada banyak lagu yang tidak ter-file, yang diingat oleh orang lain, padahal saya sendiri sudah lupa)
Jenis Lagu : Anak-anak, Pop, Rock, Pop Ballada, Perjuangan.


BEBERAPA JUDUL LAGU KRITIK SOCIAL dan PERJUANGAN:



No.


Judul Lagu


Tempat/ Tahun Pembuatan


Syair – Lagu Ciptaan






1


Damailah


Yogya, Maret 1987


Syair :

FX. Rudy Gunawan
Lagu : John Tobing



2


Perdamaian


Yogya, Maret 1987


Syair :


FX. Rudy Gunawan
Lagu : John Tobing



3


Damai Rimbaku


Yogya, Mei 1987


Syair & Lagu :

John Tobing



4


Seorang Lelaki


Yogya, April 1988


Syair : Yayan Sopyan

Lagu : JohnTobing



5


Perkisahan Luka


Yogya, 12 Agustus 1988


Syair : Yayan Sopyan

Lagu : John Tobing



6


Soeharto Asoe


Yogya, April 1990


Syair : Chaidir


Lagu : John Tobing



7


Satu Kata


Yogya, 5 Mei 1990


Syair & Lagu :

John Tobing



8


Hati Nurani


Yogya, September 1990


Syair : (potongan puisi angkatan ’66)

Lagu : John Tobing



9


Luka Anak Negeri


Yogya, Nopember 1990


Lagu : John Tobing



10


Api Kesaksian


Yogya, Nopember 1990


Syair & Lagu :


John Tobing



11


Bangkit


Yogya, 1991


Syair :

Dadang Juliantara
Lagu : John Tobing & Weby Warouw



12


Cadas


Yogya, Oktober 1991


Syair :


Agung Wibawanto
Lagu : John Tobing



13


Hymne Darah Juang


Yogya, 1991


Syair :


Dadang Juliantara,
Budiman Sujatmiko
Lagu : John Tobing



14


Mars Soempah Kita


Yogya, 26 Oktober 1991


Syair & Lagu :


John Tobing



15


Mogok Makan


Yogya, 13 Nopember 1991


Syair & Lagu :

John Tobing








No.


Judul Lagu


Tempat/ Tahun Pembuatan


Syair – Lagu Ciptaan






16


Yang Kesepian


Yogya, April 1992


Syair : Waluyo Jati


Lagu : John Tobing



17


Doa


Yogya, April 1992


Syair & Lagu : John Tobing



18


Bangkit Dari Kolong (Pak Dul)


Yogya, 21 Juli 1992


Syair : Agung Wibawanto

Lagu : John Tobing



19


Seorang Ibu


Yogya, 23 Agustus 1992


Syair : Waluyo Jati


Lagu : John Tobing



20


Aku Saksi Hidup


Yogya, 28 Oktober 1992


Syair : Agung Wibawanto

Lagu : John Tobing



21


Naruda Bira


Yogya, 11 Nopember 1992


Syair : Subramaran Anugrah


Lagu : John Tobing



22


Makin Banyak Korban


Yogya, 29 Agustus 1993


Syair & Lagu : John Tobing



23


Sengi


Yogya, 13 Oktober 1993


Syair & Lagu : John Tobing



24


Citayam


Yogya, Nopember 1993


Syair : Widi


Lagu : John Tobing



25


Fajar Merah Esok Milikmu


Yogya, 14 Agustus 1994


Syair : Weby Warouw


Lagu : John Tobing



26


O Rai Timor


Depok, 14 Nopember 1994


Syair : Hermeningardo


Lagu : John Tobing





Sejarah Lahirnya Beberapa Lagu Penting


1. Seoharto Asoe (Yogya, April 1990)


Waktu itu di Demangan, secretariat Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta KM – UGM, Saya dan seorang kawan aktifis KM UGM Chaidir (sekarang wartawan Lampung Post) membicarakan soal kebencian kami terhadap Soeharto (Presiden RI) lah yang membuat kami menjadi aktivis. Soeharto bengis sebagai otak pembunuh pada peristiwa ’65, dictator yang harus ditumbangkan. Chaidir menyarankan untuk membuat lagu berirama Reggae agar menjadi lagu yang enak dinyanyikan oleh kelompok pemuda mahasiswa yang pragmatis, tapi syairnya sangat provokatif.


2. Satu Kata (Yogya, 5 Mei 1990)


Waktu itu, beberapa aktivis ITB baru saja dipenjara gara-gara mendemo Menteri Dalam Negeri, Jend (pur) Rudini yang diundang rector ITB. Mereka Cuma mendemo tetapi kemudian dipenjara dan di DO dari kampus ITB. Saya merasa marah dan ingin memprotes sekaligus membangkitkan semangat kawan-kawan aktifis supaya tidak takut dan jera berdemonstrasi. Saya jadi teringat puisi Wiji Thukul yang memang sudah sering membangkitkan semangat perjuangan yang berjudul: LAWAN!


Awalnya lagu ini untuk kawan-kawan aktifis ITB yang diperlakukan tidak adil itu. Mereka adalah: Rahman, Enin, Amarsyah, Ucok (alm. Arnold Purba), Denci dan Bambang Sugianto. Belakangan, karena lagu ini terasa jadi eksklusif (karena Cuma memuat nama kawan-kawan ITB) syairnya saya ubah. Nama kawan-kawan dalam lagu tersebut diganti: Buruh, petani, nelayan, kaum miskin kota.


3. Cadas (Yogya, Oktober 1991)


Saat itu kami para aktifis se-Indonesia merasakan sebuah duka. Anak dari seorang kawan kami aktifis, yang bagi saya dia lebih dari seorang aktifis tetapi seorang pejuang, meninggal dunia. Anak laki-laki tertuanya ini meninggal hanya karena menderita penyakit muntaber (kalau tidak lupa). Ayahnya, kawan kami, jarang ada bersma anak lelakinya karena terus bergerak, berjuang. Ibunya juga seorang aktifis yang bukan aktifis biasa. Karena perjuangan dan karena factor ekonomi seorang pejuang seperti mereka, menurut saya, anak laki-lakinya yang bernama CADAS tersebut akhirnya meninggal dunia. Saya mendiskusikannya dengan Agung Wibawanto (seorang aktifis KM UGM) yang kemudian menuliskan puisi berjudul CADAS. Agung memang seorang Penyair. Syair lagu ini berkisah tentang cerita tadi.


4. Hymne Darah Juang (Yogya, 1991)


Lagu ini diciptakan menjelang Kongres I Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) (bulannya lupa). Awalnya, saya merenungkan sebuah perjuangan bagi Indonesia. Bahwa perlu ada sebuah perjuangan yang serius dan terus menerus untuk menyejahterakan Indonesia. Sebab, sesungguhnya Indonesia ini negeri yang sangat kaya raya. Bumi, tanah-air dan udaranya, semua menghasilkan kekayaan. Tetapi, kenapa banyak rakyat terus menderita. Lalu saya mencoba menyenandungkan, membuat melodi dan lagu melalui petikan gitar, sebuah nuansa bunyi lagu yang menggambarkan keadaan tersebut. Setelah itu, saya mendatangi salah satu sahabat saya, Dadang Juliantara (sekarang Penasehat dan Tim Ahli Bupati Bantul). Dia seorang yang amat getol menulis. Saat itu kami tinggal bersama di sebuah kontrakan di daerah Pelem Kecut Yogyakarta, yang juga merupakan secretariat KM – UGM. Dadang membantu menuliskan syair untuk lagu tersebut. Lagu ini sering kami nyanyikan di secretariat.


Mendekati pelaksanaan Kongres FKMY, seorang kawan, Budiman Sujatmiko (sekarang Sekjen REPDEM), ikut merevisi sebuah kalimat dalam syair lagu itu.


Satu atau dua hari sebelum Kongres, lagu ini dipelajari dan dinyanyikan berulang-ulang oleh kawan-kawan anggota FKMY (UII, IAIN, UMY, ISI, JANABADRA, UGM).


Pada saat dilangsungkannya Kongres I FKMY, untuk pertama kalinya lagu ini dinyanyikan secara resmi dan massal.


5. Doa (Yogya, April 1992)


Lagu ini punya latar belakang terjadinya Peristiwa Santa Cruz Dilli, yaitu penembakan membabi buta yang dilakukan tentara Indonesia terhadap aktifis Timor Timur di pemakaman Santa Cruz. Seorang aktifis dari Malaysia, kawan kami yang bernama Kamal, ikut tertembak dan: Mati! Perasaan saya waktu itu bercampur marah, sedih, muak, benci tak keruan karena Kamal baru saja dari Yogya dan kami (saya dan dia) terlibat diskusi akrab cukup panjang. Kenapa seorang pejuang seperti Kamal-Kamal yang ditembaki tentara? Mereka bukan musuh negara apalagi musuh rakyat. Dalam menulis dan menciptakan lagu ini, air mata saya terus mengalir. Saya teringat kepada kawan-kawan saya yang lain, yang berjuang tanpa pamrih bahkan mengorbankan banyak hal termasuk kepentingan dan kesenangan pribadinya. Kenapa banyak orang tak mau mengerti, sadar, bangkit dan membela mereka? Kenapa malah ditembaki seolah nyawanya sang Pejuang tak berharga sama sekali?


Lagu ini diberi judul DOA, karena saya merasa sudah tak ada lagi yang bisa dan mau mendengar jeritan para pejuang tersebut.


6. O Rai Timor (Depok, 14 Nopember 1994)


Ketika berkunjung ke markas Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada Nopember 1994, saya bertemu dengan seorang aktifis Pejuang Kemerdekaan Timor Timur yang lari dari kejaran intel polisi dan tentara bernama Hermeningardo (Ardo). Kami berbincang dan berdiskusi tentang perjuangannya dan perjuangan kawan-kawan PRD sehingga barulah saya tahu bahwa dia termasuk kalangan Penyair di komunitasnya. Ardo rajin mencatat perjuangannya dengan kawan-kawannya dalam bentuk puisi dalam bahasa tetun (Timor Timur). Dia menunjukkan beberapa puisinya, menerjemahkan dan menceriterakan maknanya kepada saya. Saya tertarik dengan ceritera puisi-perjuangannya. Ada 2 (dua) puisinya yang sudah saya jadikan lagu. Salah satunya O RAI TIMOR. Puisi yang sudah saya jadikan lagu ini, menceriterakan, mirip dengan lagu DARAH JUANG, negeri Timor yang kaya dan indah tapi dijajah Indonesia dan tentara Soeharto. Puisi ini juga menghimbau dan berdoa kepada Tuhan agar perjuangan rakyat Timor direstui.


Lagu ini pernah saya nyanyikan di Perth, Australia Barat, pada sebuah kunjungan 1995, dihadapan komunitas masyarakat asli Timorleste dan pendukung kemerdekaan Timorleste. Khususnya masyarakat asli Timorleste, terharu dan menangis saat lagu ini saya nyanyikan.


Saya rindu berjumpa Ardo. Setelah negerinya merdeka dan dilanda kemelut seperti sekarang, entah dimana kini Ardo.

Keterangan


* Banyak Lagu yang Syairnya ditulis oleh kawan-kawan lain, disebabkan oleh:



1. Saya merasa diri kurang pintar menyusun syair yang bagus.


2. Saya punya greget terhadap sesuatu dan sudah menyelesaikan sebuah lagu tanpa syair, sehingga saya meminta kawan lain menuliskan syair untuk sesuatu greget yang sudah selesai saya susun melodinya. Pada kasus ini contohnya adalah judul lagu DARAH JUANG.


3. Saya mengintip karya puisi beberapa kawan Penyair yang isinya menyentuh emosi saya, lalu saya jadikan sebuah lagu, dengan atau tanpa ijin dari kawan tersebut.


4. Beberapa kawan yang cukup baik menulis (syair) meminta dibuatkan lagu. Syair yang diberikannya kepada saya, kebetulan cukup mampu menyentuh emosi saya.


o Lagu terakhir yang diciptakan berjudul “TIADA JALAN” (lagu pop percintaan), 25 Juni 1997. Sejak itu sampai sekarang tidak pernah bikin lagu lagi karena: 1. merasa mubazir, tidak ada produser yang mau pakai; 2. tidak ada kawan yang serius minta dibuatkan lagu (Ketua AJI periode sebelum batas 2005, Edi Suprapto, pernah minta dibuatkan Mars dan Hymne Aliansi Jurnalis Independen, tapi tidak cukup serius); 3. sibuk dengan usaha lain/ cari makan untuk anak isteri.


o Pernah menjajakan lagu ke hampir seluruh produser di Jakarta (1993 – 1995) tapi karena kurang modal belum ada yang laku. Beberapa pihak yang sempat tertarik adalah HP Record (melalui Pak Awan Toha dan Herty Sitorus), Pay SLANK (sekarang sudah keluar dari SLANK).


o Beberapa lagu perjuangan sudah direkam dan dikasetkan oleh kawan-kawan PRD. Trims buat kawan-kawan PRD.


Pekanbaru, John Tobing - 7 Juni 2006
LONTAR Band



Akhir 1994


Adalah tiga orang yang membentuk kelompok musik kecil, yakni BimPet (nama panggilan Bimo Petrus) dan Babe (nama panggilan David Kris) memainkan gitar, lalu Jaka Sadewa sebagai penyanyinya. Kelompok musik tanpa nama ini lambat laun mulai membuat lagu, diantaranya; Anak Bangsa, Pasti Menang, Simarsi (nah..), Karna aku Cinta, Indonesia (C) Emas dan Mana Buku dan Guruku.


Februari 1995


Melalui saran Heru Krisdianto, koordinator Komite Solidaritas Mahasiswa Universitas Airlangga (sebuah organisasi gerakan mahasiswa di era tahun 1990-an), maka bergabunglah Chris (nama panggilan Christanto) sebagai drummer dan Inuk (nama panggilan Wisnu Wardhana) sebagai gitaris. Adapun mereka berdua adalah personil di Sianida band. Maka lengkaplah formasi kelompok musik ini, untuk semakin menegaskan visi dan misi kelompok musik ini.


Maret 1995


Pemberian nama pun diilhami dari nama sebuah bulletin KSM UNAIR yakni LONTAR. Nama LONTAR tak hanya bermakna pelontaran gagasan atau ide semata, namun dipahami sebagai daun siwalan yang konon berfungsi menjadi kertas tulis untuk menuangkan berbagai filosofi kehidupan manusia di masa lalu.[1] Maka LONTAR pun akan dipahami sebagai (1) media belajar bersama (melalui musik) agar mempersatukan pemikiran kritis, kesadaran baru, tindakan dan semangat melakukan perubahan mencapai cita-cita membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi. Karena itulah teks-teks LONTAR sarat akan tema kritis tentang hak asasi manusia, anti kekerasan/ diskriminasi/ rasisme, ajakan untuk perubahan menuju kehidupan bersama yang lebih baik. LONTAR merupakan contoh konkrit yang sangat peduli terhadap masalah-masalah tersebut.[2] Motivasi dan idealisme melalui kebebasan berekspresi dalam bermusik inilah merupakan pula bentuk kontra kultura yang dimunculkan LONTAR di masyarakat, sehingga sarat dengan lirik kritis.[3] Seiring dengan perkembangan social politik masyarakat kala itu.


April 1995


15 April 1995, pementasan LONTAR yang pertama kali pada panggung Malam Chairil Anwar yang digelar oleh Program Studi Sastra Indonesia FISIP Universitas Airlangga Surabaya. Akhirnya disepakati bersama bahwa tanggal tersebut adalah hari kelahiran LONTAR.


Juni 1995


LONTAR melanjutkan aksi pentasnya di Musik Taman II FISIP UNAIR Surabaya. Kemudian memenuhi undangan tampil di acara Pentas Musik Dunia yang diselenggarakan oleh Kedutaan Perancis di gedung CCF-Surabaya.


Pertengahan 1995


Lalu diundang tampil di acara Refleksi Kemerdekaan yang diadakan oleh Wiji Thukul dan Sanggar Suka Banjir-Solo. Berikut, Malam Kanvas Kemerdekaan yang digelar di pelataran pasar Simo oleh Sanggar Soeroboyo. Berlanjut dengan Pentas Seni untuk Tanah Rakyat, berkait dengan kasus perampasan tanah di desa Gedoro Gondang – Ngawi.


Akhir 1995


Memenuhi undangan tampil di Festival Kesenian Yogyakarta di Malioboro-Yogyakarta. Pula tampil diantara gemuruh aksi demonstrasi pada Pentas Seni Solidaritas untuk Kasus Penembakan Mahasiswa Ujung Pandang.


Awal 1996


Jaka Sadewa menyatakan keluar karena tuntutan hidup yang menuntutnya. Kemudian BimPet juga menyatakan tidak bisa aktif karena harus pindah kuliah ke Driyakarya-Jakarta, tapi dia masih selalu aktif mengikuti perkembangan LONTAR.


Maret 1996


LONTAR mulai merekrut Azh (nama panggilan Ashari), seorang penyanyi di sebuah kelompok musik rock di Unair. Kemudian tercatat tiga nama yang pernah menjadi pengisi posisi bass gitar yakni Ditto, Yayan dan Wicak. Namun ternyata ketiganya tak mampu untuk eksis berekspresi musik bersama LONTAR. Akhirnya posisi pembetot bass gitar, sekaligus posisi penyanyi utama dipegang oleh Azh.


Mei 1996


Formasi baru bersama Azh, mencatat berbagai pengalaman panggung diantaranya tampil di acara Gebyar Seni di Fakultas Kedokteran UNAIR, Musik Kontemporer di Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Peringatan Pembreidelan TEMPO-Detik-EDITOR di halaman Dewan Kesenian Surabaya, hingga meraih menjadi finalis pada festival Musik Rock se-Jatim di Kediri.


27 Juli 1996


Sebuah peristiwa kerusuhan politis terbesar sepanjang 30 tahun rezim Orde Baru berdiri, yang dikenal dengan Peristiwa Kudatuli - 27 Juli 1996. Peristiwa penghancuran demokrasi dan HAM oleh kesewenangan negara beserta militernya. LONTAR pun tertimpa kesewenangan negara kala itu. Babe ditangkap dengan cara penculikan oleh aparat militer. Dia mengalami penyiksaan dan penyekapan selama 2 (dua) minggu di markas militer. Setelah itu, dia ‘diserahkan’ kepada pihak kepolisian dengan tuduhan bahwa Babe (melalui aktifitas seninya) telah melakukan penghinaan dan menyebarkan kebencian terhadap pemerintahan yang syah, sesuai pasal Haatzai Artikelen dengan tuntutan hukuman minimal 5 tahun penjara. Namun hukum lalim kala itu tak cukup bukti dan Babe pun menjadi tahanan politik selama kurang lebih tujuh bulan. Namun berakibat LONTAR pun harus tercerai-berai dan vakum selama waktu yang tak menentu. Sekeluarnya dari penjara, Babe pun bergabung dengan PINUS band sekedar memenuhi hasrat musiknya.


Pertengahan 1997


Satu persatu personel LONTAR mulai bertemu muka, kemudian bergabung kembali dan bersamar nama menggunakan nama RIP (Rest In Peace). Namun kelompok musik ini gagal diterima publik musik, khususnya di Surabaya. RIP pun hanya bertahan tak lebih dari 2 bulan. Kemudian para personel LONTAR pun mengalami stagnasi kreatifitas bermusiknya.


September 1997


Para personel LONTAR bersama beberapa kawan musisi/ penyanyi lain diantaranya; Adit dari Pythagoras band; membentuk kelompok musik yang (secara terang-terangan) membawakan lagu-lagu picisan, bernama ArSIP (Arek FISIP). ArSIP mampu merebut publik musik tersendiri dan membuahkan kesuksesan dengan meraih predikat Band Favorit dan The Best Vocal pada Festival LUCKY STRIKE Back to Campuss, 21 September 1997. Namun semua itu ternyata memunculkan banyak suara kekecewaan dari para massa LONTAR.


Akhir 1997


LONTAR pun kembali menancapkan bendera di antara menjamurnya kelompok-kelompok musik underground. Gebrakan baru LONTAR ini ternyata tidak main-main. LONTAR pun segera menjadi salah satu bintang tamu pada Musik Farmasi ’97, selain diantaranya SLOWDEATH, KARPET, BLUEKHUTUQ dan PADI.


Desember 1997


Seiring gemuruh gelombang aksi demonstrasi mahasiswa menolak hasil PEMILU 1997. LONTAR menggarap album indie label pertamanya, di NATURAL Studio Record. Dana rekaman ini dibantu pula oleh kawan-kawan dari Kelompok Studi Universal (KSU) dan beberapa kaum agamawan (Romo/ Pastor) di Surabaya.


Maret 1998


LONTAR menerima kabar buruk dari berbagai media cetak dan elektronik yakni Bimpet dinyatakan sebagai Orang Hilang, atau terkait dengan kasus penculikan mahasiswa yang dilakukan aparat negara untuk membendung aksi demonstrasi mahasiswa kala itu.


April 1998


LONTAR memberanikan untuk merilis-edar 200 keping album indie pertamanya yang bertajuk; MARAH. Titel album ini diilhami dari semakin besarnya gelombang kemarahan rakyat pada para penguasa kala itu yang kejam dan korup. Adapun album yang terjual habis melalui jaringan kawan-kawan di berbagai kota tersebut berisi 8 lagu yakni;


1. Negeri Serdadu


2. Simarsi (Nah..)


3. Bosan


4. Marah


5. Mana Buku dan Guru-ku


6. Anak bangsa


7. Tunjukkan Rasa


8. Dunia damai.


Pertengahan 1998


Tibalah pertengahan Mei 1998, kala usai tergulingnya kekuasaan Soeharto oleh desakan tuntutan rakyat seluruh negeri ini. Pada panggung-panggung ‘musik reformasi’, LONTAR, melalui lagu-lagunya kian menjadi penyemangat perjuangan rakyat. Dimulai pada Pentas Musik Pro Reformasi Total dan Damai di Universitas Tujuh Belas Agustus.[4] Gebyar Seni Reformasi di Institute Adhi Tama Surabaya (ITATS), Pentas Reform-Musik di UK PETRA, Konser Amal Reformasi di kampus STIESIA Surabaya, Musik Anti Kekerasan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Musik Sosial dan Anti Kekerasan di IKIP Surabaya, Musik Anti Diskriminasi di FISIPOL UGM Yogyakarta.


Akhir 1998


Menjadi Bintang Tamu Pentas Musik Alternative di FISIP Universitas Airlangga Surabaya. Kemudian kembali menjadi Bintang Tamu pada acara Sunday Morning Music di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Disusul dengan penampilan pada Musik Out-door yang diselenggarakan oleh BATAS entertainment di Yogyakarta. Lalu membikin duo band pada Konser Sumpah Pemuda di Gedung Serba Guna Unversitas Airlangga Surabaya bersama METAL JOWO.


Sebuah kebanggaan yang tak ternilai harganya, bahwa sejarah perjuangan rakyat telah mencatat bahwa salah satu lagu LONTAR karya Babe (David Kris) berjudul Pasti Menang dinyatakan menjadi salah satu lagu yang turut menyemangati gemuruh aksi reformasi 1998. Lagu tersebut kini pun telah disimpan sebagai dokumen reformasi oleh pihak LIPI.[5]


Tahun 1999


April : Tampil sebagai bintang tamu pada Pentas Musik ASMI yang digelar oleh Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia di Gelora Pantjasila Surabaya.


Juli : Tampil sebagai bintang tamu pada Festival Band Antar-Pelajar yang digelar oleh Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.


Agustus : Tampil sebagai undangan tamu pada Parade Musik Kemerdekaan yang digelar oleh Dewan Kesenian Surabaya.


November : Tampil sebagai undangan dalam Gelar Seni Anak Jalanan yang diadakan di IKIP Negeri Surabaya.


Desember : Tampil sebagai undangan tamu pada Musik Kemanusiaan peringatan Hari HAM Sedunia yang diadakan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.





Tahun 2000


Februari : Tampil sebagai undangan tamu dalam Pentas Musik Perdamaian di Semarang.


April : Tampil sebagai bintang tamu dalam Gebyar Musik Anak Negeri di Lakarsantri-Surabaya.


Mei : Tampil sebagai bintang tamu dalam Gebyar Musik Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Juni : Mempersiapkan materi dan proses penggarapan album II.
Juli : Rekaman album indie-label kedua di Natural Studio Record Surabaya.


: Tampil sebagai undangan pada Malam Renungan Peristiwa 27 Juli di pelataran Balai Pemuda Surabaya.

Oktober : Rilis edar album II bertitel SETENGAH TIANG Untuk DEMOKRASI

sebanyak 500 keping kaset, yang masih diproduksi secara indie label.
: Lagu-lagu di album II tersebut adalah;


1. KKN-nya KKN Bentrok (Anti Fasis)


2. Testimoni


3. Kekuatan Rakyat


4. Revolusi


5. K.P.H.B (Kaum Perempuan Hindia Belanda)


6. Karna Aku Cinta


7. Apa Guna


8. Bentrok (Anti Fasis)


Kemudian melakukan distribusi dan promo kaset ke berbagai kota besar antara lain; Surabaya, Jakarta, Yogya, Solo, Bandung, Bali, dll.


Tahun 2001


Januari : Inuk menyatakan bahwa tidak bisa aktif bermusik lagi dalam LONTAR karena sesuatu tuntutan hidup untuk bernafkah.
Tampil bintang tamu dalam Parade Musik Kampus yang diadakan oleh Fak. Ekonomi Wijaya Kusuma Surabaya.
Februari : Tampil sebagai undangan tamu pada Parade Musik Unitomo, yang diadakan oleh Universitas Dr. Soetomo Surabaya

Maret : Tampil sebagai bintang tamu bersama POWER METAL; dalam acara Malam Dies Natalis Univ. Airlangga Surabaya.


April : Tampil mendukung perjuangan Front Reformasi Total (FRT) yang mengangkat isu Anti Orde Baru, digelar di halaman DPRD II Surabaya.


: Tampil sebagai undangan tamu dalam Musik Rekonsiliasi sebagai acara amal untuk korban kerusuhan Sampit, yang digelar di pelataran DPRD II Surabaya.


: Tampil sebagai undangan tamu dalam Seni Untuk Demokrasi yang digelar oleh FISIP Unair Surabaya.


: Tampil sebagai bintang tamu dalam Star Mild Concert di Fak. Sastra Unair Surabaya.


: Tampil sebagai undangan tamu dalam Pentas Musik Peringatan 21 Mei, di pelataran Balai Pemuda Surabaya.

Agustus : Tampil sebagai bintang tamu dalam GEMPITA 2001 yang diselenggarakan oleh Universitas Udayana- Bali.

September : Tampil sebagai bintang tamu dalam Open Air 2001 yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum UNISDA – Lamongan.


: Tampil sebagai bintang tamu dalam Panggung Kesenian Buruh yang digelar di Sidoarjo.


Oktober : Tampil sebagai band undangan dalam Refleksi Soempah Pemoeda yang diadakan di lapangan lokalisasi pelacuran Bangunsari-Surabaya.


Tahun 2002

Maret : Tampil sebagai duta kesenian dari Univ. Airlangga di pentas seni dalam rangka Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XV 2002 yang diselenggarakan di Universitas Airlangga-Surabaya.

April : Tampil sebagai undangan tamu pada Peringatan Peristiwa Penculikan Aktivis yang digelar di halaman Balai Pemuda Surabaya yang diselenggarakan oleh INSPIRASI dan KONTRAS.

Juni : Tampil sebagai bintang tamu pada pentas seni Indonesian ‘s People Forum di Nusa Dua-Bali.

: Tampil sebagai bintang tamu dalam acara A MILD LIVE WITH ACOUSTIC yangdiadakan oleh Badan Semi Otonom Musik Fakultas Sastra Univ. Airlangga.-Surabaya.
Agusutus : Tampil sebagai undangan tamu di Aula Pastoran Yogyakarta dalam acara Peringatan Serikat Pengamen se-Indonesia.


Awal Tahun 2003


LONTAR menjalin kerjasama dengan seseorang yang sangat simpati dan peduli dengan aktifitas bermusik LONTAR. Kerjasama ini adalah untuk penggarapan album. Dalam kerjasama penggarapan album III, LONTAR banyak didampingi dan dibantu oleh Jeffar Lumban Gaol, penata musik lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Jeffar adalah pula seorang yang punya andil besar dalam perkembangan LONTAR selama dan pasca album III. Rencananya album III ini dikerjakan di Jakarta, tetapi memperhitungkan dana dan aktifitas pekerjaan para personil LONTAR maka dilakukan di Surabaya.


Setelah mendengar kabar bahwa hendak LONTAR menggarap album III, Inuk kembali beraktiftas bermusik bersama LONTAR,


Pertengahan Tahun 2003


Penggarapan album III di Nada Musika Studio Record. Penggarapan album III ini banyak dibantu oleh kawan-kawan, antara lain: Nana (back vocal H9 band), Aline (vokal), Putri (vocal), Johan (bassist Devadata), Hot Torang (gitaris Bluekhutuq), Plenky (vokalis FreeCell), dan Inyo (vocal). Pula termasuk melibatkan pengisian suara; Rm. Sandyawan, dan (Alm) Pramoedya Ananta Toer.


Lagu-lagu yang digarap di album III tersebut adalah;


1. Senjata Bentrok (Anti Fasis)


2. Darah Juang


3. Maafkan Kami


4. Yang Hilang


5. Indonesia Cemas


6. Indah


7. Testimoni


8. KKN-nya KKN


Akhir Tahun 2003


Rilis-edar album III LONTAR bertajuk: Indonesia, Siapa Yang Punya…? Album yang dicetak 5000 kaset ini mengadakan kontrak Titip Jual dengan pihak Satria Kurnia Irama (SKI) dan telah memiliki hak ijin edar resmi/legal dari ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) untuk diperdagangkan di seluruh wilayah Indonesia.


LONTAR pun juga masih memnuhi undangan tampil sebagai bintang tamu diberbagai acara, antara lain: Pentas Peringatan Reformasi di Universitas Dr. Soetomo Surabaya, Kilas Balik Rock Indonesia di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, tampil bersama band punk dari Jakarta:MARGINAL, dan tampil dalam Gelar Seni Peringatan Ham Sedunia di Universitas Airlangga Surabaya.


Tahun 2004

LONTAR mengalami problema bahwa kedua personnya; Inuk dan Azh hendak menyatakan tidak bisa aktif lagi. Maka LONTAR pun menjadi rada vakum. Hanya satu penampilan LONTAR yakni di bulan Juli dalam Peringatan KUDATULI di Balai Pemuda Surabaya. Kemudian pada Konser Amal Keprihatinan Bom Kuningan, bertempat di Taman Bungkul Surabaya, LONTAR menjadi bintang tamu berikut dengan BOOMERANG. Hingga akhir tahunnya di penghujung tahun 2004, Azh dengan Inuk akhirnya mengundurkan diri karena kesibukan kerja dan keluarga mereka.


Awal Tahun 2005


LONTAR kembali memulai aktifitas bermusiknya dengan formasi baru, yakni dengan bergabungnya; Gerson sebagai pemain bass sekaligus backing vokal, adapun dia adalah musisii dari band hardcore; Terrorist dan Human Corruption. Lalu Jaka Sadewa yang kembali memegang posisi vokal (setelah lebih kurang 10 tahun tidak beraktifitas bersama LONTAR). Kembali LONTAR menjadi bintang tamu bersama SUPERMAN IS DEAD, dalam A MILD Music Show, di Colour Cafe n Pub Surabaya.


4 Mei 2005


LONTAR menggelar peringatan ulang tahun di usia yang ke-10. Tepatnya satu dasawarsa LONTAR. Peringatan ini diwujudkan dalam lomba band antar pelajar bertajuk TANDING MUSIK KRITIS, memperebutkan trophy Walikota Surabaya dan trophy Gubenur Jawa Timur, bertempat di Taman Remaja Surabaya. Lomba band yang diikuti oleh 47 band muda se-Jawa Timur ini, akhirnya memunculkan 6 (enam) juara band muda, yang berhasil meraih predikat terbaik.


17 Agustus 2005


Djarum Super mengadakan Gegap Musik Kemerdekaan, bertempat di Balai Pemuda Surabaya. LONTAR pun menjadi salah satu bintang tamu, termasuk band-band besar Surabaya lainnya, seperti; NEMO, DE-SIX, BABYDOLL, dan SINNER.


Akhir Tahun 2005


Jaka Sadewa menyatakan tidak bisa lagi beraktifitas dengan LONTAR, karena kesibukannya mencari nafkah. LONTAR pun kembali harus sedikit bersusah payah untuk mencari vokalis baru.


Tahun 2006


LONTAR telah memperoleh vokalis baru bernama: Nyoman. Sehingga LONTAR bisa kembali tetap beraktifitas dengan rutinitas latihan musik sebagai proses penggarapan karya-karya untuk album IV nantinya. Sekaligus menunjuk RIGHTS Management sebagai pengatur managemen LONTAR, agar tertata kembali managemen group yang lebih baik. Berikut menunjuk MSP Lawyer sebagai kuasa hukum LONTAR. Formasi ini yang terhitung sebagai formasi ke-11 ini yakni: Nyoman (vokal), Babe (Gitar), Gerson (Bass), dan Chris (Drum).


LONTAR tampil sebagai bintang tamu bersama UNGU, untuk DJARUM SUPER Road Tour 10 Kota di Jawa Timur.


20 Mei Tahun 2006


LONTAR tampil sebagai bintang tamu dalam Pentas Reformasi Menggugat yang diadakan di pelataran gedung DPRD II Surabaya oleh KNPI dan kelompok Cipayung-Surabaya.


(Sumber dari : Larik Balik LONTAR).

[1] Diorama, “Kelompok musik LONtaR sebagai Alternative di dunia musik”, edisi no. 2 1996

[2] Warta Unair, “Seni Budaya Kampus : Cermin Kepedulian atau Media Ekspresi Rakyat”, no. 003/1/Agst/95

[3] Jawa Pos, Senin 9 November 1998

[4] Jawa Pos, 3 Juni 1998. Selain LONtaR, pentas musik yang dimulai pukul 10.00 sampai 17.00 bbwi itu diisi pula oleh Jangan Asem, Padi band, Seng Ken Ken dan Boomerang.

[5] KOMPAS, Senin, 15 November 1999.


Aku Ingin Jadi Peluru

Aku Ingin Jadi Peluru
Oleh Wiji Thukul

Penerbit:
Indonesia TERA - Anggota Ikapi

Cetakan Pertama, Juni 2000
Cetakan Kedua, April 2004

Penyunting:
Khotimatul Husna

Design Sampul:
M. Iqbal Azcha

Lukisan Sampul:
Alfi

Distributor:
AgroMedia Pustaka
Bintaro Jaya Sektor IX
Jl Rajawali IV Blok HDX No. 3 Tangerang 15226
Telp. (021) 7451 644, (021) 7486 3334
Fax. (021) 7486 3332
____________________________________

Pulanglah Nang
pulanglah nang
jangan dolanan sama si kuncung
si kuncung memang nakal
nanti bajumu kotor lagi
disirami air selokan

pulanglah nang
nanti kamu manangis lagi
jangan dolanan sama anaknya pak kerto
si bejo memang mbeling
kukunya hitam panjang-panjang
kalau makan tidak cuci tangan
nanti kamu ketularan cacingan

pulanglah nang
kamu kan punya mobil-mobilan
kapal terbang bikinan taiwan
senapan atom bikinan jepang
kamu kan punya robot yang bisa jalan sendiri

pulanglah nang
nanti kamu digebugi mamimu lagi
kamu pasti belum tidur siang

pulanglah nang
jangan dolanan sama anaknya mbok sukiyem
mbok sukiyem memang keterlaluan
si slamet sudah besar tapi belum disekolahkan

pulanglah nang
pasti papimu marah lagi
kamu pasti belum bikin PR
belajar yang rajin
biar nanti jadi dokter

Solo, september 86

Monumen Bambu Runcing
monumen bambu runcing
di tengah kota
menuding dan berteriak merdeka
di kakinya tak jemu juga
pedagang kaki lima berderet-deret
walau berulang-ulang
dihalau petugas ketertiban

semarang, 1 maret 86

Riwayat
seperti tanah lempung
pinggir kampung
masa laluku kuaduk-aduk
kubikin bentuk-bentuk
patung peringatan

berkali-kali
kuhancurkan
kubentuk lagi
kuhancurkan
kubentuk lagi
patungku tak jadi-jadi

aku ingin sempurna
patungku tak jadi-jadi

lihat!
diriku makin belepotan
dalam penciptaan

kalangan, oktober 87

Suara Dari Rumah-Rumah Miring
di sini kamu bisa menikmati cicit tikus
di dalam rumah miring ini
kami mencium selokan dan sampan
bagi kami setiap hari adalah kebisingan
di sini kami berdesak-desakan dan berkeringat
bersama tumpukan gombal-gombal
dan piring-piring
di sini kami bersetubuh dan melahirkan
anka-anak kami

di dalam rumah miring ini
kami melihat matahari menyelinap
dari atap ke atap
meloncati selokan
seperti pencuri

radio dari segenap penjuru
tak henti-hentinya membujuk kami
merampas waktu kami dengan tawaran-tawaran
sandiwara obat-obatan
dan berita-berita yang meragukan

kami bermimpi punya rumah untuk anak-anak
tapi bersama hari-hari pengap yang menggelinding
kami harus angkat kaki
karena kami adalah gelandangan

solo, oktober 87

Catatan Malam
anjing nyalak
lampuku padam
aku nelentang
sendirian
kepala di bantal
pikiran menerawang
membayang pernikahan
(pacarku buruh harganya tak lebih dua ratus rupiah per jam)
kukibaskan pikiran tadi dalam gelap makin pekat

aku ini penyair miskin
tapi kekasihku cinta

cinta menuntun kami ke masa depan

solo-kalangan, 23 februari 88

Nyanyian Akar Rumput
jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang

kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!

juli 1988

Catatan
udara AC asing di tubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual terkemuka
tetapi harganya
Ooo.. aku ternganga

musik stereo mengitariku
penjaga stand cantik-cantik
sandal jepit dan ubin mengkilat
betapa jauh jarak kami

uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat 2 buku
untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu

gemerlap toko-toko di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu

solo, 87-88

Ucapkan Kata-Katamu
jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan
apa maumu terampas

kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput

atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian

jka kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu

jika kau menghamba pada ketakutan
kita akan memperpanjang barisan perbudakan

kemasan-kentingan-sorogenen

Sajak Bapak Tua
bapak tua
kulitnya coklat dibakar matahari kota
jidatnya berlipat-lipat seperti sobekan luka

pipinya gosong disapu angin panas
tenaganya dikuras
di jalan raya siang tadi

sekarang bapak mendengkur

dan ketika bayanga esok pagi datang
di dalam kepalaku
bis tingkat itu tiba-tiba berubah
jadi ikan kakap raksasa
becak-becak jadi ikan teri
yang tak berdaya

solo, juni 1987

Sajak Bagong
bagong namanya
tantanglah berkelahi
kepalamu pasti dikepruk batu
bawalah whisky
bahumu pasti ditepuk-tepuk gembira
ajaklah omong
tapi jangan khotbah
ia akan kentut

bagong namanya
malam begadang
subuh tidur bangun siang
sore parkir untuk makan
awas jangan ngebut di depan matanya
engkau bisa dipukuli
lalu ditinggal pergi

ya, ya.. bagong namanya
pemilu kemarin besar jasanya
bagong ya bangong
tapi bagong sudah mati
pada suatu pagi
mayatnya ditemukan orang
di tepi rel kereta api
setahun yang lalu
ya, ya.. setahun yang lalu

Sajak Ibu
ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
ibu akan marah besar
bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
ketabahan ibuku
mengubah rasa sayur murah
jadi sedap

ibu menangis ketika aku mendapat susah
ibu menangis kerika aku bahagia
ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
ibu menangis ketika adikku keluar penjara

ibu adalah hati yang rela menerima
selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun
kasih sayang ibu
adalah kilau sinar kegaiban tuhan
membangkitkan haru insan

dengan kebajikan
ibu mengenalkan aku kepada tuhan

solo, 1986

Sajak Kepada Bung Dadi
ini tanahmu juga
rumah-rumah yang berdesakan
manusia dan nestapa
kampung halaman gadis-gadis muda
buruh-buruh berangkat pagi pulang sore
dengan gaji tak pantas
kampung orang-orang kecil
yang dibikin bingung
oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan
dibikin tunduk mengangguk
bungkuk

ini tanah airmu
di sini kita bukan turis

solo-sorogenen, malam pemilu 87

Catatan 88
saban malam
dendam dipendam
protes diam-diam
dibungkus gurauan

saban malam
menyanyi menyabarkan diri
bau tembakau dan keringat di badan
campur aduk dengan kegelisahan

saban malam
mencoba bertahan menghadapi kebosanan
menegakkan diri dengan harapan-harapan
dan senyum rawan

saban malam
rencana-rencana menumpuk jadi kuburan

solo-sorogenen, 1 september 88

Jalan Slamet Riyadi Solo
dulu kanan dan kiri jalan ini
pohon-pohon asam besar melulu
saban lebaran dengan teman sekampung
jalan berombongan
ke taman sriwedari nonton gajah

banyak yang berubah kini
ada holland bakery
ada diskotik ada taksi
gajahnya juga sudah dipindah
loteng-loteng arsitektur cina
kepangkas jadi gedung tegak lurus

hanya kereta api itu
masih hitam legam
dan terus mengerang
memberi peringatan pak-pak becak
yang nekat potong jalan
"hei hati hati
cepat menepi ada polisi
banmu digembos lagi nanti!"

solo, mei-juni 1991

Batas Panggung
kepada para pelaku
ini adalah daerah kekuasaan kami
jangan lewati batas ini
jangan campuri apa yang terjadi di sini
karena kalian penonton
kalian adalah orang luar
jangan rubah cerita yang telah kami susun
jangan belokkan jalan cerita yang telah kami rencanakan
karena kalian adalah penonton
kalain adalah orang luar
kalian harus diam

panggung seluas ini hanya untuk kami
apa yagn terjadi d sini
jangan ditawar-tawar lagi
panggung seluas ini hanya untuk kami
jangan coba bawa pertanyaan-pertanyaan berbahaya
ke dalam permainan ini
panggung seluas ini hanya untuk kami
kalian harus bayar kami
untuk membiayai apa yang kami kerjakan di sini

biarkan kami menjalankan kekuasaan kami
tontonlah
tempatmu di situ

solo, 21 november 91

Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun
panas campur debu
terbawa angin ke mana-mana

koran hari ini memberitakan
kedungombo menyusut kekeringan
korban pembangunan dam
muncul kembali ke permukaan
tanah-tanah bengkah
pohon-pohon besar malang-melintang
makam-makam bangkit dari ingatan
mereka yang dulu diam

kali ini
cerita itu siapa akan membantah
dasar waduk ini dulu dusun rumah-rumah

waktu juga yang menyingkap
retorika penguasa
walau senjata ditodongkan kepadamu
walau sepatu di atas kepalamu
di atas kepalaku
di atas kepala kita

ceritakanlah ini kepada siapa pun
sebab cerita ini belum tamat

solo, 30 agustus 91

Tetangga Sebelahku
tetangga sebelahku
pintar bikin suling bambu
dan memainkan banyak lagu

tetangga sebelahku
kerap pinjam gitar
nyanyi sama anak-anaknya

kuping sebelahnya rusak
dipopor senapan

tetangga sebelahku
hidup bagai dalam benteng
melongok-longok selalu
membaca bahaya

tetangga sebelahku
diterror masa lalu

kalangan-solo, november 1991

Hujan
mendung hitam tebal
masukkan itu jemuran
dan bantal-bantal
periksa lagi genting-genting
barangkali bocornya pindah

udara gerah
ruangan gelap
listrik tak nyala
mana anak kita?

hujan akan lebat lagi nampaknanya
semoga tanpa angin keras

burung-burung parkit itu
masih berkicau juga dalam kandangnya
burung-burung parkit itu
apakah juga pingin punya rumah sendiri
seperti kami?

kalangan-solo, 25 november 91

Lingkungan Kita Si Mulut Besar
lingkungan kita si mulut besar
dihuni lintah-lintah
yang kenyang menghisap darah keringat tetangga
dan anjing-anjing yang taat beribadah
menyingkiri para panganggur
yang mabuk minuman murahan

lingkungan kita si mulut besar
raksasa yang membisu
yang anak-anaknya terus dirampok
dan dihibur film-film kartun amerika
perempuannya disetor
ke mesin-mesin industri
yang membayar murah

lingkungan kita si mulut besar
sakit perut dan terus berak
mencret oli dan logam
busa dan plastik
dan zat-zat pewarna yang merangsang
menggerogoti tenggorokan bocah-bocah
yang mengulum es
limapuluh perak

kampung kalangan-solo, desember 1991

Megatruh Solidaritas
akulah bocah cilik itu
kini aku datang kepada dirimu
akan kuceritakan masa kanak-kanakmu

akulah bocah cilik itu
yang tak berani pulang
karena mencuri uang simbok
untuk beli benang layang-layang

akulah bocah cilik itu
yang menjual gelang simbok
dan ludes dalam permainan dadu

akulah bocah cilik kurus itu
yang tak pernah menang bila berkelahi
yang selalu menangis bila bermain sepak-sepong
aku adalah salah seorang dari bocah-bocah kucel
yang mengoreki tumpukan sampah
mencari sisa kacang atom
dan sisa moto buangan pabrik

akulah bocah bengal itu
yang kelayapan di tengah arena sekaten
nyrobot brondong dan celengan
dan menangis di tengah jalan
karena tak bisa pulang

akulah bocah cilik itu
yang ramai-ramai rebutan kulit durian
dan digigit anjing ketika nonton telepisi
di rumah Bah Sabun

ya engkaulah bocah cilik itu
sekarang umurku dua puluh empat
ya akulah bocah cilik itu
sekarang aku datang kepada dirimu
karena kudengar kabar
seorang kawan kita mati terkapar
mati ditembak mayatnya dibuang
kepalanya koyak
darahnya mengental
dalam selokan

solo, 31 januari 1987

Catatan Suram
kucing hitam jalan pelan
meloncat turun dari atap
tiga orang muncul dalam gelap
sembunyi menggenggam besi

kucing hitam jalan pelan-pelan
diikuti bayang-bayang
ketika sampai di mulut gang
tiga orang menggeram
melepaskan pukulan

bulan disaput awan meremang
saksikan perayaan kemiskinan
daging kucing pindah
ke perut orang!

solo, 1987

Gumam Sehari-hari
di ujung sana ada pabrik roti
kami beli yang remah-remah
karena murah
di ujung sana ada tempat penyembelihan sapi
dan kami kebagian bau
kotoran air selokan dan tai
di ujung sana ada perusahaan daging abon
setiap pagi kami beli kuahnya
dimasak campur sayur

di pinggir jalan
berdiri toko-toko baru
dan macam-macam bangunan
kampung kami di belakangnya
riuh dan berjubel
seperti kutu kere kumal
terus berbiak!
membengkak tak tercegah!

jagalan, kalangan solo, 29 januari 1989

Catatan Hari Ini
aku nganggur lagi

semalam ibu tidur di kursi
jam dua lebih aku menulis puisi
aku duduk menghadap meja
ibu kelap-kelip matanya ngitung utang

jam enam sore:
bapak pulang kerja
setelah makan sepiring
lalu mandi tanpa sabun

tadi siang ibu tanya padaku:
kapan ada uang?

jam setengah tujuh malam
aku berangkat latihan teater
apakah seni bisa memperbaiki hidup?

solo, juni 86

Reportase dari Puskesmas
barangkali karena ikan laut yang kumakan ya
barangkali ikan laut. seminggu ini
tubuhku gatal-gatal ya.. gatal-gatal
karena itu dengan lima ratus rupiah aku daftarkan
diri ke loket, ternyata cuma seratus lima puluh
murah sekali oo.. murah sekali! lalu aku menunggu
berdiri. bukan aku saja. tapi berpuluh-puluh
bayi digendong. orang-orang batuk
kursi-kursi tak cukup maka berdirilah aku.
"sakit apa pak?"
aku bertanya kepada seorang baoak berkaos lorek
kurus. bersandal jepit dan yang kemusian mengaku
sebagai penjual kaos celana pakaian rombeng di pasar johar.
"batuk-pilek-pusing-sesek nafas
wah! campur jadi satu nak!"
bayangkan tiga hari menggigil panas tak tidur
ceritanya kepadaku. mendengar cerita lelaki itu
seorang ibu (40 th) menjerit gembira:
"ya ampun rupanya bukan aku saja!"
di ruang tunggu terjejal yang sakit pagi itu
sakit gigi mules mencret demam semua bersatu.
jadi satu. menunggu.
o ya pagi itu seorang tukang kayu sudah tiga hari
tak kerja. kakinya merah bengkak gemetar
"menginjak paku!" katanya, meringis.
puskesmas itu demokratis sekali, pikirku
sakit gigi, sakit mata, mencret, kurapan, demam
tak bisa tidur, semua disuntik dengan obat yang sama.
ini namanya sama rasa sama rasa.
ini namanya setiap warga negara mendapatkan haknya
semua yang sakit diberi obat yang sama!

semarang, 86

Sajak Kota
kota macam apa yang kita bangun
mimpi siapa yang ditanam
di benak rakyat
siapa yang merencanakan

lampu-lampu menyibak
jalan raya dilicinkan
di aspal oleh uang rakyat
motor-motor mulus meluncur
merek-merek iklan
di atap gedung
menyala
berjejer-jejer
toko roti
toko sepatu
berjejer-jejer
salon-salon kecantikan
siapa merencanakan nasib rakyat?

Pemandangan
aku pangling betul
pada ini jalan jendral Sudirman
balaikota makin berubah
sampai Slamet Riyadi-Gladag
reklame rokok berkibar-kibar
spanduk show band
pameran rumah murah
(tapi harganya jutaan!)
kehingaran jalan raya
menyolok mata

Jendral Sudirman
dihiasi slogan-slogan pembangunan
tapi kantor pos belum berubah
bank-bank dan gereja makin megah

di pojok Ronggowarsito
ada aturan baru
becak dilarang terus
(bis kota turah-turah penumpang!)

solo, desember 87

Aku Lebih Suka Dagelan
di radio aku mendengar berita
katanya partisipasi politik rakyat kita sangat menggembirakan
tapi kudengar dari mulut seorang kawanku
dia diinterogasi dipanggil gurunya
karena ikut kampanye PDI
dan di kampungku ibu RT
tak mau menegor sapa warganya
hanya karena ia Golkar
ada juga yang saling bertengkar
padahal rumah mereka bersebelahan
penyebabnya hanya karena mereka berbeda tanda gambar

ada juga kontestan yang nyogok
tukang-tukang becak
akibatnya dalam kampanye banyak
yang mencak-mencak

di radio aku mendengar berita-berita
tapi aku jadi muak karena isinya
kebohongan yang tak mengatakan kenyataan
untunglah warta berita segera bubar
acara yang kutunggu-tunggu datang: dagelan!

solo, 87

Sajak Setumbu Nasi Sepanci Sayur
setumbu nasi
sepanci sayur kobis
renungan hari ini

berjongkok di dapur
angan terbuka seperti layar bioskop
bising mesin
bis kota merdeka berlaga di jalan raya
becak-becak berpeluh melawan jalan raya

siapa pengatur jalan kaki
siapa pemerintah kaki lima
begitu patuh mereka diusir pergi
begitu berani mereka datang kembali

gemuruh kota menggaru benakku

berjongkok di dapur
kompor kering
kayu tempat piring-piring

gedung-gedung beranak pinak

Nyanyian Abang Becak
jika harga minyak mundhak
simbok semakin ajeg berkelahi sama bapak
harga minyak mundhak lombok-lombok akan mundhak
sandang pangan akan mundhak
maka terpaksa tukang-tukang lebon
lintah darat bank plecit tukang kredit harus dilayani

siapa tidak marah bila kebutuhan hidup semakin mendesak
seribu lima ratus uang belanja tertinggi dari bapak untuk simbok
siapa bisa mencukupi
sedangkan kebutuhan hidup semakin mendesak
maka simbok pun mencak-mencak:
"pak-pak anak kita kebacut metu papat lho!"
bayaran sekolahnya anak-anak nunggak lho!"
si Penceng muntah ngising, perutku malah sudah
isi lagi dan suk Selasa Pon ana sumbangan maneh
si Sebloh dadi manten!"

jika BBM kembali menginjak
namun juga masih disebut langkah-langkah kebijaksanaan
maka aku tidak akan lagi memohon pembangunan

nasib
kepadamu duh pangeran duh gusti
sebab nasib adalah permainan kekuasaan

lampu butuh menyala, menyala butuh minyak
perut butuh kenyang, kenyang butuh diisi
namun bapak cuma abang becak!
maka apabila becak pusaka keluarga pulang tanpa membawa uang
simbok akan kembali mengajak berkelahi bapak.

solo, 1984

Jalan
aspal leleh tengah hari
silau aku oleh sinar matahari
gedung-gedung baru berdiri
arsitektur lama satu-satu hilang
dimakan pembangunan

jalan kiri kanan dilebarkan
becak-becak melompong di pinggiran

yang jalan kaki
yang digenjot
yang jalan bensin
semua ingin jalan

solo, 22 november 90

Pasar Malam Sriwedari
beli karcis di loket
pengemis tua muda anak-anak
mengulurkan tangan
masuk arena corong-corong berteriak
udara terang benderang tapi sesak
di stand perusahaan rokok besar
perempuan montok menawarkan dagangannya
di stand jamu tradisionil
kere-kere di depan video berjongkok
nonton silat mandarin

di dalam gedung wayang wong
penonton lima belas orang

ada pedagang kaki lima
yang liar tak berizin
setiap saat bisa diusir keamanan

solo, 28 mei 86

Sajak Tikar Plastik-Tikar Pandan
tikar plastik tikar pandan
kita duduk berhadapan
tikar plastik tkar pandan
lambang dua kekuatan

tikar plastik bikinan pabrik
tikar pandan dianyam tangan
tikar plastik makin mendesak
tikar pandan bertahan

kalian duduk di mana?

solo, april 88

Lumut
dalam gang pikiranku menggumam
seperti kemarin saja
kini los rumah yang dulu kami tempati
jadi bangunan berpagar tembok tinggi

aku jalan lagi
melewati rumah yang pernah disewa
Riyanto buruh kawan sekerjaku
ke mana lagi dia sekeluarga
rumah itu kini gantian di sewa
keluarga mbak Nina

kampung ini tak memiliki tanah lapang lagi
tanah-tanah kosong sudah dibeli orang

dalam gang
setengah gelap setengah terang
aku menemukan perumpamaan:
kita ini lumut
menempel di tembok-tembok bangunan
berkembang di pingir-pinggir selokan
di musim kemarau kering
diterjang banjir
tetap hidup

kalau keadaan berubah
perumpamaan boleh berubah

menurutmu sendiri
kita ini siapa?

kalangan solo, 8 februari 91

Tanah
tanah mestinya di bagi-bagi
jika cuma segelintir orang
yang menguasai
bagaimana hari esok kamu tani

tanah mestinya ditanami
sebab hidup tidak hanya hari ini
jika sawah diratakan
rimbun semak pohon dirubuhkan
apa yang kita harap
dari cerobong asap besi

hari ini aku mimpi buruk lagi
seekor burung kecil menanti induknya
di dalam sarangnya yang gemeretak
dimakan sapi

1989-solo

Sajak Tapi Sayang
kembang dari pinggir jalan
kembang yang tumbuh di tembok
tembok selokan
kupindah kutanam di halaman depan
anakku senang bojoku senang
tapi sayang

bojoku ingin nanam lombok
anakku ingin kolam ikan
tapi sayang

setelah sewa rumah habis
kami harus pergi
terus cari sewa lagi
terus cari sewa lagi

alamat rumah kami punya
tapi sayang
kamu butuh tanah

25 januari 91 - solo

Gunungbatu
gunungbatu
desa yang melahirkan laki-laki
kuli-kuli perkebunan
seharian memikul kerja
setiap pagi makin bungkuk
dijaga mandor dan traktor
delapan ratus gaji sehari
di rumah ditunggu
mulut perut anak istri

gunungbatu
desa yang melahirkan laki-laki
pencuri-pencuri
menembak binatang di hutan lindung
mengambil telur penyu
di pantai terlarang
demi piring nasi
kehidupan sehari-hari

gunungbatu
desa terpencil jawa barat
dipagari hutan
dibtasi pantai-pantai cantik
ujung genteng, cibuaya, pangumbahan
sulit transportasi
-jakarta dekat-
sulit komunikasi

sejarah gunungbatu
sejarah kuli-kuli
sejak kolonial
sampai republik merdeka

sejarah gunungbatu
sejarah kuli-kuli
gunungbatu
masih di tanah air ini

november 87

Suti
Suti tidak kerja lagi
pucat ia duduk dekat amben-nya
Suti di rumah saja
tidak ke pabrik tidak ke mana-mana
Suti tidak ke rumah sakit
batuknya memburu
dahaknya berdarah
tak ada biaya

Suti kusut-masai
di benaknya menggelegar suara mesin
kuyu matanya membayangkan
buruh-buruh yang berangkat pagi
pulang petang
hidup pas-pasan
gaji kurang
dicekik kebutuhan
Suti meraba wajahnya sendiri
tubuhnya makin susut saja
makin kurus menonjol tulang pipinya
loyo tenaganya
bertahun-tahun dihisap kerja

Suti batuk-batuk lagi
ia ingat kawannya
Sri yang mati
karena rusak paru-parunya

Suti meludah
dan lagi-lagi darah

Suti memejamkan mata
suara mesin kembali menggemuruh
bayangan kawannya bermunculan
Suti menggelengkan kepala
tahu mereka dibayar murah

Suti meludah
dan lagi-lagi darah

Suti merenungi resep dokter
tak ada uang
tak ada obat

solo, 27 februari 88

Apa Yang Berharga Dari Puisiku
apa yang berharga dari puisiku
kalau adikku tak berangkat sekolah
karena belum membayar SPP

apa yang berharga dari puisiku
kalau becak bapakku tiba-tiba rusak
jika nasi harus dibeli dengan uang
jika kami harus makan
dan jika yang dimakan tidak ada?

apa yang berharga dari puisiku
kalau bapak bertengkara dengan ibu
ibu menyalahkan bapak
padahal becak-becak terdesak oleh bis kota
kalau bis kota lebih murah siapa yang salah?

apa yang berharga dari puisiku
kalau ibu dijiret utang
kalau tetangga dijiret utang?

apa yang berharga dari puisiku
kalau kami terdesak mendirikan rumah
di tanah-tanah pinggir selokan
sementara harga tanah semakin mahal
kami tak mampu membeli
salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah?

apa yang berharga dari puisiku
kalau orang sakit mati di rumah
karena rumah sakit yang mahal

apa yang berharga dari puisiku
kalau yang kutulis makan waktu berbulan-bulan
apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan yang menjiret kami?

apa yang telah kuberikan
kalau penonton baca puisi memberi keplokan
apap yang telah kuberikan
apa yang telah kuberikan?

semarang, 6 maret 86

Mendongkel Orang-Orang Pintar
kudongkel keluar
orang-orang pintar
dari dalam kepalaku

aku tak tergetar lagi
oleh mulut-mulut orang pintar
yang bersemangat ketika berbicara

dunia bergerak bukan karena omongan

para pembicara dalam ruang seminar
yang ucapannya dimuat
di halaman surat kabar
mungkin pembaca terkagum-kagum
tapi dunia tak bergerak
setelah surat kabar itu dilipat

Kampung halaman solo, 8 september 1993

Kota ini Milik Kalian
di belakang gedung-gedung tinggi
kalian boleh tinggal
kalian bebas tidur di mana-mana kapan saja
kalian bebas bangun sewaktu kalian mau
jika kedinginan karena gerimis atau hujan
kalian bisa mencari hangat
di sana ada restoran
kalian bisa tidur dekat kompor penggorengan
bakmi ayam dan babi
denting garpu dan sepatu mengkilap
di samping sedan-sedan dan mobil-mobil bikinan jepang

kalian bisa mandi kapan saja
sungai itu milik kalian
kalian bisa cuci badan dengan limbah-limbah industri

apa belum cukup terang benderang itu
lampu merkuri taman
apa belum cukup nyaman tidur di bawah langit kawan

kota ini milik kalian
kecuali gedung-gedung tembok pagar besi itu; jangan!

Gentong Kosong
parit susut
tanah kerontang
langit mengkilau perak
matahari menggosongkan pipi

gentong kosong
beras segelas cuma
masak apa kita hari ini?

pakis-pakis hijau
bawang putih dan garam
kepadamu kami berterimakasih
atas jawabanmu
pada sang lapar hari ini

gentong kosong
airmu kering
ciduk jatuh bergelontang
minum apa hari ini?

sungai-sungai pinggir hutan
yang menolong di panas terik
dan kalian pucuk-pucuk muda daun pohon karet
yang mendidih bersama ikan teri di panci
jadilah tenaga hidup kami hari ini
dengan iris-irisan ubi keladi
yang digoreng dengan minyak
persediaan terakhir kami

gentong kosong
botol kosong
marilah bernyanyi
merayakan hidup ini

6 januari 97

Kucing, Ikan Asin dan Aku
seekor kucing kurus
menggondol ikan asin
laukku untuk siang ini

aku meloncat
kuraih pisau
biar kubacok dia
biar mampus!

ia tak lari
tapi mendongak
menatapku
tajam

mendadak
lunglai tanganku
-aku melihat diriku sendiri

lalu kami berbagi
kuberi ia kepalanya
(batal nyawa melayang)
aku hidup
ia hidup
kami sama-sama makan

14 oktober 1996

Nonton Harga
ayo keluar keliling kota
tak perlu ongkos tak perlu biaya
masuk toko perbelanjaan tingkat lima
tak beli tak apa
lihat-lihat saja

kalau pingin durian
apel-pisang-rambutan-anggur
ayo..
kita bisa mencium baunya
mengumbar hidung cuma-cuma
tak perlu ongkos tak perlu biaya
di kota kita
buah macam apa
asal mana saja
ada

kalau pingin lihat orang cantik
di kota kita banyak gedung bioskop
kita bisa nonton posternya
atau ke diskotik
di depan pintu
kau boleh mengumbar telinga cuma-cuma
mendengarkan detak musik
denting botol
lengking dan tawa
bisa juga kau nikmati
aroma minyak wangi luar negeri
cuma-cuma
aromanya saja

ayo..
kita keliling kota
hari ini ada peresmian hotel baru
berbintang lima
dibuka pejabat tinggi
dihadiri artis-artis ternama ibukota
lihat
mabil para tamu berderet-deret
satu kilometer panjangnya

kota kita memang makin megah dan kaya

tapi hari sudah malam
ayo kita pulang
ke rumah kontrakan
sebelum kehabisan kendaraan

ayo kita pulang
ke rumah kontrakan
tidur berderet-deret
seperti ikan tangkapan
siap dijual di pelelangan

besok pagi
kita ke pabrik
kembali bekerja
sarapan nasi bungkus
ngutang
seperti biasa

18 november 96

Derita Sudah Naik Seleher
kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku menjadi gelap

kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras

kau paksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak

darah sudah kau teteskan
dari bibirku
luka sudah kau bilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kau rampas
dari biji mataku

derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas

17 november 96

Puisi Sikap
maunya mulutmu bicara terus
tapi telingamu tak mau mendengar

maumu aku ini jadi pendengar terus
bisu

kamu memang punya tank
tapi salah besar kamu
kalau karena itu
aku lantas manut

andai benar
ada kehidupan lagi nanti
setelah kehidupan ini
maka akan kuceritakan kepada semua mahkluk
bahwa sepanjang umurku dulu
telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku
dan kuhabiskan hidupku
untuk menentangmu
hei penguasa zalim

24 januari 97

Hari Ini Aku Akan Bersiul-siul
pada hari coblosan nanti
aku akan masuk ke dapur
akan kujumlah gelas dan sendokku
apakah jumlahnya bertambah
setelah pemilu bubar?

pemilu oo.. pilu pilu

bila hari coblosan tiba nanti
aku tak akan pergi kemana-mana
aku ingin di rumah saja

mengisi jambangan
atau mananak nasi

pemilu oo.. pilu pilu

nanti akan kuceritakan kepadamu
apakah jadi penuh karung beras
minyak tanah
gula
atau bumbu masak
setelah suaramu dihitung
dan pesta demokrasi dinyatakan selesai
nanti akan kuceritakan kepadamu

pemilu oo.. pilu pilu

bila tiba harinya
hari coblosan
aku tak akan ikut berbondong-bondong
ke tempat pemungutan suara
aku tidak akan datang
aku tidak akan menyerahkan suaraku
aku tidak akan ikutan masuk
ke dalam kotak suara itu

pemilu oo.. pilu pilu

aku akan bersiul-siul
memproklamasikan kemerdekaanku

aku akan mandi
dan bernyanyi sekeras-kerasnya
pemilu oo.. pilu pilu

hari itu aku akan mengibarkan hakku
tinggi tinggi
akan kurayakan dengan nasi hangat
sambel bawang dan ikan asin

pemilu oo.. pilu pilu
sambel bawang dan ikan asin

10 november 96

Merontokkan Pidato
bermingu-minggu ratusan jam
aku dipaksa
akrab dengan sudut-sudut kamar
lobang-lobang udara
lalat semut dan kecoa

tapi catatlah
mereka gagal memaksaku

aku tak akan mengakui kesalahanku
karena berpikir merdeka bukanlah kesalahan
bukan dosa bukan aib bukan cacat
yang harus disembunyikan

kubaca koran
kucari apa yang tidak tertulis
kutonton televisi
kulihat apa yang tidak diperlihatkan

kukibas-kibaskan pidatomu itu
dalam kepalaku hingga rontok
maka terang benderanglah
:ucapan penguasa selalu dibenarkan
laras senapan!

tapi dengarlah
aku tak akan minta ampun
pada kemerdekaan ini

11 september 96

Puisi Menolak Patuh
walau penguasa menyatakan keadaan darurat
dan memberlakukan jam malam
kegembiraanku tak akan berubah
seperti kupu-kupu
sayapnya tetap indah
meski air kali keruh

pertarungan para jendral
tak ada sangkut pautnya
dengan kebahagiaanku
seperti cuaca yang kacau
hujan angin kencang serta terik panas
tidak akan mempersempit atau memperluas langit

lapar tetap lapar
tentara di jalan-jalan raya
pidato kenegaraan atau siaran pemerintah
tentang kenaikkan pendapatan rakyat
tidak akan mengubah lapar

dan terbitnya kata-kata dalam diriku
tak bisa dicegah
bagaimana kau akan membungkamku?
penjara sekalipun
tak bakal mampu
mendidikku jadi patuh

17 januari 97
Volume II Sanggar Satu Bumi



Kenali Tiga Setan

Cipt : Tejo Priyono


kenallilah tiga setan
setan penindas rakyat!
kenallilah tiga setan
setan setan penghisap rakyat!


kenallilah tiga setan
setan penindas rakyat!
kenallilah tiga setan
setan setan penghisap rakyat!!


# yang pertama : Kapitalisme!
kemakmuran milik segelintir orang
yang kedua : Militerisme!
bersenjata siap mengamankan modal
yang ketiga : Sisa feodal!
watak kolot memasung demokrasi



Tikar Plastik Tikar Pandan
Cipt : Wiji Thukul


tikar plastik … tikar pandan
lambang dua kekuatan
tikar plastik … tikar pandan
kita duduk berhadapan


tikar plastik bikinan pabrik
tikar pandan dianyam tangan
tikar plastik terus mendesak
tikar pandan tetap bertahan


kalian duduk dimana??

Bumi Badega
Yayak Kencrit Yatmaka


kudengar suara
tanah terluka
bumi ibunda
menjerit lara


bumi badega
nyata dhina
kaki kaki busuk
jiwa yang nista


ayolah kawan
apikan jiwa
si pemakan tanah
usirlah musnah


yakinlah benar
kita kan sadar
bumi badega
kita empunya


BENAR
Lyrik: Andi Munadjat / Lagu : AJ Susmana


benar kami hanya rakyat jelata
tapi negeri ini kami punya
hak kami tak bisa kau rampas


benar kami hanya buruh biasa
tapi kami punyapun harga diri


tanpa kami ….


# pabrik adalah rumah rumah hantu
mesin adalah rongsokan tak berguna
dan modal hanya sejumlah angka
sebab uang bukanlah babi yang –
bisa beranak



KE SELATAN (.. ??)
Yayak Kencrit Yatmaka


keselatan
aku mencari
bersama
gelombang
aku menari


aku memetik
aku menunggu
bunga merah untuk ibunda


kesawah ladang
aku mencari
bersama petani aku mencari


air tanah
batu gunung
dan ilmu .. rumput padi



NYANYIAN AKAR RUMPUT
Lyrik: Widji Thukul / Lagu: A J Susmana


jalan raya dilebarkan
kami terus terusir …
kami mendirikan kampung
kami terus tergusur
menempel ditembok tembok
tercabut!
dan terbuang!


kami rumput
butuh tanah … hai dengarlah
ayo gabung ke kami
biar jadi mimpi buruk presiden!



UNTUK INDONESIA
Cipt: Jhonsonny Tobing


untuk indonesia ..
kami sembahkan
sebuah lagu penuh ..
panggilan bakti
demi demokrasi rakyat negeri
untuk indonesia ..
kami sembahkan


# walau rintangan ..
slalu menghadang
namun semangat
tetap tak mungkin padam


untuk indonesia ..
kami tumpahkan
keringat dan darah
‘tuk membebaskan
rakyat yang tertindas
dan sengsara

untuk indonesia
kami trus maju!



BERDERAP (Cipt: ..??)


parade murka orang orang gila
parade murka para penguasa
membabi buta
membabat lawan lawannya
tengah siang bolong di jum’at yang suci
padri muda tersungkur di..
pinggiran jalan
mereka dihadang dengan moncong senapan
mereka di lumpuhkan


berderap!
kami datang dari belakang
berderap kami datang ‘tuk meneruskan..
perjuangan!..
Antologi Puisi Buruh - JAKER



Editor:
Suroso & Tejo Priyono


Tata Letak:
Kuncoro Adi Broto


Gambar Sampul:
Kartun Perlawanan, Pensil warna diatas kertas 30x 40 cm



Penerbit:
Sekretaris Bidang Seni Sastra Jaker
Http://jakker.blogspot.com/



Cetakan Pertama: September 2006



Distributor:
Doea Lentera, JLn Cikoko Barat 1 No 11
Rt.007/03, Kel Cikoko – Pancoran Jakarta



Pengutipan untuk keperluan resensi dan keilmuan dapat
dilakukan setelah memberitahukan terlebih dahulu pada
Sekretaris Bidang Seni Sastra Jaker



Memperbanyak atau reproduksi buku ini dalam bentuk apapun untuk kepentingan komersial tidak
dibenarkan kecuali untuk perjuangan meningkatkan kesadaran berpolitik kaum buruh Indonesia




Daftar Isi





1 . Sandal Jepitku ……………………………………………..........
2 . Upah …………………………………………………………….
3 . Keadilan ………………………………………………………...
4 . Upacara di Pabrik ...................................................
5 . Sakia …………………………………………………………....
6 . Proses ……………………………………………………...........
7 . Bermalam di Pabrik ………………………………..............
8 . Buruh Kontrak …………………………………………...........
9 . Pagi Menjemput Lelahku …………………………...............
10 . Drop Out ………………………………………………….......
11. Puisi Buat Kawanku Di Villa Tugu 146 .........................
12 . Berjuanglah Buruh ……………………………......................
13 . Perjuangan Tanpa Batas ……………………….....................
14 . Mawar Di Tepi Jurang .............................................................
15 . Ibu

............................................................................................
16 . Kota Kelahiranku ............................................................................................
17 . Buruh ………………………………………………………...
18 . Keadilan Yang Buta …………………………….....................
19 . Rindu Kami ……………………………………………….....
20 . Sama Yang Berbeda ………………………………................
21 . Aku Menuntut Perubahan …………………….....................
22 . Satukanlah …………………………………………….........
23 . Kepada Para Pejuang Buruh ……………….........................
24 . Perjuangan …………………………………………….........
25 . Kita Akan Balas ………………………………………..........
26 . Seorang Buruh Masuk Toko …………….............................
27 . Bukan Kata Baru …………………………………...............
28. Satu Mimpi Satu Barisan ………………………..................
29 . Makin Terang Bagi Kami …………………….....................
30 . Leuwigajah Masih Haus ……………………………............
31 . E d a n ………………………………………………………
32 . Bukan Di Mulut Politikus Bukan Di Meja SPSI ..................
33 . Perjuangan ……………………………………………........
34 . Kehidupan ………………………………………………....
35 . Tujuh Diam ………………………………………………..
36 . Kebangkitan …………………………………………….....
37 . Dunia Baru ……………………………………………........
38 . Derita Sang Anak ………………………………..................
39 . Aku ………………………………………………………...
40 . Bukan Mimpiku ……………………………………….......






KATA PENGANTAR
Antologi Puisi Buruh - JAKER



Salam Budaya Pembebasan


Jaker pertama kali terbentuk pada tahun 1993 oleh nama-nama seperti; Widji Thukul, Moelyono, Semsar Siahaan, Raharjo Waluyo Djati, Hilmar Farid, Linda Christanty dan masih banyak lagi. Jaringan kerja kebudayaan ini “ada” untuk menjawab tuntutan dialektika sejarah sebagai counter dari kesenian yang dikendarai oleh neokolonialis dalam penetrasi budaya melalui dewan-dewan kesenian milik rezim ORBA kala itu, serta seniman-seniman “besar” kubu humanisme universal untuk kepentingan penanaman modal kapitalis-imperialis amerika dan negeri - negeri imperialis lainnya.


Pada peristiwa “Sabtu Kelabu” 27 Juli 1996, JAKKER turut menjadi kambing hitam. Karena kondisi tersebut membuat JAKKER terus bergerak dari bawah tanah dengan menyuarakan tuntutan kesenian yang anti militerisme dan anti humanisme universal dengan bendera Graphic Guerilla menggunakan media poster dan selebaran.


Setelah peristiwa Mei 1998, Soeharto lengser, JAKER kembali menunjukkan keberadaannya secara legal dengan mengadakan berbagai kegiatan kesenian yang berpihak kepada perjuangan rakyat untuk meluruskan budaya demokrasi di bumi tercinta ini. Disamping itu juga terlibat di berbagai aksi dengan tuntutan-tuntutan reformasi maupun isu-isu nasional lainnya.


Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) sebagai organisasi kebudayaan berkepentingan menjadi- kan seni agar massal, agar kesenian bisa jadi media mengekspresikan permasalahan yang ada di sekitar kita, agar kesenian tak melulu jadi sekedar hiburan, agar para seniman / para pekerja seni juga terlibat aktif / bersolidaritas dalam kerja - kerja perjuangan rakyat. Tapi untuk bisa mewujudkan agar seni menjadi massal, agar lahir para pekerja seni pro rakyat, maka kita perlu membangun atmosfir berkesenian/berkebudayaan dimana kita tinggal, membangun lingkar - lingkar kebudayaan hingga yang terkecil; sanggar/ komunitas seni/budaya di perkampungan buruh, petani dan massa- rakyat yang lain yang selama ini tak terjamah oleh dewan-dewan kebudayaan yang berkedudukan di pusat kota; hingga sulit diakses dan tak menjamah kebutuhan kekaryaan pekerja seni lapisan bawah. Seperti berpuisi contohnya, baiknya bukan hanya jadi milik para seniman jebolan sekolah seni dan manusia – manusia populer macam Rieke Diah Pitaloka, Tamara Bleszinsky, Clara Shinta dsb, tapi harus juga jadi milik buruh yang sehari - hari terbeban kerja target di pabrik. Kaum buruh adalah pemilik waktu luang yang minim, hari - hari dihisap kerja, bahkan lembur hingga larut, kadang harus masuk pada hari libur, maka untuk keluyuran (dengan perut kenyang) mencari ide lalu menggodok– mengendapkan hingga jadi karya, tentu jadi satu yang sulit dilakukan. Apalagi di situasi sekarang dimana UUK No.13/2003 (plus rencana revisinya) yang mengatur tentang ketenagakerjaan (bila benar- benar akan diterapkan) sangat tidak berpihak kepada kaum buruh. Buruh dihadapkan pada kenyataan yang buruk seperti; dihapuskannya kesejahteraan, kesehatan, keselamatan kerja, pemberlakuan sistem kontrak, pemberlakuan Out Sorcing, dihapusnya cuti panjang – istirahat panjang dsb.


Tapi bagaimanapun, ditengah kondisi mengenaskan seperti itu, plus aksi-aksi berlawan sebagai usaha untuk membebaskannya, berpuisi (atau bentuk kesenian yang lain) tetap harus diperkenalkan dan diajarkan hingga bisa jadi budaya di kehidupan kaum buruh, dan bisa berekspresi seperti halnya seniman - seniman disebut diatas.


Buku Antologi Puisi Buruh yang diterbitkan hasil kerjasama antara Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat – JAKER dan Lembaga Sastra Pembebasan ini memang dimaksudkan untuk mendokumentasi, memassallkan sastra agar jadi bagian dari kehidupan buruh. Di buku ini, buruh dari beberapa pabrik yang ada di KBN Cakung maupun diluar KBN seperti di Tanjung Priok (ditambah beberapa puisi yang pernah dimuat di Kolom Budaya Seruan Buruh; terbitan milik Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia - FNPBI) menulis kisah - kisah hidupnya lewat puisi. Tentu saja persoalan - persoalan yang mereka hadapi di pabrik, hingga ungkapan - ungkapan politis yang didapat lewat organisasi atau serikat buruh tempat mereka bergabung sebagai alat perjuangannya. Ini kali ketiga kerjasama antara JAKER dan Lembaga Sastra Pembebasan (setelah sebelumnya di tahun 2004 menjadi panitia bersama dalam pentas puisi di PDS HB Jassin Taman Ismail Marzuki juga membuat event ‘Baca Puisi Sanggar – Sanggar’ di perkampungan buruh pada 19 November 2005).


Demikian, semoga Buku Antologi Puisi Buruh ini berguna bagi anda, dan bolehlah juga ikut meramaikan hiruk – pikuk dunia sastra tanah air. Tidak lupa pula terimakasih saya ucapkan kepada mbak Dita Indah Sari-Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang mendukung penerbitan Antologi Puisi Buruh ini, kepada Heri Latief selaku Pimpinan Lembaga Sastra Pembebasan, Seksi Kebudayaan Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia, kawan – kawan buruh yang telah mengirim karyanya, kawan – kawan gerakan di semua sektor; buruh, petani, mahasiswa, kaum miskin kota yang terus berlawan dan tiada lelah membangun persatuan kekuatan rakyat demi cita – cita kita bersama; mewujudkan Sosialisme dengan mengenyahkan imperialisme dan kaki tangannya yang secara keji telah menggerus habis hak – hak kesejahteraan rakyat Indonesia. Say.. Hello juga saya ucapkan kepada para pekerja seni yang kerap bertemu dan bekerjasama di event – event kebudayaan; Fikar W Eda, Agus Nuramal, Sihar Ramses, mbak Retno Widati, Rahayu Movement, Red Flag, Kepal SPI, GESTAPU serta seluruh jaringan sanggar – komunitas seni budaya yang tidak bisa disebut satu – satu karena keterbatasan ruang. Terimakasih.


Selamat membaca.





“Massalkan Seni
Dengan Berkesenian Bersama;
Buruh, tani, kaum miskin kota dan Rakyat Tertindas Yang Lain”



Jakarta, awal Agustus 2006


Tejo Priyono
pjs Ketua Umum Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat – JAKER





- Cuty -


SANDAL JEPITKU
seperti biasa tanggal 20


aku menerima upah
dan seperti biasa pula tanggal 20
aku membayar sewa rumah
serta arisan
sudah lama sendal rusak
aku ingin menggantinya


dengan langkah penuh semangat
aku menuju kios kecil
di pojok belakang KBN
aku memilih milih sandal, sepatu
aku kaget
dan aku menggerutu:
“mahal sekali”
uangku tak cukup buat beli


aku keluar dengan langkah gontai
dan bertanya dalam hati
kapan aku bisa beli..?


diatas sebuah metromini
24 mei 2005



UPAH
kami tidak minta banyak
kami tidak minta kemewahan
kami hanya ingin hidup layak
inilah keinginan kecilku


kami buruh!
kami adalah roda penggerak ekonomi negara
tapi..
nasibku selalu tertindas
kami jadi budak di negeri sendiri


tenaga
pikiran
umurku
;selalu jadi obyek kepentingan
upah yang kami dapat; terlalu murah


sedangkan kebutuhan hidup terlalu mahal
upahku tidak cukup buat menopang hidup
terus dengan siapa nasib ini kusandarkan??..
tapi…ingat !
kami tidak akan pernah diam
kami akan tetap menuntut
ke…se…jah…teraan



KEADILAN
keadilan tak mungkin kita tunggukawan
jangan pernah takut
untuk menggungkap kebenaran


kebenaran haruslah diungkap
walau sepahit apapun itu
buang rasa takutmu
karena ketakutan
akan menghilangkan akal sehat kita
dan yakini bahwa kita di jalan kebenaran


kawan..
kita ini buruh!
rakyat kecil!


kawan…
buruh sendirilah yang tegakkan kebenaran untuk gapai keadilan
hidup buruh yang haus
akan keadilan!


Jakarta, 4 Januari 2006
__________________________________
Cuty tinggal di Jakarta Utara, bekerja
di PT Golden Continental Kawasan Berikat
Nusantara Cakung, ia juga aktif sebagai
Pengurus Kota Front Nasional Perjuangan
Buruh Indonesia (FNPBI) Jakarta Utara.



- Lami -


UPACARA di PABRIK


setiap hari senin mengingatkanku
waktu aku masih sekolah





tapi upacaraku tidak di tengah lapangan
melainkan di tengah tengah mesin tua
disamping tumpukan baju
diatas lipatan karton
hanya berdiri tegak sempurna
mendengarkan lagu indonesia raya





kuperhatikan kawan kawan
ada yang acuh
ada yang ngantuk
ada yang bersandar
ada juga yang bercanda


hanya aku yang merasa buruh belum merdeka
selama kita masih ditindas di negeri sendiri





Semper, 25 Mei 2005



SAKIA


dengan tergesa gesa
turun dari tangga
dengan teriakan:
“Aima aigo sakia a.. cepat! a..”





tadinya aku menganggap
itu judul lagu saja





diulang lagi
“Sakia export a.. cepat!..”


rasa penasaranku memaksa
bahasamu yang tidak aku mengerti
apa Sakia itu?





setelah aku tahu ternyata
Sakia itu ANJING
dengan geram aku bergumam
setan yang lebih lebih dari setan!





Semper, 24 Mei 2005





PROSES





dari sehelai benang
menjadi gulungan bahan
digudang telah berdiri dan berbaris
seakan antri untuk digelar
dan digambar
lalu potong oleh cating





sewing duduk membungkuk
menunduk pijakan jarum yang lincah
diatas kain dengan kaki menginjak mesin





qiusi memeriksa baju yang sudah jadi
dimana yang bagus dan jelek
hanya dengan menandai tanda gambar panah





finishing aku ambil baju satu persatu
aku congkel congkel benang yang nyelip
aku cubit cubit benang yang pendek
kukupasi sticker angka
kulihati dan kubersihkan
goresan kapur putih





packing beribu ribu karton tersusun tinggi
berbondong bondong karton terangkat





staping masuk kontainer
export membutuhkan proses yang lama
dan waktu yang melelahkan





Jakarta, 3 juni 2005





BERMALAM di PABRIK





sepet mataku memasuki area pabrik
dengan menatap nanar aku melihat
karton karton malang melintang
box kayu dipenuhi tumpukan baju
suara deru mesin
jeritan bunyi lakban
di tambah geretan rolly
membuat suasana semakin panas





dari jauh teriakan dan gemboran pengawas
dengan menggebrak meja
memukulkan obeng ditiang besi
membuatku takut dan gugup





hari mulai petang
tidak terpikirkan kapan kita pulang
hingga keringatpun tidak sempat kita lap


jam 12 malam
buruh buruh mulai terlihat keluar masuk mandi sambil membasuh muka muka yang kusut –
dengan mata sayup karna menahan ngantuk





pagi menjelang siang
pekerjaan yang tidak terkejar
bau keringat dimana mana
karna dari pagi ketemu pagi
kita tidak mandi
dari pagi ketemu pagi
kita tidak gosok gigi


terasa matahari diatas kepala
dengan muka pucat badan gemetar
aku melangkah pulang dengan
menahan lapar tanpa membawa upah





Jakarta, 1 Juni 2005



BURUH KONTRAK


nasib buruh kontrak
waktu kerja yang tidak ditentukan
kapan saja bisa terlempar
kerja tak tenang selalu dihantui PHK masal








aku buruh kontrak
hakku dibedakan dengan karyawan tetap
cuty haid tak kudapat
uang transport tak diberi
aku rajin tetap tersingkir
aku takut semakin terpuruk
aku melawan nasibku terancam
aku diam semakin tertindas





siang malam tenagaku terkuras
bila saat waktunya aku dikeluarkan
inilah kebijakan pemerintahan yang-
membuat buruh semakin terjepit.





Jakarta 9-juni-2005



PAGI MENJEMPUT LELAHKU





lelapku terjaga sang matahari
siang meninggalkan malam
lelahku telah menunggu
tidak siang tidak malam
dipaksa menghamba





di satu tempat..
tempat yang takut
tempat yang terpaksa
tempat tak berani dan melelahkan
rasa takut dan tak berani
yang tidak pernah aku ketahui
yang membuatku harus menghambakan diri..





Jakarta 21-12-2005


_____________________________________
Lami tinggal di Jakarta Utara, bekerja di
PT Myungsung Kawasan Berikat Nusantara
Cakung, ia juga merupakan Koordinator
Sanggar KAPUAS Cakung.





- Atin -


DROP OUT


seminggu yang lalu aku di PHK
seminggu yang lalu aku kehilangan pekerjaan
seminggu sudah aku jadi pengangguran
seminggu sudah aku berpisah
dengan kawan-kawan di pabrik








tapi…
aku tidak menyesal
dengan kenyataan ini
aku harus menatap ke depan
dan hari esok akan kusambut
dengan penuh harap
dan aku akan tetap berjuang
demi menggapai keinginan ku





aksi Katexindo 14-16 mei
mengantarkan aku di phk





Jakarta Utara, 18 juni 2005



PUISI BUAT KAWANKU Di VILLA TUGU 146


kawanku yang manis
kau hindari aku dengan acuhmu
kau palingkan aku dengan romanmu
di saat berpapasan








tetapi……
di belakang kau sempat perhatikan aku
disaat keluar dari tempat bekerja
padahal aku tak pernah punya
yang namanya pikiran kotor ataupun jahat
terhadapmu
juga aku merasa senang
bila aku melihatmu walaupun
sekedar dari jauh





ingin sekali aku akrab
dan jadi kawan ataupun saudara
karna memang kita adalah saudara
kenapa…
karena menurutku
kau seorang yang unik





18 Juni 2005
_____________________________
Atin, ex-PT Karwell KBN Cakung.
Tinggal di Tanjung Priok



- Ika Qodarwati -


BERJUANGLAH BURUH





dimata mereka yang tinggi
rendahlah kamu
diantara yang besar
kecillah kamu
namun janganlah kamu mundur atau takut
walaupun mereka tinggi
ada lagi yang lebih tinggi
walaupun mereka besar
ada lagi yang lebih besar

memeras dan menindas
sudah menjadi kerja mereka





tapi buruh harus beringas
agar mereka susah untuk bernafas
kalau buruh diam jangan harap..
belenggu akan terlepas.





Jakarta, 25 Mei 2005
_________________________________________
Ika Qodarwati tinggal di Tanjung Priok Jakarta
Utara, bekerja di PT Sainath I Pelabuhan 1
Tanjung Priok.





- Vera Astuti -


PERJUANGAN TANPA BATAS
semakin hari langkahmu
semakin mantap
setiap pijakanmu adalah
semangatmu
sinar bola matamu
memancarkan keyakinan


lelah mungkin itu yang kau rasa saat ini
namun kau tak pernah gentar menghadapinya





kau berdiri tegak diatas kerikil kerikil tajam
walau keringat selalu membasahi dahimu
kau tetap yakin dengan pendirianmu





beribu ancaman kau terima
namun tak sedikitpun menggoyahkan hatimu
kau telusuri jalan demi jalan
untuk mencapai tujuanmu





maju..
majulah pahlawanku
lawan..
lawan setiap tangan yang selalu mencambukmu
jangan pernah menyerah menghadapi mereka
dan jangan pernah runtuh meski mereka
akan menggempur barisanmu





Jakarta, 27 Mei 2005
_____________________________________________
Vera Astuti tinggal di Tanjung Priok Jakarta Utara,
selain berkesenian juga sebagai Programmer
di Bimbingan Belajar KUMON.





- Rita Kontriawati –





MAWAR DI TEPI JURANG
kau indah tapi sulit di jangkau
tiap mata yang melihat pasti menyukaimu
semua ingin memilikimu
tapi itu tak mungkin
kau begitu indah berada disana


walau begitu..
tapi kau kadang menyakitkan








duri..
yah duri di tangkaimu
bisa melukai tangan seseorang


mawar di tepi jurang
kau jauh
namun teras begitu dekat





Jakarta, 26 Mei 2005






IBU
kau adalah orang yang kukagumi
tiap kata katamu
adalah butiran mutiara
kau selalu tersenyum dihadapan anakmu
walau aku tahu hatimu terluka





ibu..
dengan apa aku harus
membalas jasamu
kasih sayangmu jadikan aku dewasa
hanya doa yang dapat keberi padamu ibu..





Jakarta, 27 Mei 2005





KOTA KELAHIRANKU
jakarta itulah nama kota kelahiranku
disinilah diriku dilahirkan dan dibesarkan
dikota ini juga aku bekerja
dan kukenali lingkunganku





jakarta penuh dengan hiruk pikuk
kebisingan dan kekerasan
tapi itu semua kurasakan sudah biasa


gedung gedung pencakar langit
tempat tempat hiburan
rumah dan kendaraan mewah
bahkan rumah-rumah kumuh
semuanya tumpah disini





impian indah ingin ke jakarta slalu ada
dalam benak tiap orang yang belum ke jakarta
jakarta walau kau kadang begitu kejam
namun kau tetap kota tempat tinggalku.





Jakarta, 30 Mei 2005
______________________________________
Rita Kontriawati tinggal di Tanjung Priok,
sehari hari ia bekerja di PT Sainath I Pelabuahan I
Tanjung Priok.








- Marhamah -


BURUH
seberapa jauh jarak yang kita tempuh
namun semua akan bertemu kembali
seberapa berat kerjaan yang kita pikul
kalau kita giat pasti akan bisa dilakukan








buruh..
apa sih yang diharapkan dari buruh?
kerja dipaksa
tenaga habis
masa depan suram
mana pernah kita mengeluh dengan keadaan kita





apa yang bisa kita lakukan?
apakah kita akan selamanya akan ditindas
mana keberanian kita
untuk memenangkan hak hak kita


ayo semuanya..
harus berani melawan penindas
hidup buruh!





Jakarta, 4 Juni 2005
_______________________________
Marhamah tinggal di Warakas, bekerja di
PT Karwel Pelabuhan I Tanjung Priok
Jakarta Utara.








KEADILAN YANG BUTA
ketika demo..
tak ada satupun yang membela kita
pengusaha menindas dan menjajah semua buruh
kaum buruh sengsara hingga kini menderita
nasib tak datang dengan jelas
penyelesaian tak kunjung tiba
yang ada hanya derita
luka yang kian membara
buruh terus di injak injak
hak hak kita tak diberikan


kapan.. kapan semua ini akan berakhir?
apakah kita harus menerima
tanpa ada perlawanan dan usaha





ingat kawan..
mari kita bersama sama
tolak penindasan galang kemenangan
karena hanya pada diri kita sendiri
nasib akan berubah
______________________________
Kiriman Retno FNPBI Jawa Tengah.
Diambil dari Kolom Budaya;
Seruan Buruh Edisi XVII,
Januari 2002



- Lina, KOBAR Kapuk Jakarta Utara -


RINDU KAMI
sungguh, buruh selalu bertanya
kapan hari itu tiba?
dimana hari itu
buruh bisa membeli barang hasil karyanya
yang harganya 10 x lipat
melebihi upah yang di terima





dimana hari itu
buruh bisa merasakan menu KFC
tanpa memikirkan bon yang menumpuk di warung


bila hari itu: transport, biaya kesehatan, kontrakan-
ditanggung pengusaha
buruh boleh dibilang sejahtera








dimana hari itu
buruh bebas mendirikan organisasi
tak ada pemaksaaan untuk
masuk SPSI
itulah kemerdekaan


dimana hari itu
sistem kapitalis
tumbang-berganti sosialis
dimana buruh ikut menentukan roda pemerintahan





itulah kemenangan
sungguh, kami rindu itu
dimana buruh bebas dari segala bentuk penindasan
dan kami tidak hanya menanti
akan kami rebut
hari kami yang terenggut


buruh bersatu tak bisa dikalahkan!
_______________________________
Diambil dari Kolom Budaya;
Seruan Buruh Edisi ke III,
Agustus 1999








SAMA YANG BERBEDA
kau dan aku sama tapi berbeda
setiap tetes keringatku adalah kerja
sementara kau tinggal berpangku tangan
menanti hasil.. menerima
menimpakan kesalahan padaku


kau dan aku sama tapi beda
karena kau bela pengusaha
sementara aku singsingkan lengan baju
bahu membahu merebut hak hak-ku
hanya karena kau duduk di kursi rotan
sedangkan aku di bangku kayu
kamu lupa ada yang sama pada kita kita





oh.. mandorku, ada yang kamu lupa
kita adalah sama
sekumpulan buruh yang ditindas
diperas tenaga tanpa terasa
sementara dia ongkang ongkang
ngitung laba di kursi goyang


oh.. mandorku, berapa sich yang kau terima?
hingga sikapmu berubah
bertindak melebihi boss
ikut ikutan menindasku
seolah ini pabrik moyangmu





oh.. mandorku, sadarlah
kita sama:kuli, buruh pabrikan
bersama mencari penghidupan
karena itu ikutlah aku
lupakan segala beda
bersatu melangkah maju!
_____________________________________
Kiriman buruh PT Binoli Inti Karya Jakarta Utara.
Diambil dari Komite Buruh untuk Aksi Reformasi
(KOBAR) edisi VII Minggu ke II – November 1998



AKU MENUNTUT PERUBAHAN
seratus lubang kakus lebih
berharga bagiku
ketimbang mulut besarmu
tak penting siapa yang menang nanti
sudah bosan kami dengan model urip kayak gini
ngising bingung
hujan bocor











kami tidak butuh mantra
jampi jampi atau janji
atau sekarung beras dari gudang
makanan kaum majikan
tak bisa menghapus kemelaratan
belas kasihan dan derma baju bekas
tak bisa menolong kami
kami tak percaya lagi pada itu partai politik
omongan kerja mereka tak bisa bikin perut kenyang
mengawang jauh dari kami punya persoalan
bubarkan saja itu komedi gombal
kami ingin tidur pulas utang lunas
betul betul merdeka tidak tertekan


kami sudah bosan dengan model urip kayak gini
tegasnya: AKU MENUNTUT PERUBAHAN!
__________________________________
Diambil dari Kolom Budaya;
Komite Buruh untuk Aksi Reformasi (KOBAR)
Edisi ke V Minggu ke II September 1998

- Gita, KOBAR Kapuk Jakarta Utara -





SATUKANLAH
merdeka dan bebas
itu yang selalu diteriakkan dengan lantang
namun pernahkah kita rasakan
kebebasan dan kemerdekaan itu?..
saat menyuarakan hati
untuk menuntut hak hak kita sebagai buruh


memang kita telah merdeka
memang kita telah bebas
tapi.. kawan harus ingat
disana dibalik tembok tembok pabrik
yang berdiri dengan kokoh dan megah
beribu ribu buruh menjerit
menangis dan meronta
mereka dipaksa lembur
mereka dipaksa untuk kejar target
mereka dipenjara di tempat yang telah merdeka
untuk kaum kapitalis yang haus dan rakus





saatnya telah tiba
mari kita satukan langkah
rapatkan barisan
bulatkan tekad
dengan satu kata:LAWAN!


buruh bersatu
lawan penindasan!
______________________________
Diambil dari Kolom Budaya;
Seruan Buruh Edisi ke V,
Desember 1999








KEPADA PARA PEJUANG BURUH
dari pancaran raut wajah kalian
kulihat sinar kelelahan
kulihat sinar kemarahan
kulihat sinar kekuatan
cahaya itu bukan ada di satu – dua orang buruh
tapi di semua wajah buruh
selalu memancarkan sinarnya
laksana wajah seorang bayi
laksana seorang muslim
yang wajahnya dibasuh air wudhu
laksana wajah kasih seorang suster
laksanan raut wajah pasrah seorang rahib





pada raut wajah itu
kulihat masa depanku
masa depan rakyat dan negeriku.
____________________________
Diambil dari Kolom Budaya;
Seruan Buruh Edisi XIV
Januari 2001





PERJUANGAN
perjuangan kita adalah tetes keringat
yang bersatu geramnya hati
pahit manisnya perjuangan kita
adalah tidur berganti mimpi





perjuangan kita
adalah susunan perjuangan yang terbagi dalam tiga fatamorgana;
perjuangan, persatuan dan pengorbanan
untuk terus diperjuangkan, diresapi dan dimengerti
agar kita kelak tidak terus tertindas.








perjuangan kita tercipta
karena adanya persatuan
bukan karena hasutan dan bujukan
kita tuntun perjuangan kita bersama
agar mendapatkan hak kita
kami ingin adanya persatuan
dimanapun kalian berada
kami ingin terus berjuang
maka kita jangan bercerai berai
kita harus bersatu padu
___________________________________
Diambil dari Kolom Budaya;
Seruan Buruh Edisi XIV Januari 2001









KITA AKAN BALAS
hari ini kudengar kabar kawan – kawan ditangkap
satu orang diculik
puluhan preman telah disewa pengusaha
untuk gagalkan aksi kita
sambil mabuk – teler mereka pukuli kita
beberapa buruh perempuan dengan jilbabnya disunduti
kasar menyuruh masuk pabrik; kerja!
padahal tuntutan kalian
hanyalah cuti haid, ubah status buruh kontrak jadi buruh tetap
dan yang lebih mengagetkan lagi
pimpinan mereka adalah ‘pak haji’





Tuhanku
aku bukanlah Muhammad
yang bisa mendoakan umatnya yang berdosa untuk dimaafkan
aku berdoa untuk kawan kawan yang berjuang
agar KAU beri kekuatan
dan kawan kawan yang takut; KAU beri keberanian








semoga kawan dari pabrik lain mendukung aksi kita
kawan kawan mahasiswa bisa ikut mendukung kita
kawan kawan dari masyarakat sekitar juga
semoga aksi ini membawa persatuan rakyat tertindas
kudengar kabar kalian semua ditangkap
dengan diiringi pentungan, pukulan dan letusan pistol
aku tahu kali ini doaku belum KAMU dengar
suatu saat doa itu akan menjadi kenyataan
kita akan balas
____________________________
Diambil dari Kolom Budaya;
Seruan Buruh Edisi XIV Januari 2001





- Widji Thukul -


SEORANG BURUH MASUK TOKO
masuk toko
yang pertama kurasa adalah
cahaya
yang terang benderang
tak seperti jalan-jalan sempit
di kampungku yang gelap








sorot mata para penjaga
dan lampu-lampu yang mengitariku
seperti sengaja hendak menunjukkan
dari mana asalku
aku melihat kakiku jari-jarinya bergerak
aku melihat sendal jepitku
aku menoleh kekiri kekanan-bau-bau harum
aku menatap betis-betis dan sepatu
bulu tubuhku berdiri merasakan desir
kipas angin
yang berputar-putar halus lembut
badanku makin mingkup


aku melihat barang-barang yang dipajang
aku menghitung-hitung
aku menghitung upahku
aku mrnghitung harga tenagaku
yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik


aku melihat harga-harga kebutuhan
di estalase
aku melihat bayanganku
makin letih
dan terus diisap





10 september 1991



BUKAN KATA BARU
ada kata baru kapitalis,
baru? Ah tidak, tidak..
sudah lama kita dihisap
bukan kata baru, bukan..


kita dibayar murah
sudah lama, sudah lama
sudah lama kita saksikan
buruh mogok dia telpon kodim, pangdam
datang senjata sebataliyon
kita dibungkam





tapi tidak, tidak
dia belum hilang kapitalis
dia terus makan tetes..
ya tetes tetes keringat kita
dia terus makan


sekarang rasakan kembali jantung
yang gelisah memukul mukul marah
karena darah dan otak jalan


kapitalis
dia hidup
bahkan berhadap - hadapan





kau aku buruh; mereka kapitalis
sama sama hidup
bertarung
ya, bertarung..
sama sama?
tidak, tidak bisa
kita tidak bisa bersama sama





sudah lama ya.. sejak mula
kau aku tahu
berapa harga lengan dan otot kau aku?
kau tahu berapa upahmu?
kau tahu jika mesin mesin berhenti?
kau tau berapa harga tenagamu?


mogoklah
maka kau akan melihat
dunia mereka
jembatan ke dunia baru
dunia baru.. ya dunia baru





Tebet, 9 / 5 / 1992



SATU MIMPI SATU BARISAN
di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya: karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamin tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi

di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung - solo - jakarta - tangerang

tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
satu mimpi
satu barisan

Bandung 21 mei 1992



MAKIN TERANG BAGI KAMI
tempat pertemuan kami sempit
bola lampu kecil cahaya sedikit
tapi makin terang bagi kami
tangerang - solo - jakarta kawan kami

kami satu: buruh
kami punya tenaga

tempat pertemuan kami sempit
di langit bintang kelap-kelip
tapi makin terang bagi kami
banyak pemogokan di sanasini

tempat pertemuan kami sempit
tapi pikiran ini makin luas
makin terang bagi kami
kegelapan disibak tukar-pikiran

kami satu: buruh
kami punya tenaga

tempat pertemuan kami sempit
tanpa buah cuma kacang dan air putih
tapi makin terang bagi kami
kesadaran kami tumbuh menyirami

kami satu: buruh
kami punya tenaga
jika kami satu hati
kami tahu mesin berhenti
sebab kami adalah nyawa
yang menggerakkannya

Bandung 21 mei 1992


LEUWIGAJAH MASIH HAUS
leuwigajah tak mau berhenti
dari pagi sampai pagi
bis-bis-mobil pengangkut tenaga murah
bikin gemetar jalan-jalan
dan debu-debu tebal membumbung

mesin-mesin tak mau berhenti
membangunkan buruh tak berkamar-mandi
tanpa jendela tanpa cahaya matahari
jejer berjejer alas tikar
lantai dinding dingin lembab pengap

mulut lidah-lidah penghuni rumah kontrak
terus bercerita buruk
lembur paksa sampai pagi
tubuh mengelupas-jari jempol putus –


upah rendah
mogok - pecat
seperti nyabuti bulu ketiak

tubuh-tubuh muda
terus mengalir ke leuwigajah
seperti buah-buah disedot vitaminnya
mesin-mesin terus menggilas
memerah tenaga murah
satu kali duapuluhempat jam
masuk - absen - tombol ditekan
dan truk-truk pengangkut produksi
meluncur terus ke pasar

leuwigajah tak mau berhenti
dari pagi sampai pagi

asap crobong terus kotor
selokan air limbah berwarna
mesin-mesin tak mau berhenti
terus minta darah tenaga muda
leuwigajah makin panas
berputar dan terus menguras

Bandung 21 mei 1992


E D A N
sudah dengan cerita mursilah?
edan!
dia dituduh maling
karena mengumpulkan serpihan kain
dia sambung-sambung jadi mukena
untuk sembahyang
padahal mukena tak dibawa pulang
padahal mukena dia taroh
di tempat kerja
edan!
sudah diperas
dituduh maling pula

sudah dengan cerita santi?
edan!
karena istirahat gaji dipotong
edan!
karena main kartu
lima kawannya langsung dipecat majikan
padahal tak pakai wang
padahal pas waktu luang
edan!
kita mah bukan sekrup

Bandung 21 Mei 1992



BUKAN DI MULUT POLITIKUS
BUKAN DI MEJA SPSI
berlima dari solo berkeretaapi kelas ekonomi murah
tak dapat kursi melengkung tidur di kolong
pas tepat di kepala kami bokong-bong
kiri kanan telapak kaki tas sandal sepatu
tak apa di pertemuan ketemu lagi kawan
dari krawang-bandung-jakarta-jogya-tangerang
buruh pabrik plastik, tekstil, kertas dan macam-macam
datang dengan satu soal

dari jakarta pulang tengah malam dapat bis rongsok
pulang letih tak apa diri telah ditempa
sepanjang jalan hujan kami jongkok tempat duduk
nempel jendela
bocor
bocor
sepanjang jalan tangan terus mengelapi
agar pakeyan tak basah
dingin
dingin
tapi tak apa
diri telah ditempa
kepala dan dada masih penuh nyanyi panas
hari depan buruh di tangan kami sendiri
bukan di mulut politikus
bukan di meja spsi

Solo 14 mei 1992
______________________________________________
Wiji Thukul. Lahir di Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963
Seorang penyair kerakyatan dan seniman dari kelompok teater
Jagat, juga aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD).



- S Nurhasanah, Driyorejo -


PERJUANGAN


bermula dari ketidakadilan


kami teriakkan penderitaan


tapi mereka tak mendengarkan





kami ini ramah itu hanya katanya


masih banyak diantara kami


berjuang hanya untuk mendapatkan yang seharusnya kami terima





tanpa ada teriakan; yang memekakkan telinga


tanpa ada derita; karena luka


tanpa ada iri hati; karena berbeda





semua karena kesombongan dan keangkuhan


kami memang punya tenaga


tapi bukan untuk ditindas dan diperas





selama darah masih mengalir


perjuangan kami tak menyerah


‘tuk melawan kapitalis serakah!
_______________________________
Diambil dari Kolom Budaya;
Seruan Buruh Edisi ke VII, Maret 2000.





- Rokhati -


KEHIDUPAN
begitu banyak perbedaan
bersaing keras
tak ada yang mau mengalah
ingin slalu diterima
semua…….
dengan pendiriannya





inikah yang dinamakan kehidupan……
kebingunganpun datang…
‘tuk mencari kesamaan


bersuara….
tak ada yang mau mendengar
sangat terasa dihati
untuk saling menghancurkan





begitu sulitkah kawan….
kebebasan yang didapat
jangan.. kau jadikan suatu kemenangan


kehidupan ini… kawan
milik semua..
tanggung jawab bersama.





Jakarta, 12 Juni 2005



TUJUH DIAM
adalah ibadat tanpa perlu bersusah payah
adalah perhiasan tanpa berhias
adalah kehebatan tanpa kerajaan








diam; berarti….
benteng tanpa pagar
dan kekayaan tanpa minta maaf kepada orang
diam menjadikan istirahat
bagi kedua malaikat pencatat amal





diam menutup segala keaiban
menjadi…keindahan bagi yang baik
dan menutup… bagi yang bodoh


diam mengandung 7000 kebaikan





Jakarta , 26 Desember 2005.
______________________________________
Rokhati, bekerja di PT.Golden Continental
Kawasan Berikat Nusantara Cakung Jakarta Utara.



KEBANGKITAN
kau nyalakan semua mesin
dari banyaknya keringat yang terlepas
kuselesaikan banyaknya target yang kau minta
dari sisa tenaga yang tersisa








telah lama aku mengabdi
diantara deru mesin
telah lama aku memberi
makanan kapitalis dan keluarganya
sewindu sudah aku terperas
dari banyak tubuh yang terkelupas
dari hidup yang terkoyak
dari tidur yang tidak nyenyak





kau tegakkan pabrikmu
dengan akal bulusmu
kau langgengkan pabrikmu
dengan seperangkat alat





kini aku tahu janji - janjimu
hanya suara dan khayalan
kini aku tahu penyelesaiannmu
tukang pukul dan militer








akan kubalas akal bulusmu
dengan kekuatan perjuanganku
akan kuhadang tukang pukulmu
dengan kesatuan kaumku
akan kuserukan kebebasan kaumku
dari perasan kaummu





lingkungan yang tak bermoral
suasana yang tertekan
maka bersatulah dalam perjuangan
maka kumpulkanlah kekuatanmu
untuk mencapai hidup baru



Dari SUARA BURUH 1993









DUNIA BARU
ketika tidak ada penindas
maka tidak ada lagi yang tertindas
ketika tidak ada lagi majikan
maka tidak ada lagi buruh
ketika tidak ada lagi si kaya
maka tidak ada lagi si miskin
ketika tidak ada lagi penguasa
maka tidak ada lagi yang dikuasai
ketika semua hanya dijadikan renungan
ketika perubahan hanya sekedar ucapan
ketika kesadaran hanya ada dalam pikiran





kapankah ini semua akan berakhir?
gedung bertingkat dan rumah mewah
rumah sangat sederhana dan kolong jembatan
perbedaan itu masih dapat kita lihat





pemilik modal yang ongkang-ongkang kaki
buruh yang kerja keras dan hampir mati
perbedaan yang masih kita rasakan





kapankah ini akan berakhir?
dan siapakah yang akan membebaskan kita?





ternyata semua hanya bohong
tidak ada yang mau menolong kita
kalau bukan diri kita sendiri








sekarang juga harus kita lakukan
kita galang kesadaran kaum buruh yang tertindas
kita galang kesadaran kaum tani yang tertindas
kita galang kesadaran kaum nelayan yang tertindas
kita galang seluruh kekuatan rakyat yang tertindas
sekarang juga kita satukan barisan
sekarang juga kita maju bergerak
sekarang juga kita bangun bersama
sebuah dunia baru; tanpa penindasan


Agustus 2000
_________________
Tukilo. FNPBI Cakung





DERITA SANG ANAK
ketika fajar menyinsing
seorang anak kecil menangis sedih
melihat bapaknya duduk seorang diri
meratapi nasibnya yang tak pasti


lusuh.. kusut….
diraut wajahnya
marah.. menangis….
yang ada dihatinya


mereka.. para penguasa
merampas….
menghancurkan cita citanya
jerit hatinya


apakah ini yang dinamakan keadilan
apakah ini yang dinamakan kemerdekaan


tidak!!!
teriak hatinya
ini namanya perampasan
ini namanya ketidakadilan
kelak, aku harus bangun
aku, harus bangkit
aku harus teruskan perjuangan bapakku
‘tuk melawan penindasan
aku harus sekolah
aku harus raih cita citaku
aku akan berjuang
dan……….
aku harus merdeka!!





- Tari Adinda -


AKU
Aku adalah aku
bukan kamu, dia, atau siapapun
aku sudah lelah bersandiwara
disini…aku ingin mencari dan menjadi diriku
aku ingin menangis, ketika aku merasa sedih
dan kunikmati setiap tetes air mataku
aku ingin tertawa, ketika aku gembira
dan kubiarkan tawa itu lepas tanpa batas
aku ingin tersenyum, ketika aku merasa bahagia
lalu kuterbangkan anganku hingga keatas awan
aku ingin tak ada seorangpun yang melarangku bernyanyi
karena aku ingin bernyanyi dan bernyanyi kapanpun aku mau
aku ingin tak ada seorangpun yang mengusik
saat aku mendengar atau memainkan musik
aku ingin berteriak, ketika dadaku terasa sesak
dan aku ingin menulis…
ketika ada sesuatu yang menyentuh perasaanku




BUKAN MIMPIKU
duniaku saat ini
dunia yang penuh emosi dan caci maki
serasa diri tak punya arti


ada perasaan yang dikorbankan
ada kerelaan yang dipaksakan
ada kemauan yang diharuskan
demi perut yang harus diisi
agar tetap hidup di esok hari


berbaris pertanyaan menanti jawab;
“sampai kapan aku bisa bertahan?”
bercengkrama dengan bising mesin
yang mengalunkan irama tak senada
bercanda dengan bahan dan aromanya
plus debu – debu sintetisnya


“harus berapa lama aku berada disana??”
berperang melawan waktu dan angka – angka
memutar otak - peras keringat
tuk’ dapatkan hasil tertinggi


“dimanakah harus kucari jalanku?”
menuju dunia seniku yang indah
aku bosan dengan teriakan;
target!!... target!!.. target!!.. dan target!!....



Jakarta, 18 Desember 2004
_____________________________________
Tari Adinda, tinggal di Jakarta Utara dan bekerja
pada sebuah PT di Kawasan Berikat Nusantara –
KBN Cakung. Selain menulis puisi Tari juga telah
menghasilkan puluhan lagu – lagu balada.





Lyric Lagu Tari Adinda


Aku Tahu

sebesar apapun cintaku
takkan bisa membalas semua kasih sayangmu ibuku
aku tak ingin melihat kau menangis


sebesar apapun rinduku
takkan bisa membayar semua perhatianmu ayahku
aku tak ingin melihat kau berduka


# aku tahu.. tidak cukup dengan cinta
aku tahu.. kita juga butuh hidup
aku tahu semua ingin sejahtera


aku tahu.. tidak cukup dengan rindu
aku tahu.. kita juga butuh hidup
aku tahu.. semua ingin sejahtera


Reffrein:


andai kau tahu ibuku
aku ingin membahagiakanmu
bukan sekedar dari hasil tetesan keringatku di pabrik
karena kenaikkan gajiku
tak bisa melawan harga barang-barang oo…


andai kau tahu ayahku
aku ingin membahagiakanmu
dari hasil karya seniku
yang dulu kau ajarkan padaku


agar kau tahu darah senimu
telah mengalir didalam tubuhku


Kembali ke #



Ayo Berjuang


sudah saatnya kita buang ketakutan
wahai kawan–kawan
sudah saatnya kita galang persatuan
menyusun kekuatan


karena semua rasa ketakutan
akan memperpanjang barisan perbudakan
ayo kita semua turun ke jalan
dan berjuang..


kobarkan api semangat dalam jiwamu
jangan diam di situ
tak perlu ragu ayo terus maju
kita rebut kemenangan!



Buruh Bersatu


wahai para penguasa apalagi yang kau minta
harta yang kau timbun dan tak terhitung
hasil keringat kami yang kau bendung


bertahun kami menderita dalam kemiskinan
tapi jangan anak cucu kami
sebab kami takkan pernah rela


Reffrein:


jika kau dengar suara kami bergema
itu suara buruh yang bersatu
jika aku lihat lautan manusia
itu kaum buruh yang bersatu


melawan penindasan
melawan ketidakadilan
melawan segala bentuk penjajahan


melawan perbudakan
melawan ketidakadilan
melawan segala bentuk penjajahan
di negeri ini…



Buruh Kontrak


# hei..duniaku saat ini
dunia yang penuh dengan
Emosi dan caci–maki

Nasib seorang buruh kontrak
Bagai bola yang ditendang
Bila tak lagi dibutuhkan..


ada perasaan yang dikorbankan
ada kerelaan yang dipaksakan
ada kemauan yang diharuskan
demi perut yang harus diisi
agar tetap hidup di esok hari


kembali ke #


Reffrein:


uang dan jabatan membuat mereka lupa
siapa teman siapa lawan
fasilitas yang adapun harus disunat
tak peduli milik bangsanya sendiri


Kembali ke #


yang dicambuk layaknya binatang bangsanya sendiri
yang dibodohin kaya’ kambing congek bangsanya sendiri
yang dimaki kaya’ orang bego bangsanya sendiri
yang menjajah kita.. yang menjajah bangsa ini


kembali ke #



OI.. Bersatulah


negeri yang aman sentosa
siap yang tak suka
biarkan ibu pertiwi
tersenyum melihat kita


# di bawah sang merah putih
Dalam satu bahasa
Mari bergandeng tangan
Satukan ikrar kita


Reffrein:


Oi….bersatulah… Oi…bersatulah
Oi…bersatulah… Oi..bersatulah


perbedaan pendapat
itu hal biasa
selesaikan dengan damai
agar tak ada perang


Kembali ke #






Ransum
pak tolong dong tengoklah sebentar
apa menu kami hari ini
nasi bungkus yang kami terima
sudah cukupkah mengandung gizi


tempe rebus kadang ikan teri
telur dadar terbagi delapan
tak ada buah hanya sayur tanpa rasa
seimbangkah dengan kerja kami


Reffrein:


kami bukan itik makan nasi basi
kami bukan bebek makan nasi lembek
kami bukan ayam makan nasi mentah
pandanglah kami sebagai manusia


secuil daging ayam atau ikan
tak cukup menghabiskan nasi
tak ada buah hanya sayur tanpa rasa
seimbangkah dengan kerja kami





Rumah Tua
sepenggal kisah di rumah tua tempat tinggalku
menyimpan banyak cerita
kamar tidurku tanpa plafon
kamar mandiku tanpa pintu
tapi mampu nyenyakkan tidurku


rumah tua yang selalu bocor saat turun hujan
dimana bak-bak dan ember berjejer
untuk menahan air hujan agar tak jatuh ke lantai
kulakukan dengan senang damai


Reffrein:


rumah tua serasa istana
saat kutemukan sgalanya
diriku kebebasanku
kulakukan apapun yang aku mau
cintaku yang dulu hilang
kini besemi di rumah tua ini


rumah tua yang setiap saat jadi ajang pesta
kecoa tikus berlarian
namun tlah banyak kutemuakn berjuta kata indah
yang kurangkai jadi nyanyian


Kembali ke Reff


rumah tua seakan berduka
menunggu dana entah dari mana
dinding yang rapuh kayu yang tlah lapuk
berjatuhan satu demi datu


Kembali ke Reff


tangisku tawaku
dan emosi yang tiada terbendung lagi
juga dirimu yang slalu ku rindu
yang mampu membangkitkan rasa cintaku

Slogan Buruh
belum gajian habis… udah gajian bingung

Itulah slogan kami
belum gajian habis… udah gajian bingung
itulah slogan buruh


buat kirim ke kampung
buat bayar kontrakan
buat bayar pinjaman
sisanya buat makan


masih saja tak cukup
terpaksa ngutang lagi
bayar gajian depan
gali lobang tutup lobang


Reffrein:


boro-boro punya tabungan
uang lebih tak ada cerita
makan mie instant
dulu terasa nikmat
kini teras menderita





Surabayaku
aku pasti kembali bila saatnya nanti
pasti kan kubawa segumpal rinduku
lama kau kutinggalkan bersama kenangan
dengan segenggam harapan takkan kulepaskan


kini aku berada di kota metropolitan
berharap aku bisa menggapai impian


Reffrein:


tunggu aku surabayaku
di tempat itu aku kan datang
aku rindu rujak cingurmu
lontong balapmu tahu petismu



Terhempas


wajah ibukota terlihat garang
kala sang badai menamapar wajahku
mengoyak luka hempaskan nasibku
disimpang jalan


terik mentari kian terasa panas
menyengatkan kesedihan
menitik air bening di sudut mata
jalan bak gunung berbatu


Reffrein:


mungkinkah Jakarta tak mau bersahabat
sedangkan aku mulai jatuh cinta padanya..
tlah jauh kakiku menghitung jarak
ada nada sumbang di bekas tapak kakiku
jakarta begitu kuat jemarimu
mencengkram kami


hingga aku bosan membujuk sukmamu
bahwa aku bukanlah pengecut
walaupun itu hanyalah sekeping
aku masih punya nyali
Beberapa Puisi



Karena Kami Arus Kali, dan Kamu Batu tanpa Hati
Oleh: Rendra


karena kami makan akar, dan terigu menumpuk di gudangmu
karena kami hidup berhimpitan, dan ruanganmu berlebihan.
maka, kita bukan sekutu.


karena kami kucel, dan kamu gemerlapan.
karena kami sumpek, dan kamu mengunci pintu
maka kami mencuri kamu.


karena kami terlantar di jalan, dan kamu memiliki semua keteduhan.
karena kami kebanjiran, dan kamu berpesta di kapal pesiar.
maka kami tidak menyukaimu.


karena kami dibungkam, dan kamu nyerocos bicara.
karena kami diancam, dan kamu memaksakan kekuasaan.
maka kami bilang, tidak ...! Kepadamu.


karena kami tidak boleh memilih, dan kamu bebas berencana.
karena kami cuma bersandal, dan kamu bebas memakai senapan.
karena kami harus sopan, dan kamu punya penjara.
maka, tidak ...!, dan tidakkk ...! Kepadamu.


karena kami arus kali, dan kamu batu tanpa hati.
maka air akan mengikis batu.


***


Mengenang para reformis yang gugur
disatu sembilan sembilan delapan...


Melambaikan senja padamu
bersama air mata yang terasa asin di bibir
mata yang berkaca melewati jendela
menatap kematian dengan begitu bersahaja


Amboi, langkah ini hendak menuju ke mana
selain menjejak pada kemungkinan hari-hari penuh kegelisahan,
kehampaan dan kesunyian diri sendiri
meraba kegelapan yang melumuri isi kepala


Kereta warna hitam yang kau sorongkan
melewati pelataran yang begitu lengang
tawarkan sebuah kenangan di masa lalu
ketika kehidupan baru di hembuskan ke dalam dadamu...
bikin perjanjian untuk kembali pada asal mulamu, anak manusia


Sepertinya tak ada yang patut ditangiskan
selain mengaca pada hari yang penuh warna
dan cerita penuh deru di masa lalu.


(Tuhan, aku hantarkan doa melewati senja ini)


***


Jangan Meyerah Bud...



Terakhir kita bertemu sebelum pemogokan
dalam percakapan singkat yang sepele
tentang sebuah film Amerika Latin di televisi:
Fera Ferida, katamu
kau juga suka film itu
ada cinta dan ada politiknya


Kita tak bisa sebut akrab, Bud
tapi sebagai kawan satu partai
sudah pasti ada ikatan yang tak bisa dilerai
sebagaimana hidup dan mati
Selain itu, tak ada yang istimewa dan manis
untuk seorang ketua partai
kehidupan telah memilih jalannya yang terbaik


Tentu saja, kita jarang sekali bertemu
kau sibuk dengan rapat-rapat
dan kerja-kerja politikmu
sedang kami hari demi hari hidup dalam penindasan
dan menerangkan kepad setiap orang
bahwa ketidakadilan harus dilawan


Kapan aksi kita yang terakhir?
Kulihat kau berbicara kepada massa
memimpin mereka
dengan kemeja lusuh yang itu-itu juga
dibelakangmu bendera merah partai berkibar
menentang angin kemarau yang berdebu
(Oh ya, ada pesan dari Rum; dia akan membelikan kemeja baru
di pasar kaget, kemeja bagus yang dijahit sendiri
harganya mahal sekali)


Sementara matahari menyorot garang
ke ubun-ubun ribuan buruh yang bergerak
di jantung kota
tubuhmu yang kurus
kelihatan seperti titik cahaya
dari kemenangan rakyat dimasa depan


Kami belum dapat menengokmu dipenjara, Bud
Kau tentu paham betapa sulitnya kita sekarang
Kawan-kawan di pabrik menyuruhku menulis puisi ini:
“Jangan menyerah! Kita belum menang.”


[Dari kawan-kawan buruh dan disebarluaskan oleh
Jaringan Kerja Kesenian Rakyat --ormas kebudayaan PRD--, dengan catatan:
Harap disampaikan kepada Ketua Budiman Sudjatmiko]

***


SEBUTIR MATA
Mengingat: Wiji Thukul


Perempuan itu, istri seorang demonstran, berkata:
karena perjuangan harus dilanjutkan, kang mas,
aku relakan sebutir mataku untukmu
menggantikan mata kirimu yang pecah saat unjuk rasa.


Malang, 1996


***
Sanggar Sanggar

Sanggar Akar

Jln Inspeksi Saluran Jatiluhur No.30
Rt 07 Rw 01 Cipinang Melayu
Gudang seng jakarta 13620
Telp/Fax: 021 8574 923
Hp.0812 968 5594 (Debby maitimu)
Email: sangarakar@yahoo.com
http//www.geocities.com/sanggarakar

Satu Merah Panggung

Jl.Kampung Kecil V/24
Bukit Duri Tanjakan
Jakarta Selatan
Telp. 021-8291657, 70295367
Hp. (Alin) 0818819944
(Rey) 081808333533
Winarso Poems



SAJAK TANPA KATA
Syair : Winarso


inilah kata-kataku yang pertama
biarlah negri ini hancur
sebab negri ini sudah carut marut tak karuan


para senimannya
asyik beronani dengan seninya
para elit politiknya ribut tak karuan
mulutnya berbusa
sedangkan tangannya yang hitam bergentayangannya kemana saja
mereka bersilat lidah
menyembunyikan tangannya
yang berlumur darah
dengan meminjam bait-bait suci tuhan


negri ini sudah tak bertuan kawan
sebab para penguasa
hanya sibuk bersuara tanpa makna
karena itu kita mesti kepalkan tinju
memukul mulut mereka yang bau
memotong tangan mereka yang penuh dengan dosa


apalagi yang kalian tunggu
menunggu tak akan pern ah menghasilkan apa-apa
selama badut-badut itu masih bisa kentut
kita pasti akan ditikam dari belakang
selama badut-badut itu masih bernafas
kita pasti akan digilas


mari...
bersama-sama kita lemparkan mereka ke kantong sampah
kita benamkan ke lumpur hitam
agar mereka diam
mati tak bersuara



SAJAK BINTANG MERAH


kalau kain merah
sudah kami bentangkan
itu pertanda darah kami sudah bergejolak
karena amarah dalam dada
karena sebuah penindasan


kalau bintang merah sudah ditangan
itu pertanda kami bangkit
dan melakukan perlawanan


apa yang membuat dirimu ketakutan
ketakutan hanyalah bayang-bayang yang sangat menakutkan


memang keberanian harus dilatih kawan
kalau tidak kita akan selalu ditindas
penindasan itu akan selalu datang
penindasan demi penindasan
kalau kita tidak berani melawan bayang-bayang
matilah kita
dalam sebuah proses kehidupan


Winarso, Januari 2002



PESAN SANG IBU
Syair: Winarso


tatkala aku menyarungkan pedang
dan bersimpuh di atas pangkuannya
tertumpah rasa
kerinduanku pada sang ibu


tangannya yang halus mulus membelai kepalaku
tergetarlah seluruh jiwa ragaku
musnahlah seluruh api semangat juangku
namun sang ibu berkata


anakku sayang
apabita kakimu sudah melangkah ditengah padang
tancapkanlah kakimu dalam dalam
dan tetaplah terus bergumam
sebab gumam adalah mantra dari dewa dewa
gumam mengandung ribuan makna


apabila gumam
sudah menyatu dengan jiwa raga
maka gumam akan berubah
menjadi teriakan teriakan
yang nantinya akan berubah menjadi gelombang salju yang besar
yang nantinya akan mampu
merobohkan istana yang penuh kepalsuan
gedung gedung yang di huni kaum munafik


tatanan negeri ini sudah hancur anakku
di hancurkan oleh sang penguasa negeri ini
mereka hanya bisa
bersolek didepan kaca
tapi membiarkan punggungnya penuh noda
dan penuh lendir hitam yang baunya
kemana mana


mereka selalu menyemprot kemaluannya dengan parfum luar negeri
di luar berbau wangi
di dalam penuh dengan bakteri
dan hebatnya sang penguasa negeri ini
pandai bermain akrobatik
tubuhnya mampu di lipat lipat
yang akhirnya pantat Dan kemaluannya sendiri mampu dijilat jilat


anakku
apabila pedang sudah kau cabut
janganlah surut
janganjah bicara soal menang dan kalah
sebab menang dan kalah
hanyalah mimpi mimpi
mimpi mimpi muncul dari sebuah keinginan
kenginan hanyalah sebuah khayalan-
yang hanya akan melahirkan harta dan kekuasaan
harta dan kekuasaan bagaikan
balon balon sabun yang terbang di udara


anakku
asahlah pedang
ajaklah mereka bertarung ditengah padang
lalu tusukkan pedangmu
ditengah tengah selangkangan mereka
biarkan darah tertumpah di negeri ini
satukan gumammu menjadi : REVOLUSI



KABAR UNTUK ANAK
Syair : Winarso


anakku
aku tidak bisa memberi apa apa
hanyalah bunyi genderang perang
kabar dari ayahmu


saat ini aku berada di persimpangan jalan
apakah aku harus memilih
berjalan di atas kebenaran
ataukah kedamaian


ternyata aku memiiih kebenaran
biarpun kebenaran itu penuh darah dan nanah
apalah arti kedamaian
kalau hanya menjadi budak
tidak anakku
kalian tidak boleh menjadi budak di negeri sendiri
mereka sengaja memberikan mimpi tentang kedamaian
sementara kebenaran tetah di robek robek
jiwa dan raga kitta telah tercabik cabik
terbuang dalam lautan debu yang sangat hitam


anakku
biarpun aku rindu
rindu untuk memelukmu
rindu untuk membelaimu
rindu untuk menumpahkan kasih sayang
namun aku relakan kerinduan ini untuk tetap berjuang
apabila ditengah padang
terdengar suara genderang
disanalah ayahmu mengangkat pedang


anakku
apabila aku harus mati nanti
dengarlah kata kataku ini
kebenaran tidak akan pernah terwujud
apabila tidak kit REBUT!
Wiji Thukul
Widji Thukul

Bernama asli Widji Widodo, lahir di kampung Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963 dari keluarga tukang becak. Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel. Pendidikan tertinggi Thukul Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari sampai kelas dua lantaran kesulitan uang.

Kendati hidup sulit, ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat ia dan anak istrinya tinggal.


Lalu muncullah peristiwa kekacauan 27 Juli 1996. Thukul, Budiman Sujatmiko, dan Pius Lustri Lanang menjadi buronan utama pemerintah. Hal ini cukup mengejutkan dan kurang jelas hingga sekarang, karena Thukul sesungguhnya bukan pada 'kaliber' kedua buronan yang lain. Artinya, Budiman dan Pius sudah jadi aktivis taraf nasional, sementara Thukul hanyalah seniman lokal yang potensi ancamannya pada pemerintah tak begitu besar. Sejak itu, Budiman ditahan, diadili, dan dipenjarakan; Pius diculik orangnya Tim Mawar, Kopassus (Kopassus saat itu dipimpin oleh Prabowo Subianto sebagai komandan) ; sedangkan Tukul hilang – konon juga dihilangkan oleh Tim Mawar Kopassus. Secara resmi, Thukul masuk daftar orang hilang pada tahun 2000.

Garis waktu


* Pada 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo.
* Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker)
* Tahun 1995 mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex.
* Peristiwa 27 Juli 1998 menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Ia salah seorang dari belasan aktivis korban penculikan yang terutama diduga didalangi oleh Jenderal Prabowo Subianto.
* April 2000, istri Thukul, Sipon melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).
* Forum Sastra Surakarta (FSS) yang dimotori penyair Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mengadakan sebuah forum solidaritas atas hilangnya Thukul berjudul "Thukul, Pulanglah" yang diadakan di Surabaya, Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.


Karya


* Dua kumpulan puisinya : Puisi Pelo dan Darman dan lain-lain diterbitkan Taman Budaya Surakarta.
* Puisi: Bunga dan Tembok [1]
* Puisi: Peringatan
* Puisi: Kesaksian [2]


Prestasi dan penghargaan


* 1989, ia diundang membaca puisi di Kedubes Jerman di Jakarta oleh Goethe Institut.
* 1991, ia tampil ngamen puisi pada Pasar Malam Puisi (Erasmus Huis; Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta).
* 1991, ia memperoleh Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra.
* 2002, dianugerahi penghargaan "Yap Thiam Hien Award 2002"
* 2002, sebuah film dokumenter tentang Widji Thukul dibuat oleh Tinuk Yampolsky.

Kesenian dan Perjuangan Kita



Oleh MYN. Sapto



Setengah orang berpendapat bahwa soal kesenian itu hanya merupakan soal iseng (sambilan) belaka dalam rangka kehidupan perjuangan organisasi kita. Di antara banyak kawan, perhatiannya selalu ditumpahkan kepada soal-soal organisasi saja dengan tidak menghiraukan aktiviteit kita dalam soal-soal kesenian. Tidak hanya demikian, tetapi cemoohpun tidak kurang!


Bagi kawan-kawan yang membisu dalam soal kesenian, suasana selalu diliputi oleh sedemikian rupa. Kita harus bekerja, pekerjaan masih banjak. Kesenian itu 'kan hiburan! Nah kalau mendapati sementara kawan yang memetik gitar, memukul gamelan, berlagu, dan sebagainya, dengan secara spontan kritik datang bertubi-tubi, bagaikan senapan mesin yang memuntahkan peluru ke sarang lawan. Bung tak tahu kerja, Bung tak mengindahkan kesibukan... Sehingga kawan yang ditegur dan dikritik secara spontan dan dangkal tadi menjadi melongo keheranan.


Memang, kejadian semacam itu adalah tidak mengherankan, selama kita masih membisu pada soal cabang kebudajaan jang penting. Lupa, bahwa perjuangan kita ini masih jauh sulit dan berat, tapi juga besar dan indah. Kita berjuang untuk mencapai kemenangan. Tentu saja kita tidak menghendaki keterbelakangan atau kemandekan sekalipun! Tetapi dalam perjuangan kita ini, sekali-kali tentu terbentur kepada kekalahan. Tidak hanya demikian, justru sampai kepada kelesuan dan akhirnja tenggelam dalam laut keputus-asaan yang akan membekukan aktiviteit kita. Selanjutnya apa yang akan kita peroleh dari kebekuan-kebekuan tadi, sedikit banyaknya tentu akan merugikan organisasi kita.


Oleh karena itu menjadi masalah bagaimana kita harus mengembangkannya? Pahlawan-pahlawan seni mempunyai rol yang penting dan ikut menentukan dalam kehidupan perjuangan kita. Apakah dan dimanakah rol kesenian dalam perjuangan kita? Memang jika hanya dilihat secara dangkal, tidaklah nampak sedikitpun. Tetapi jika ditinjau secara mendalam, kita akan tahu bahwa dia tidak dapat kita pandang remeh, sambilan atau soal-soal hiburan semata. Pendapat ini akibatnya bukan hanya menganggap bahwa kesenian jadi soal sambilan, tapi sekaligus akan menempatkan kesenian di luar perjuangan kita. Jelas sekali bahwa pendapat ini adalah pendapat yang tidak benar, yang harus segera kita berantas. Usaha ke arah ini, mulai sekarang harus kita intensifkan. Sebab di kalangan kita sampai pada saat ini, masih banyak sikap-sikap pendangkalan semacam tersebut.


Bagaimana keadaan kaum buruh perkebunan dewasa ini? Kesenian kaum buruh perkebunan dewasa ini nyata sekali berada dalam tingkat ke arah kemajuan. Mengapa tidak? Di sana sini nampak adanya organisasi-organisasi kesenian. Perkumpulan-perkumpulan yang baik ini, sebagian dipimpin langsung oleh organisasi, di mana pelaku-pelakunya (anggota) kesenian itu tergabung dalam salah satu SB di lapangan kerjanya. Sedangkan di daerah-daerah lain, mereka itu sendiri yang membentuk organisasi kesenian dan organisasi kesenian itulah yang memimpin langsung di dalam SB. Jadi bukan SBnja. Kesenian yang ada di kalangan kaum buruh perkebunan, ada beberapa macam, antaranya: ketoprak, wayang orang, ludruk, pencak, kecapi, sandiwara musik, tari-tarian buruh yang modern, juga regu-regu penyanyi koor dan masih banyak lagi. Malah di samping itu sudah nampak adanya pertumbuhan seni sastra dan lukis, misalnya saja di Air Molek dan Kajuaro. Suatu hal yang harus diakui, bahwa soal kesenian di lapangan kaum buruh perkebunan menunjukkan hari depan yang baik.


Beberapa kemajuan yang kita lihat, ialah adanya cerita-cerita sandiwara yang sudah baik. Misalnya: Tinah (diambil dari WS), Pemilihan Umum, Sabot Yang Gagal (dari HR), Pengusiran, dan sebagainya. Juga ketoprak-ketoprak dengan ceritanya: Untung Suropati, Diponegoro, Perang Banten, dan sebagainya. Tentu saja beberapa pelaku-pelakunya ada yang belum sempurna dalam melakukan rolnya. Di samping beberapa kemajuan, kita juga melihat kebekuan-kebekuan. Misalnya kumpulan kesenian itu tidak berkembang tapi malah mati. Walaupun tidak, tapi dia belum merupakan kesenian yang maju, dan mendorong perjuangan kita. Tetapi baru merupakan sikap pengabadian dari keagungan kesenian kita yang lama. Demikianlah pada umumnja kesenian kita yang berkembang di kalangan kaum buruh perkebunan pada saat ini. Terkadang malah hanya merupakan kesenian hiburan semata-mata. Kesenian-kesenian kita yang lama, kesenian yang diwariskan oleh nenek mojang kita, sebagian besar sudah tidak sesuai lagi dengan kemajuan sejarah. Tetapi walaupun demikian, sikap kita terhadap pewarisan tersebut ialah menerima dengan kritis, kita akan menerima yang baru dan mengembangkannya.


Adalah pikiran yang benar, bahwa tanpa mengubah tingkat hidup kaum buruh itu sendiri, kita akan selalu terbentur dan tidak akan lancar mengembangkan kesenian kaum buruh. Tetapi bukanlah berarti bahwa kita pasif dan perkembangan kesenian itu menggantung dan menunggu semata-mata pada datangnya perubahan tingkat hidup kaum buruh. Justru kesenian itu sendiri akan membantu untuk memenangkan perjuangan kita dan dari padanyalah kita mendapatkan suatu pencerminan keadaan yang obyektif, daripadanya kita gali bahan-bahan sebagai kenyataan dari keadaan sosial yang sedang berlaku, yang mencekik kaum buruh. Ini sekaligus akan membukakan mata kaum buruh ke arah kesadaran dan keuletan berjuang membebaskan dirinya dari penindasan. Hal ini juga akan berarti usaha pendekatan kepada organisasi serikat buruh.


Bicara tentang kesenian kaum buruh, adalah berarti membicarakan hampir dari sebagian besar kesenian rakyat Indonesia. Karenanya adalah penting. Jika hal ini kita hubungkan kembali ke atas, berarti kita dihadapkan pada tugas-tugas yang berat yang tidak kalah berat serta pentingnya dengan tugas-tugas yang lain.


Selanjutnya apa tugas kita yang pertama pada saat ini mengenai kesenian?


Jika kita meninjau susunan di tiap tingkatan organisasi kita, nyatalah bahwa pada umumnya tugas di lapangan kebudayaan dipertanggung-jawabkan oleh salah seorang kawan yang khusus. Dengan demikian dan juga dengan adanya pendiskusian yang khusus mengenai soal-soal kesenian secara luas dan mendalam, adalah memberikan kemungkinan yang besar sekali, bahwa kesenian di kalangan kaum buruh akan terus berkembang.


Pemeliharaan sebaiknja teratur. Untuk itu harus dibentuk suatu organisasi kesenian dan jangan sekretaris kebora itu sendiri memimpin langsung di dalamnya. Terkecuali jika keadaan setempat memaksa, dengan menunggu perkembangan selanjutnya. Agar pertumbuhannya tidak timbul tenggelam seperti kehanyutan yang tak tentu arah.


Di samping kita memelihara yang sedang berkembang, kita harus membangun atau memberikan suatu kemungkinan ke arah tumbuhnya kembali yang sudah beku dan yang belum tumbuh, membantu ke arah lebih besar daya kreatif.


Tukar menukar kesenian juga perlu. Artinya memindahkan hasil kemajuan mencipta dari satu daerah ke daerah yang lain. Pemindahan ini perlu, untuk mendorong dan membantu daerah-daerah lain yang belum maju. Tetapi jangan lupa, bahwa yang penting adalah bagaimana daerah-daerah itu sendiri dapat mencipta. Mengenai pemindahan, tentu saja dilakukan dengan cara memuatkan hasil-hasil ciptaan di majalah WS kita. Misalnya tidak hanya sajak-sajak, cerita pendek-cerita pendek, skets-skets, Sandiwara, lagu-lagu baru -- yang pernah diusahakan oleh DPP dimuat dalam WS -- jika babakan Sandiwara menelan banyak halaman dan belum mungkin WS kita memuatnya -- tentu saja tidak akan menjadikan WS kita majalah kesenian--, bisa diperbanyak yang kemudian disebar. Dengan demikian akan lebih pesat perkembangan kesenian di kalangan kaum buruh perkebunan. Kesenianpun harus merata dan meluas di kalangan kaum buruh perkebunan, dengan tidak adanya kesenian yang meluas dan merata, mustahil kesenian akan dapat mencapai mutu yang tinggi. Sebab kesenian yang sudah meluas dan merata, akan timbul suatu konfrontasi ke arah penilaian yang lebih baik, dan ini adalah merupakan suatu kontrol dan perbaikan.


Karenanya dalam soal ini, perlu diadakan sayembara tentang kesenian. Misalnya karang mengarang tentang beberapa hal di atas tadi, yang isinya mencerminkan suatu cita-cita dan perjuangan kaum buruh/rakjat, atau kenyataan-kenyataan yang terjadi pada dan di sekitar kaum buruh, dan yang bersifat mendidik. Hal ini juga akan mendorong ke arah lebih besar daya kreatif.


Pengalaman menunjukkan bahwa rencana-rencana kita tentang rapat-rapat, kursus-kursus, sering mengalami kegagalan dikarenakan adanya soal-soal yang tidak berarti. Misalnya film-film yang oleh majikan didatangkan ke kebun-kebun seminggu atau setengah bulan sekali, yang dalam pada itu waktunya terkadang bersamaan dengan waktu-waktu yang telah kita tentukan untuk rapat. Kaum buruh dengan begitu saja lantas meninggalkan rapat dan terus menonton film tadi. Ya, hal ini mudah dimengerti, bahwa pertama-tama karena mereka haus akan hiburan dan letaknya jauh dari kota-kota hingga terasing dari keramaian. Terutama sekali film memang mempunyai pengaruh besar di kalangan masyarakat umum, terlebih di perkebunan.


Tetapi di samping kerugian kita karena mereka tak datang ke kursus atau rapat, kita akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi. Sebab pada umumnya film-film yang berisikan cerita picisan yang tidak mempunyai arti pendidikan sama sekali, bahkan merusak. Oleh karena itu, sesuai dengan tingkat keadaan dan kesadaran kaum buruh itu sendiri, mereka tidak mampu memerangi pengaruh kejahatan yang bertandang di balik layar putih itu. Menyerah!


Satu hal lagi, bahwa di beberapa daerah perkebunan, masih terdapat banyak kesenian-kesenian yang bersifat merusak. Kesenian-kesenian tadi ialah tari muda-mudi yang kebarat-baratan, malah hampir-hampir dapat dikatakan bukan lagi tari muda-mudi, gepok sengol anggota badan, sampai mencium dan sebagainya. Tayuban sampai kepada merusak tandaknya dan mencium karena mabuk minum wisky.


Jadi kegiatan kita di lapangan kesenian seharusnya mengimbangi dan melawan kepalsuan, kecabulan dan kejahatan tadi. Kita memberantas film-film dan pertunjukan-pertunjukan lainnya yang jahat, tetapi dengan tidak mengadakan kegiatan-kegiatan pada kita sendiri di lapangan kesenian, adalah tidak mungkin!


Kesenian kita harus menjadi pendorong dan sumber yang senantiasa mengalirkan kesegaran jiwa, keindahan hidup, dan api perjuangan yang tak kunjung padam. Harus selalu menjiwai langkah-langkah kita dan menjadikan manusia yang berkemanusiaan.


Beberapa uraian secara singkat di atas, hendaklah menjadikan sumbangan bahan diskusi oleh kawan-kawan lebih jauh. Terutama sekali dititik-beratkan pada daerah Sumatera Tengah. Mungkin sekali, kawan akan mengatakan bahwa, itu tidak lengkap, dan sebagainya, dan sebagainya, memang, tulisan ini bermaksud menggugah terhadap kepasifan jang selama ini terasa.

Dan alangkah lebih baiknya jika halaman kebudajaan dalam WS kita ini, kita jadikan lapangan pengolahan tentang kesenian. ***


(dari Warta Sarbupri, No. 3. Thn Ke VII, Achir Maret 1956)


Jalan Lingkar Kesenian Kita


Tradisi Kesenian Indonesia ( baca juga : Kebudayaan ) telah memberikan idiom-idiom penting yang seringkali dijadikan patokan ideologis dan garis politik individu atau suatu organisasi dalam berkesenian. Idiom-idiom tersebut : Bacaan Liar dan Bacaan Balai Pustaka, Seni untuk seni dan Seni untuk rakyat, Humanisme Universal dan Politik adalah Panglima, Realisme Sosial dan Realisme Sosialis.

Akan tetapi, semua perdebatan tentang soal-soal diatas berakhir dengan mengenaskan pasca munculnya kekuatan Orde Baru, yaitu orde yang dibangun dengan semangat reaksioner dan pembantaian pendukung-pendukung Kiri yang membuat organisasi kesenian berbasis Kiri hancur total. Orde Baru juga menyebabkan kehidupan seni dan budaya terpuruk tak karuan dibawah kepentingan-kepentingan Kapital. Mereka yang hidup, haruslah bergandengan tangan dengan kapital yang wujudnya dapat dilihat dalam pengabdian seni untuk pariwisata dan merebaknya kesenian populer bahkan pornografi. Kesenian yang serius baik di Kiri maupun di Kanan tak lagi menjadi daya tarik bagi Rakyat. Seni menjadi nista dibawah Orde Baru seperti nistanya kaum miskin kota –semi proletariat itu- yang tak lagi mempunyai pahlawan-pahlawan. Di jaman dulu kaum miskin kota ini mengenal kisah-kisah teladan semacam Joko Lelono, Joko Umboro atau bahkan Ken Arok.


Hasil-hasil seni Orde lama yang tetap hidup memunculkan tokoh Pramoedya Ananta Toer sebagai orang yang bisa hidup disegala jaman. Pram masih mampu mewakili seni Realisme Sosialis / Kiri walau secara individual dan sayup-sayup gerakan seni kiri di bawah orde baru mengambil bendera Seni Pembebasan, Seni Perlawanan. Orde Baru juga menciptakan istilah baru untuk perkembangan seni kita yaitu Exile (eksil?) dan non Exile.


Kini saatnya kita menghitung-hitung kembali : darimana kesenian kita mesti berangkat. Kondisi baru-Situasi baru pasca jatuhnya Soeharto menurutku adalah landasan kesenian kita untuk berangkat. Walau diketahui bahwa dibawah Orde Baru juga telah dengan susah payah dibangun berbagai organ kesenian. Tapi fakta : tak ada “ monumen “ untuk kesenian perlawanan tersebut. Semuanya tenggelam dalam perdebatan seni Orde Lama dan para pahlawannya. Seni perlawanan tak begitu besar !, kecuali orang mengenal Penyair Revolusioner – Widji Thukul dari solo itu atau Jaker yang ‘ PRD ‘ itu. Produksinya? cerpen, buku-buku, puisi, drama, teater, film, lagu, lukisan dan patung…? Ya ada alasan : Gerakan Seni Perlawanan ada di bawah ancaman moncong senjata. Tak Leluasa bergerak dan kini Soeharto jatuh. Inilah jaman baru untuk membangun Kesenian Indonesia yang Revolusioner; tradisi berkesenian baru tanpa harus melupakan tradisi seni revolusioner yang lampau.


Sebagai catatan! Seni Perlawanan yang kumaksud adalah seperti yang diistilahkan Widji Thukul seperti juga tersimpul dalam kata-katanya yanmg melegenda : “ Hanya ada satu kata : Lawan ! “. Secara komprehensif, apa itu Seni Perlawanan aku sendiri tidak paham. Waktu itu sempat tercetus bahwa Seni Perlawanan membuat beda dengan seni yang dibuat komunitas lain seperti Seni Pamflet itu punya Rendra dan Seni Perlawanan itu bertugas membangkitkan kesadaran berlawan Rakyat : dari budaya bisu ke budaya bicara, protes dan pemberontakan. Tapi Seni Perlawanan belum dapat merumuskan program dan stratak menuju budaya berlawan dan memberontak itu.


Rencana Kongres Jaker ditahun 1996 terpaksa batal karena diinterupsi oleh peristiwa 27 juli 1996, dan Jaker yang saat itu belum apa-apa, sungguh ! belum apa-apa kecuali tahapan-tahapan konsolidasi yang itupun tidak ‘ menarik ’ artinya tidak ada percepatan organisasi dan keanggotaan, ikut-ikutan juga menjadi organisasi terlarang dan beberapa orang juga ditangkap atas nama Jaker seperti David dan Brewok dari Surabaya dan Widji Thukul yang hilang yang sebentar lagi menjadi legenda.

Karena itu Konferensi Kebudayaan hari ini membuatku gembira walau telah lama tidak kubuka lembaran-lembaran seni dan budaya. Aku merasa menjadi organizer kesenian yang gagal. Tapi aku juga tahu setiap kali kawan-kawan menyebut Jaker, Antun Js selalu merasa bersalah. Andi Arief semasa PRD BT ( Bawah Tanah ) seringkali bertanya, “ Mana lagu Jaker ? masa kalah sama gilang sepatu gilang, Ole-Ole, Balonku ada lima…Benci aku! “. (Andi Arief menurutku kawan yang menaruh perhatian pada kesenian kita walau tidak suka sastra!).


Karena itu pula kedepan, kita perlulah merumuskan konsepsi berkesenian kita. Apakah nanti dibawah panji-panji Seni Perlawanan atau Seni Pembebasan atau malah kembali dibawah panji-panji Seni untuk Rakyat.



Seni dan Revolusi


Beginilah kehidupan seni!, yang oleh sejarah dia harus menjadi kawan revolusi, tapi seringkali dikatakan bahwa seni harus mengabdi pada kepentingan Revolusi. Pertanyaannya : sumbangan apa yang bisa diberikan seni kepada Revolusi –sering jatuh atau menjatuhkan seni pada tugas-tugas penghiburan seperti Roh Kudus untuk murud-murid Yesus Kristus; kalau memang tidak mau dikatakan sebagai badut (kesenian). Menurutku, agar kader-kader kesenian tidak jatuh pada tugas penghiburan, kader kesenian harus mampu membuat kesenian menjadi massal, artinya menjadi milik Rakyat. Rakyatlah yang berkesenian bukan elit seniman yang terpisah dari Rakyat punya kerja. Dengan Kata lain, kesenian haruslah menjadi gerakan yang tidak terpisah dari aktivitas gerakan Rakyat.


Sebagai contoh : Gerakan Resistensi Yahudi yang menghasilkan budaya dan gerakan membaca syair-syair Daud, atau Gerakan Pembebasan Islam Muhammad menghasilkan gerakan seni yang massal, membaca dan menyanyikan Puisi bahkan pada waktu yang sama atau seperti cerita Surya kawan kita, gerakan kesenian di Filipina menghasilkan Kursi yang bila diduduki selalu condong ke kiri. Contoh lain : sistim keamanan tradisional rakyat jawa menghasilkan seni musik : memukul kenthongan, orang lain yang mendengar ( berbahagialah orang yang mendengar ) akan membalasnya..

Kesenian yang menjadi gerakan rakyat akan membuat kesenian itu dibela juga oleh rakyat bila mendapat rintangan. Buruh, Petrani, Kaum Miskin Kota dan Pemuda-pemuda Revolusioner herus mengerti bentuk kesenian yang membela hidupnya dan membantu kerja-kerja pembebasan Rakyat. Minimal seperti Andi Arief-lah. Kalau dulu di jaman Aidit, ada istilah Politik Kiri – Kebudayaan Kanan. Justru, kaum Revolusioner (yang kebanyakan dari kelas borjuis kecil) merasa risih menikmati karya seni “Revolusioner “ yang kebanyakan tidak artistik; disisi lain dituntut sesegera mungkin menyumbangkan dirinya untuk Revolusi.


Semsar Siahaan (salah seorang pendiri Jaker) ditahun 1996 mengatakan, “ Saya ditendang dari Jaker karena perbedaan visi. Saya dianggap lebih mementingkan artistik daripada politik “, yang lainnya memilih politik seperti Widji Thukul, Moelyono, Linda Christanti, Raharjo Waluyo Jati, Hilmar Farid… (yang terakhir ini mendirikan komunitas seni-budaya sendiri keluar dari JAKER tanpa sebab yang saya ketahui pasti. Namanya hampir mirip JAKER yaitu Jaringan Kerja Budaya disingkat JKB ). Pertemuanku dengan Resobowo membuatku agak mengerti : JAKER terlalu politis, Joobar Ayub menolak garis JAKER. Gerakan LEKRA lebih berbobot dari JAKER baik dari segi tuntutan, hasil karya seni LEKRA : Patung, Lukis, Puisi, karya sastra, musik semua yang terbaik di Indonesia adalah hasil LEKRA “, begitu kata Ayub. Begitulah juga Hilmar Farid atau Semsar Siahaan : kesenian haruslah dibangun dengan tetap memprioritaskan artistik walau harus dibebani dengan tugas politik (baca juga : Revolusi). Politik tidak boleh menindas seni. Hakikat seni adalah artistik.


Menurutku pribadi, pertengkaran seperti ini adalah corak lama. Mana yang prioritas Artistik atau Politik? Aku tidak ingin berangkat dari sana. Pram memang pernah mengatakan : dalam tahap awal Seni Realisme Sosialis memang kasar, misalnya slogan, namun nantinya ia akan menemukan sendiri keindahan Artistik, hanya yang perlu diingat: keindahan Seni Realisme Sosialis pertama-tama terletak pada pembelaan dan keberpihakan pada kemanusiaan, (baca: manusia yang tertindas, miskin dan sengsara) bukan pada hakikat seni yang artistik tapi isi dan seruannya yang membela. LEKRA mungkin sudah memadukan dua tugas ( seperti peran ganda ibu ) yaitu memadukan dua tugas tinggi artistik – tinggi politik tersebut dengan baik.


Tapi harus diingat juga, LEKRA dibangun dalam tradisi “ Pendidikan Belanda “ yang terkenal baik dalam soal-soal Humaniora (kata Mangunwijaya). Apalagi sebelum LEKRA dibentuk, kesenian sudah menjadi bagian dari gerakan Revolusi. Kader-kader kesenian cukup banyak disamping dibangun dengan taktik yang jitu (saat itu) dengan pembangunan sanggar (mirip langgar). Dengan begitu sanggar-sanggar kesenian rakyat didirikan dan gerakan LEKRA meluas sampai di desa-desa dan puncuk gunung.


Apa yang kita punya saat ini ? Seni terpuruk dan nista bersamaan dengan kuatnya cengkraman Kapital. Menemukan tentara-tentara seni dan budaya (istilah Mao) di jaman ini susah seperti susahnya ibu-ibu sekarang menemukan kutu dirambut anaknya (tidak seperti dijaman Jepang maksudku). Kita bisa melihat di jaman Orde Baru, tak ada hasil seni dan grup seni yang menonjol. Yang bisa hidup adalah mereka yang memang “ Survival of the fittest “. Grup-grup teater jatuh bangun, tak ada grup teater yang berstamina lama setelah didirikan. Hari ini didirikan, besok latihan, esoknya pentas berikutnya bubar. Bikin baru lagi (seperti komite aksi kita), ruang-ruang seni – budaya dikoran-koran makin menghilang , bahkan Pembebasan, koran kita yang sadar pun tak memberi rumah singgah untuk kesenian kita. Pojokannya pun tidak! Tidak ada Puisi. Kecuali mungkin lain, kalau redaktur Pembebasan menganggap kesenian kita adalah slogan sebagai tahapan awal seni-seni Realisme Sosialis. Tapi, tak apa di Seruan Buruh masih ada “ Puisi “.


Karena itu menurutku, untuk saat ini, yang paling pokok disamping tugas revolusi, tugas kader kesenian kita adalah membangkitkan gairah berkesenian, tak perlu cemas dengan artistik atau tidak artistik dan tidak perlu terjebak dalam sengketa seni lama disamping kita juga mendorong kader kesenian kita untuk belajar secara intensif soal-soal kebudayaan dan seni revolusioner baik dari tradisi seni revolusioner Soviet, Cina, Kuba, Vietnam atau Indonesia. Agar gerakan kesenian yang kita bangun mendapat bentuknya, minimal kita mampu menjawab judul kereta seni yang membawa kita : Seni Perlawanan, Seni Pembebasan, Seni Kontekstual, Seni Marjinal atau masih dengan kereta lama : Seni Rakyat – Realisme Sosialis, Politik adalah Panglima. Dari slogannya nampaknya saat itu LEKRA bingung memimpin gerakan seni yang berjibun di Indonesia. Karenanya butuh Panglima, butuh Jendral yang mengarahkan massa seni.


Saat ini adalah massa seni? gerakan seni? Tidak!. Semangat seni sedang jatuh, kebangkitan dan kegairahan berkesenian inilah yang harus dibangun yaitu dengan produksi seni sebanyak-banyaknya oleh organisasi kesenian kita : mulai dari lagu, sastra dan berbagai jenis terbitan, pentas lukisan, patung sambil mengadakan pendidikan soal-soal tradisi seni revolusioner.


Singkatnya, keberangkatan seni kita lebih baik dimulai dengan berkesenian itu sendiri, berproduksi untuk membuka gairah seni dan ruang seni sebanyak-banyak, seluas-luasnya dengan cara membuat seni menjadi massal dan pengorganisasian kesenian rakyat yang baik dan profesional. Misalnya : pentas teater, melukis dipabrik-pabrik dengan memobilisasi massa buruh dengan catatan melibatkan buruh untuk terlibat dalam kerja-kerja kesenian. Di desa, berkerja sama dengan petani, JAKER tahun 1994 pernah mencobanya di basis tani di Ngawi dan juga memperluas ruang seni dan budaya dikoran-koran maupun koran kita sendiri. Inilah jalan lingkar yang harus kita dilewati kereta kesenian kita.

Jakarta, 10 Mei 2000




Nyali
Wiji Thukul Poems




KUBURAN PURWOLOYO

disini terbaring mbok Cip
yang mati di rumah
karena ke rumah sakit
tak ada biaya


disini terbaring pak Pin
yang mati terkejut
karena rumahnya di gusur


di tanah ini
terkubur orang orang yang sepanjang –
hidupnya memburuh
terhisap!
dan menanggung hutang


di sini
gali gali
tukang becak
orang orang kampung yang berjasa
dalam setiap pemilu : terbaring
dan keadilan
masih saja hanya janji


di sini
kubaca kembali
“sejarah kita belum berubah!”


Jagalan Kalangan Solo,25 Okt ‘88



KAMPUNG


bila pagi pecah
mulailah sumpah serapah
anak dipisuhi ibunya
suami istri ribut ribut


bila pagi pecah
mulailah sumpah serapah
kiri kanan ribut
anak anak menangis
suami istri bertengkar
silih berganti dengan radio
orang orang bergegas
rebutan sumur umum


lalu gadis gadis umur belasan
keluar kampung menuju pabrik
pulang petang
bermata kusut keletihan
menjalani hidup tanpa pilihan


dan anak anak terus lahir berdesakan
tak mengerti rumahnya di pinggir selokan
bermain dimuka genangan sampah
di belakang tembok tembok
menyumpal gang gang
berputar dalam bayang bayang
mencari tanah lapang


Solo Sorogenen Juli ‘ 88


DI BAWAH SELIMUT
KEDAMAIAN PALSU


jangan terus tindas rakyat yang membisu
jika demikian ..
kau seperti membangun bendungan yang bakal jebol
arus menggasak
hingga tamatlah kekuasaanmu


jangan jadikan rumahmu gudang penuh-
barang mewah dan timbunan bahan makanan
jangan sanak familimu kaya karena bintang bintang pangkat
jika demikian ..
kau telah melahirkan musuh bagi anak cucumu


janganlah rampas tanah rakyat
jangan abaikan kepentingannya
sebab tanah adalah bumi tempat ibadah kepada tuhannya
tempat memuliakan dirinya dengan kerja
jika itu kau lakukan ..
berarti telah kau tabur sendiri
iman kekacauan di negeri ini


jangan redam pikiran rakyat dengan paksa
jangan coba membuat ketentraman dengan penuh dengan ancaman
jika demikian ..
berarti kau telah menggugah
raksasa yang tidur di bawah
selimut kedamaian palsu
maka pada saat itulah
sejarah kembali akan membacakan
kisah kisah tirani:
“Yang Harus Diturunkan!”






BUNGA DAN TEMBOK




seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kau kehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah



seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kau kehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi



seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri



jika kami kami bunga
engkau adalah tembok itu
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!



dalam keyakinan kami
dimanapun

tirani harus tumbang!







(1987-1988)










AYOLAH .. WARSINI


warsini ! .. warsini !
apa kamu sudah pulang kerja Warsini
apa kamu tak letih seharian berdiri di pabrik
ini sudah malam Warsini
apa celana dan kutangmu digeledah lagi
karena majikanmu curiga kamu membawa bungkusan moto


atau apakah kamu mampir di salon lagi
berapa utangmu minggu ini
apa kamu bingung hendak membagi gaji


ayolah warsini
kawan-kawan sudah datang
kita sudah berkumpul lagi disini
kita akan latihan drama lagi
ayolah Warsini


kamu nanti biar jadi mbok bodong
si Joko biar menjadi rentenirnya
jangan malu warsini
jangan takut dikatakan kemayu
kamu tak perlu minder dengan pekerjaanmu
biar kamu cuma buruh
dan SD saja tak tamat


ayolah Warsini
mas Yanto juga tak sekolah Warsini
iapun cuma tukang plitur
mami juga tak sekolah
kerjanya mbordir sapu tangan di rumah
wahyuni juga tidak sekolah
bapaknya tak kuat bayar uang pangkal sma
partini penjahit pakaian jadi
di perusahaan milik tante Lili
kita sama sama tak sekolah Warsini


ayolah warsini
ini sudah malam Warsini
ini malam minggu warsini
kami sudah menunggu di sini


(Surakarta 9/1986)






AKU MASIH UTUH DAN
KATA KATA BELUM BINASA


aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk untuk penguasaa
puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan
mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk-tusuk sepi
ia tak mati-mati


telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka
aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa


(18 Juni 1997)






CATATAN


gerimis menderas tengah malam ini
dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-dendi
dalam sunyi hati menggigit lagi
ingat saat pergi
dan pipi kananmu
kucium
tak sempat mencium anak-anak
khawatir
membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)


bertanya apa mereka saat terjaga
aku tak ada (seminggu sudah itu
sebulan sesudah itu
dan ternyata lebih panjang dari yang kalian harapkan)


dada mengepal perasaan
waktu itu
cuma terbisik beberapa patah kata
di depan pintu
kaulepas aku
meski matamu tak terima
karena waktu sempit
aku harus gesit


genap ½ tahun aku pergi
aku masih bisa merasakan
bergegasnya pukulan jantung
dan langkahku
karena penguasa fasis
yang gelap mata

aku pasti pulang
mungkin tengah malam ini
mungkin subuh hari
pasti
dan mungkin
tapi jangan
kau tunggu


aku pasti pulang dan pasti pergi lagi
karena hak telah dikoyak-koyak
tidak di kampus
tidak di pabrik
tidak di pengadilan
bahkan rumah pun mereka masuki
muka kita sudah diinjak


kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
katakan ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi di paksa menjadi penjahat
oleh penguasa
yang sewenang-wenang


kalau mereka bertanya
“apa yang kau cari?”
jawab dan katakan
dia pergi untuk merampok
haknya yang dirampas dan dicuri


(15 Januari 1997)



DI TANAH INI
MILIKMU CUMA TANAH AIR


bulan malam membuka mataku
merambati wuwungan rumah-rumah bambu
yang rendah dan yang miring
di muka parit yang suka banjir
membayanglah masa depan


rumah-rumah bambu
yang rendah dan yang miring
lentera minyak gemetar merabamu


penggembara oh penggembara yang nyenyak
bulan malam menggigit batinku
mulutnya lembut seperti pendeta tua
menggulurkan lontaran nasibmu


o .. tanah-tanah yang segera rata
berubahlah menjadi pabrik-pabrik
kita pun kembali bergerak seperti jamur
liar di pinggir-pinggir kali
menjarah tanah-tanah kosong
mencari tanah pemukiman disini
beranak cucu melahirkan anak suku-suku terasing
yang akrab derngan peluh dan matahari


di tanah negri ini milikmu cuma tanah air


(tanpa tahun)






PUISI SIKAP


kamu memang punya tank
tapi salah besar kamu
kalau karena itu
aku lantas manut


andai benar
ada kehidupan lagi nanti
setelah kehidupan ini
maka akan kuceritakan kepada semua makhluk
bahwa sepanjang umurku dulu
telah kuletakkan rasa takut itu ditumitku
dan kuhabiskan hidupku
untuk menentangmu
hei penguasa zalim


(24 Januari 1997)



TENTANG SEBUAH GERAKAN


tadinya aku pengin bilang:
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!


aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian


aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku


aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?


TUJUAN KITA SATU IBU


kutundukan kepalaku
bersama rakyatmu yang berkabung


bagimu yang bertahan dihutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu
tersebut namamu selalu
dihatiku


aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
: a luta continua


kutundukan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
dari ujian pertama yang mengguncang


kutundukan kepalaku
kepadamu ibu-ibu
hukum yang bisu
telah merampas hak anakmu


tapi bukan cuma anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan di adili di pengadilan
yang tidak adil ini


karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu


kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu
: pembebasan!


kutundukan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak


(Juli, empat, sembilan tujuh)


DARMAN


desa yang tandus ditinggalkannya
kota yang ganas mendupak nasibnya
tetapi ia lelaki perkasa
kota keras
hatinya pun karang
bergulat siang malam


Darman kini lelaki perkasa
masa remaja belum habis direguknya
Tukini setia terlanjur jadi bininya
kini Darman digantungi lima jiwa


Darman yang perkasa
kota yang culas tidak akan melampus hidupnya
tetapi kepada tangis anak-anaknya
tidak bisa menulikan telinga
lelaki, ya Darman kini adalah lelaki
perkasa, ya Darman kini adalah lelaki perkasa


ketika ia dijebloskan ke dalam penjara
Tukini setia menangisi keperkasaannya


ya merataplah Tukini
di dalam rumah yang belum lunas sewanya
di amben bambu wanita itu tersedu
sulungnya terbaring diserang kolera


Tukini yang hamil buncit perutnya
nyawa di kandungan anak kelima



CATATAN SUBVERSIF TAHUN 1998


kau adalah kemarau panjang
yang hanya membawa kematian
kepada daun, bunga, dan
ikan-ikan di sungai
kampung tercinta


karena kau adalah kemarau
maka airmata kami
akan menggenangi bumi
jadi embun
naik ke langit,
jadi awan-awan
dan dengarlah gemuruh kami
sebagai hujan turun


mengusirmu dari sini!
Budaya Pembebasan di Indonesia - Sejarah, Metode dan Bentuk



Budaya tak sekadar warisan seni dalam kertas berdebu minta dicetak ulang, batu-batu rapuh minta dipugar atau juga gagasan beku nenek-moyang minta dielus atau dikritik bahkan dihancurkan, tapi ia adalah semua dalam material dan immaterial yang cahayanya memancar tanpa diminta atau dijelaskan bahkan. Bukankah kita sering mendengar Bali, pulau dewata, Jawa: halus-lembut, eropa: liberal, soviet: revolusioner, Padang: cinanya Indonesia alias pintar dagang dan lain-lain. Semuanya itu sering disebut Ethos. Dicitrakan dalam karya-karya seni: sastra-sastranya, musik-musiknya, tari-tariannya, rumah-rumahnya, gedung-gedungnya, taman-tamannya, pesta-pestanya, jalan-jalannya, tingkah-lakunya, humor-humornya dan akhirnya kosmos keseluruhan dalam alam pikirannya untuk memahami ontologi keberadaan dirinya dan alam semesta ruang dan waktu tempat ia berdiri hidup, bernafas dan mati. Atau singkatnya Filsafat.


Dalam praktek hidup manusia yang panjang itu sampai juga pada pemahaman masyarakat berkelas: penindas dan kaum tertindas bahkan kesimpulan dari hidupnya: sejarah manusia adalah sejarah perjuangan klas yaitu perjuangan dan pemberontakan antara kaum tertindas kepada kaum penindas. Tanpa penindasan tentu tak akan ada perjuangan pembebasan. Itulah yang menggerakkan roda kemajuan zaman. Pemahaman ini dimulai oleh Hegel dan diteruskan para pengikutnya terutama yang bergerak di lingkaran Hegelian Kiri, termasuk Karl Marx.


Di sini, dimulai peletakan batu fondasi budaya pembebasan. Heine menyatakan dalam syair:


terimakasih bagi Hegel
yang mengajari saya
bahwa Tuhan yang baik
tidak bermukim di dalam surga
seperti yang dikatakan nenek
sapi saya sendiri
dapat jadi Tuhan yang baik


Bangunan budaya pembebasan pun terus menemukan bentuk. Gerakan pembebasan ini berkait erat dengan perlawanan-perlawanan rakyat dalam berbagai bentuk termasuk seni yang berkehendak membebaskan diri dari sistem penindasan dan penghisapan bahkan menemukan jenis manusia yang menjadi juru-slamat seni dari penindasan Kapitalisme yakni klas pekerja.


Itulah capaian filsafat abad ke-19. Ia seperti menara tinggi yang sanggup melihat capaian kebudayaan masa lalu dan masa depan. Kebudayaan masa lalu yang bagaimana yang harus dimaknai sebagai hasil kemerdekaan manusiawi atau harus dihancurkan karena bermakna anti-manusia dan bagaimana kebudayaan masa depan harus dibangun yaitu budaya yang membebaskan manusia dari sistem penindasan dan penghisapan.


Kearifan pembebasan macam itu sampai juga pada kita yang berada di persimpangan budaya: nusantara. Sneevlit membawa api baru dalam gerakan pembebasan. Ia membangunkan organisasi yang berlawan pada tahun 1914. Membangkit orang-orang pribumi untuk menyadari sistem penindasan dan penghisapan yang berlaku atas negeri dan rakyat nusantara serta melawannya. Hasil dari olahan tangannya adalah Semaun: remaja non akademik yang berkesadaran maju, di bidang ideologi, politik dan organisasi pada usia 13 tahun. Pada usia remaja ini, Semaun telah dipercaya menjadi sekretaris SI cabang Semarang. Tentu ini suatu kemampuan yang ajaib yang tak akan ditemukan pada masa sekarang. Pada masa lalu kalau kita percaya tentu yang dapat menyaingi adalah Yesus yang sanggup berdebat dengan para rabbi Yerusalem pada usia 12 tahun. Obor pembebasan di nusantara ini terus menjalar, meretas jalan pembebasan dan berusaha memahami detail keringat untuk kerja pembebasan yang telah ditempuh para pekerja sebelumnya. Alat-alatnya telah ditaburkan ISDV minimal arah pembebasan manusia secara komprehensif.





Tanpa Obor: Kegelapan pun Harus dimaknai


Beberapa orang menolak ada basis budaya pembebasan di Indonesia (di Nusantara). Yang ada melulu budaya pembodohan, penindasan. Semua budaya yang membebaskan datang dari luar yang datang bersama imperialisme: Belanda menghapuskan budaya sutee dan melarang kanibalisme, Inggris menghancurkan pemilikan tanah yang feodal. Bersama mereka juga dibawa nilai-nilai baru: demokrasi, sosialisme, nasionalisme, pendidikan: zending yang kemudian ditiru Muhamaddiyah. Rapat, kongres, pertemuan, notulensi dan vergadering, termasuk teater pun dibawa oleh mereka. Pramoedya juga berada dalam posisi seperti ini. Tapi benarkah begitu? Kalau ukurannya adalah gerakan pembebasan modern dengan cara pikir yang modern: rasionalitas. Tentu pendapat ini dibenarkan. Logika modern sendiri baru dikembangkan Aristoteles pada abad 4 SM. Cara berpikir yang berangkat dari kesimpulan atas perenungan manusia sendiri baru berkembang pada beberapa abad sebelum Aristoteles. Semua itu terjadi di Asia kecil dengan Yunani sebagai bintangnya. Kebudayaan ini meluas bersamaan meluasnya kerajaan Macedonia di bawah Alexander Agung: Helenisme yang sampai juga di India. India kelak menjadi kiblat kebudayaan berabad-abad kerajaan-kerajaan nusantara. Pengaruhnya sampai kini terasa terutama dalam bahasa. Bahkan pernah menguasai bahasanya, Sangskerta dianggap menguasai bahasa dewa, kemudian bahasa yang indah dan menjadi kembangnya bahasa Jawi yang menjadi syarat bila ingin menjadi pujangga.


India memperkenalkan huruf, cara berhitung dan pengaturan masyarakat dan tentu saja cara berpikir dan kepercayaanya. Pram memaknai ini sebagai perubahan dari kondisi komunal purba ke feodalisme sebagai penindasan pertama. Semua ini dipastikan dilakukan dengan cara kekerasan. (Baca Hoa Kiau di Indonesia) Bagaimana ini berjalan belum pernah ada penelitian. Kebanyakan penulis Kebudayan Indonesia, Pengaruh India berlaku dengan perdagangan dan penyebaran agama yang selanjutnya berkembang di masyarakat karena diterima dengan damai. Perlawanan yang ada adalah perlawanan budaya dengan tetap mempertahankan ciri-ciri lokal yang dianggap dikerjakan oleh para genius lokal yang tak ingin larut dalam indianisasi. Misalnya Candi yang berundak, dengan pundennya dianggap budaya asli. Lantas: cara penguburan bujur selatan-utara, bahkan dianggap sebagai simbol perlawanan dan kehati-hatian karena dari utaralah datang kematian dan kehidupan.


Masa-masa gelap di bawah feodalisme ini berlangsung lama tanpa kepemimpinan yang jelas. Tak ada terang budaya yang membebaskan. Intrik-intrik kotor khas feodal berlangsung terus: mulai dari rebutan kerajaan sampai selir. Walau begitu kegelapan ini diterangi dengan: peribahasa, cerita dan dongeng perlawanan tanpa akhir dari para pengembara ksatria yang setia pada rakyat kecil: seperti Joko Umboro, Joko Lelono dan seringkali dengan mengangkat cerita budaya di luar mainstream Kraton: seperti Syech Siti Jenar, Arya Penangsang, Mangir, atau Centhini atau menulis satir dengan nama-nama gelap seperti yang disinyalir dikerjakan oleh Ronggo Warsito. Sampai pada Cipto, Mangir dijadikan tokoh untuk melawan feodalisme Kraton, Ronggo Warsito sampai pada lekra masih harus diteliti dan diterjemahkan syair-syair kerakyatannya. Arya Penangsang oleh Pram melalui Tirto dijadikan tokoh acuan yang memberontak terhadap Kebudayaan yang beku, pedalaman.


Beberapa peribahasa yang dianggap maju, progresif menjelaskan ketertindasan rakyat dan memberi ruang kesadaran untuk melawan misalnya:


Nek awan duweke sing nata nek wengi duweke dursila
Mutiara asli tetap berkilau, meski ditutupi lumpur kebohongan.
Becik ketitik ala ketara
Siapa menanam angin, akan menuai badai
Berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian – Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,
Ada udang dibalik batu
Sedia payung sebelum hujan


Peribahasa-peribahasa ini belum diteliti latar-belakang kemunculannya dan kapan. Cuma alat budaya yang muncul pada masa seperti ini kebanyakan berupa puisi yang kemudian disarikan dalam pepatah dan peribahasa. Atau malah sebaliknya: hanya pesan-pesan bijak.


Melawan Budaya Penjajah


Kedatangan kolonialisme Barat yang padamulanya karena rempah-rempah menimbulkan derita bagi rakyat. Tak seperti Jepang yang berusaha melawan kekuatan Barat dengan pengiriman rakyatnya yang cerdas untuk menimba ilmu di Barat atau dengan usaha menterjemahkan buku-buku barat ke bahasa Jepang secara massal, kaum feodal Indonesia justru bekerja sama dengan kolonial menindas rakyat. Rakyat tanpa kepemimpinan modern melawan dengan caranya sendiri-sendiri. Terkadang bersekutu dengan bangsawan yang kecewa karena tak dapat warisan kekuasaan seperti kaum tani yang rela menjadi prajurit Pangeran Diponegoro 1825-1830.


Perang Diponegoro yang didukung kaum tani ini membekas dalam ingatan rakyat. Terlebih penangkapan Dipo sendiri telah diabadikan dalam lukisan Raden Saleh, seorang pelukis pribumi yang sanggup menguasai teknik melukis Barat. Chairil Anwar pun membangunkan Ode buat Dipo dalam Sajak Diponegoro di tahun 1945. Berbagai perlawanan atau cerita paska perlawanan Diponegoro terus membekas dan menjadi inpirasi para pejuang. Beberapa bahkan bangga menjadi keturunan prajurit Diponegoro: lihat film Dua Ksatria. Prajurit-prajurit Dipo yang kalah perang enggan pulang dan meneruskan dengan caranya sendiri termasuk dengan bentuk-bentuk kesenian. Sebagian lagi menjadi basis bagi kemunculan semi proletar di kota-kota Jawa.



Kedatangan kolonialisme.
Peranan Max Havelaar


Diskriminasi sosial yang sangat mencolok misalnya telah menyadarkan Mas Marco akan harga dirinya sebagai manusia. Perlakuan sewenang-wenang di stasiun kereta api dan penempelengan kuli-kuli telah merangsang Marco untuk bergerak. Pembacaannya tentang sejarah dunia, buku-buku Multatuli, Veth dan lain-lain telah ikut mempercepat kesadaran akan kebebasan Indonesia (Soe, dblm)


Kartini: Ibu Budaya Pembebasan


Kartini dalam berbagai surat-suratnya yang kemudian diterbitkan menjadi bacaan kaum pergerakan sekaligus bahkan memberi arah gerakan, memberi jiwa. Karenanyalah Kartini menjadi sumber inspirasi gerakan budaya pembebasan.


Djawa Dipa 1914, sebuah gerakan anti feodal Jawa yang berkembang menjadi gerakan anti kolonialisme Belanda; dilanjutkan dengan pergulatan Ki Hadjar Dewantara membangun Taman Siswa, gerakan pendidikan modern yang berbasiskan kebudayaan asli (Jawa) bagi rakyat jajahan; dan terakhir tentang pilihan "Barat" dan "Timur" dalam polemik kebudayaan tahun 1930-an. (Supartono)







Selamanja saja hidoep, selamanja
saja aan berichtiar menjerahkan djiwa
saja goena keperloean ra'jat
Boeat orang jang merasa perboetannja baik
goena sesama manoesia, boeat orang seperti
itoe, tiada ada maksoed takloek dan teroes
TETAP menerangkan ichtiarnja mentjapai
Maksoednja jaitoe
Hindia Merdika dan Slamat
Sama Rata Sama Kaja
Semoea Ra’jat Hindia



(Semaoen, 24 Djoeli 1919)
Dunia Semsar Siahaan




Semsar Siahaan Kembali dari Pengasingan


JAKARTA – Suatu siang, bertahun-tahun lalu, sebuah mural karya Semsar Siahaan di tembok Teater Arena, Taman Ismail Marzuki, diruntuhkan. Lukisan dinding yang dibuat tanpa izin ini hilang bersama bangunan fisik Teater.


Semsar Siahaan adalah salah satu nama seniman yang selalu berontak atas tindakan represif penguasa di masa itu. Ia mengekspresikan sikapnya itu lewat karya-karya poster, ilustrasi, dan lukisan-lukisannya. Karya mural di tembok Teater Arena pada masa itu pun melukiskan kejengahannya pada militer yang berkuasa. Ia menggambar seorang aparat—tampak belakang—lengkap dengan sepatu lars dan seragam loreng.


”Itu tentang keterasingan,” katanya, setelah beberapa masa berlalu. Semsar, yang menghilang beberapa lama dari ”panggung” seni nasional kini kembali lagi. Ia berpameran di Galeri Nasional, Jakarta. Karya-karya yang dipamerkan itu tidak dihasilkan di negeri tanah kelahirannya ini, melainkan di Kanada, sebuah negeri yang ”menampungnya” saat ia harus berhadapan dengan tekanan dari pemerintah Orde Baru. Saat itu, Semsar pergi seiring nama ”besarnya” sebagai seniman yang aktivis, aktivis yang beroposisi.


Telah banyak perubahan yang dialaminya, seperti juga berjalannya waktu. ”Proses pasti akan terjadi,” jelasnya saat ditemui SH di Galeri Nasional. Karya-karya yang ditampilkannya dalam pameran ini memang memperlihatkan eksplorasi gaya. Namun tetap saja, ”garis perjuangannya” jelas. Semsar tetap tak bisa menghilangkan kekritisannya terhadap arus globalisme, kapitalisme, imperialisme atau juga pelanggaran HAM yang terjadi di negara yang dia tempati.


Itu dia lakukan ketika terjadinya pembunuhan seorang aktivis yang dituangkannya dalam karya lukisan ”Genoa Tragedy 1”, ”Genoa Tragedy 2” dan ”Genoa Tragedy 3”. Sama seperti ketika dia membongkar kesedihan masa lampau terhadap peristiwa di Dili dalam lukisan ”In Memoriam Santa Cruzs” (2001).


Simbolik dan Perjuangan


Dunianya adalah dunia simbolik. Hal itu terlihat dalam lukisannya yang berjudul ”The Man Who Knows All” (2002). Dalam lukisan itu, George Bush dilukiskannya mengenakan pakaian ”terlampau besar untuk dirinya”, bersandar pada pemasang perangkap lalat ”pertanda kematian”, dengan senjata yang dia pegang, dan sementara sepatu ”kesayangannya” menginjak surat perjanjian antinuklir.


Simbol itu juga muncul saat dia menampilkan sosok manusia dalam lukisan serigrafi ”Genoa Tragedy” tadi, dengan tampilan otot sapi atau semacamnya, yang bisa ditusuk atau disangkut dengan gancu (tongkat besi pengait) seenaknya, padahal ”aktivis itu adalah manusia”


Dunia simbolik juga yang diperlihatkannya pada karya rangkaian ”lingkaran segi enam” yang memperlihatkan bentuk pizza raksasa berjudul ”G-8 Pizza”, dengan potongan gambar-gambar simbolik tentang teknologi, globalisasi yang sejalan dengan kapitalisme.


Selain melukis di media kanvas, ia juga membuat karya instalasi yang terbuat dari kardus. Kardus-kardus tersebut dibuat bersilang dengan sandaran kayu. Karya instalasi pertamanya yang terbuat dari kardus, menurutnya, diciptakan pada suatu malam bersalju, saat dia ingin merokok dan diberi judul ”The Study of Ice Man” (2001).


Karyanya yang berupa simbolik ini nyatanya juga tak hanya yang bertema sosial dan kemanusiaan, tapi juga diperlihatkannya pada karya-karyanya yang lebih mengarah pada internal dirinya yang berdialog dengan alam, seperti dalam lukisan ”The Springs Full Moon 1” (2004) dan ”The Springs Full Moon 2” (2004).


Belakangan, karya-karyanya memang menggunakan garis-garis, bahkan objeknya dibuat nyaris ”abstrak berfigur”. Lukisan yang tak verbal dalam perwujudan objeknya namun tetap memperlihatkan tema sosial itu ada pada karya antara lain ”Homage to Andy Warhol” (2001) dan ”Double Portrait (Portrait of Nicole M.B)”.


Sketsa Semsar Siahaan justru tampak lebih lugas dan detail. Namun, di dalam sketsa, Semsar tetap memperlihatkan kekhasannya, berupa ketekunan arsiran. Warna-warna gelap dalam sketsa hitam-putihnya, tak selalu diperlihatkan dalam warna bidang hitam. Karya sketsa tinta di atas kertasnya dengan judul antara lain ”Third Millenium Totem 1”, ”Third Millenium Totem 2 (Mother and Child)” dan ”Third Millenium Totem 3”, atau ”The Poet who Dissapeared” (2000), menunjukkan hal itu.


Kembali kepada Semsar yang dulu berbicara verbal baik dalam tema maupun teknik karyanya, karya kali ini, sekalipun dengan misi dan ideologi yang sama, karyanya lebih memperlihatkan kontemplasi perenungan. Di satu sisi, permainan kekuatan warna, warna-warna baru seperti garis atau pecahan objek, namun di sisi lainnya adalah kekuatan untuk ”pemberontakan” atau ”kegilaan” tampaknya kini lebih diredam. Benarkah? (SH/sihar ramses simatupang)

Semsar Siahaan, Seni Pejuang Manusia
(Kompas, Minggu, 22 Agustus 2004)


PENGGEMAR seni di Indonesia mestinya belum lupa dengan sosok Semsar Siahaan yang gemar "berjuang" ini. Ketika banyak seniman lain merasa cukup menampakkan kesetiakawanan lewat karya, lewat ucapan, ia hadir secara fisik di dalam berbagai aksi jalanan. Ia bukan hanya menyiapkan peralatan berdemonstrasi lewat keterampilan menggambarnya, tetapi juga ikut mengusung dan berjemur di terik Matahari bersama sejumlah aktivis. Sebutlah itu seperti aksi unjuk rasa melawan pembredelan majalah Tempo, Editor, dan Detik tahun 1994. Demikian juga pada demonstrasi anti-Perang Teluk tahun 1991.


SEMUA itu terjadi di Jakarta. Lima tahun lalu ia menghilang dari peredaran dan bermukim di Kanada. Ternyata negeri dingin yang makmur itu tidak membuat semangatnya membeku. Ia tetap giat bersama sejumlah penggiat LSM dalam berbagai isu.


Pengalamannya dengan pergaulan yang lebih luas tersebut ia bawa di dalam pameran oleh-olehnya di Galeri Nasional, Jakarta, tanggal 15-30 Agustus 2004. Untuk pameran The Shade of Northern Lights ini ia membawa puluhan karya-karya hitam putih, belasan "obyek", dan berpuluh lagi lukisan cat minyak. Sebagian besar karyanya bersoal tentang penderitaan sebagian manusia karena kuasa dan ulah manusia lain, yang tersistem. Persoalan manusia di negeri rantau itu umumnya kemudian terasa menjadi universal, menjadi juga bagian dari persoalan manusia di negeri asalnya.


Ruang utama galeri yang sangat luas itu mendapat salah satu daya tariknya lewat sebuah seni instalasi bertajuk G-8 Pizza. Ukurannya yang besar-diameternya 400 cm-namun terlebih lagi pesannya yang menohok, telah membuat banyak pengunjung pameran berlama-lama menatapnya.


Semsar membuatnya dengan charcoal yang memberi kesan kusam di atas bahan-bahan karton bekas yang utuhnya berbentuk oktagonal, lingkaran bersegi delapan. Karya ini mengingatkan orang akan bentuk lembaran pizza, dengan potongan segitiganya. Bidang luas ini memang terbagi di dalam delapan buah segitiga, yang masing-masing berisi adegan tersendiri namun bisa saling kait dengan lainnya.


Di sana ada tokoh-tokoh utama yang berwajah mirip babi atau wajah manusia yang sudah digayakan, masing-masing menghadap pusat lingkaran. Seorang memegang remote control, ada yang sibuk dengan bor elektronik, yang lain beraksi dengan jarum suntik, mengutak-atik otak, menyiapkan hulu ledak nuklir, dan seterusnya. Seseorang yang lain memegang pinset dan dengan itu memunguti tubuh-tubuh manusia berukuran sangat mungil-adegan ini berada di dalam potongan yang direnggangkan dari lainnya, membuat keutuhan bidangnya terguncang.


Dengan karya ini tampaknya Semsar menyindir kelakuan negeri-negeri makmur anggota "G8". Negeri G8 mengontrol miliaran manusia di ratusan negeri lain yang lebih lemah, memaksakan kehendak, melakukan cuci otak dengan perangkat kerja yang supercanggih, dan seterusnya.


Ketimpangan ini mendapat penekanan oleh pilihan cerdas Semsar dengan citra pizza, jenis santapan populer, yang menggiring kesan akan pesta pora makan sebagian kecil manusia di atas penderitaan lainnya.


Semsar melengkapinya dengan 11 "obyek" lain yang diletakkan di lantai di depan G-8. Semua obyek itu juga dibuat dengan karton bekas wadah sepatu, yang konon ia pungut dari tempat sampah. Ia membentangkannya dan memperlihatkan goresan charcoal yang ia buat berupa wajah-wajah manusia, bedil, dan tubuh-tubuh. Ia mendongkraknya dengan judul-judul yang membawa pesan khusus seperti Blinded by UN, Introduction WTO Chapter Two, dan City of Ghosts.


Nada dasar serupa muncul dengan kuat dari sejumlah lukisan hitam putihnya. Sebutlah itu seperti The Death of an Ancestor, yang melawan aksi penebangan kayu secara membabi buta. Pada sebuah gelondong kayu yang sudah terpotong itu tampak bayangan seorang ibu mendekap anaknya, dan seekor rusa kutub menjilatinya. Peralatan tebang mencengkamnya dan beberapa orang tampak tertunduk lesu. Penebangan itu menghancurkan segalanya.


Dengan teknik drawing-nya yang kuat, yang terkadang menonjolkan serabut-serabut garis untuk menandai gejolak atau suasana keras tertentu, lukisan-lukisan Semsar menggugah lewat tatapan visualnya.


Sebagian dari pesannya tertangkap dengan cukup mudah seperti lukisan yang sudah disebut, serta The Case of Burn Church atau serial totemnya. Third Millenium Totem 1, misalnya, menggambarkan pergulatan manusia cerdas dengan teknologi dan kecemasan manusia. Itu muncul lewat simbol-simbol seperti otak di kepala terbuka, peralatan canggih, serta sepasang mata yang membelalak. Kita bisa menangkap drama kehidupan yang berlangsung di sebuah apartemen lewat sejumlah fragmen yang disusunnya dengan tinta di atas kertas berukuran 56 x 76 cm berjudul Theatre Apartment ini.


Banyak lukisan lainnya yang lebih memberi demonstrasi visual yang menarik, namun membutuhkan alat bantu untuk menyibaknya lebih dalam. Derita muse di dalam The Scream of a Muse hanya bisa kita raba, demikian juga seberapa berharga sebuah kediaman atau atmosfer bagi seseorang seperti Victoria in Me. Lukisan The Poet Who Dissapeared mengingatkan kita akan nasib penyair pejuang Widji Thukul, namun apakah karya ini bertolak atau dipersembahkan untuknya, tidak cukup tanda atau isyarat yang diberikan.


Demikian juga dengan lukisan-lukisan cat minyaknya. Presiden Amerika Serikat Bush yang memegang hulu ledak nuklir gampang dikenali, apalagi ia memberi judul The Man Who Knows All. Demikian juga dengan Homage to Andy Warhol yang ditujukan kepada pendekar seni pop itu, atau In Memoriam Santa Cruz yang mendesakkan ingatan akan korban-korban di dalam peristiwa berdarah di Timor Timur tersebut.


Beberapa karya cat minyaknya tampaknya memang tidak perlu berkait dengan "perjuangan kemanusiaan" itu, seperti misalnya The Waiting Soul yang muncul dengan sendu. Bahkan, The Springs Full Moon 1, atau lebih lagi The Spring Full Moon 2, menjadi alternatif dari sebagian besar lukisannya yang memang diniatkan sebagai semacam ajang penyadaran. Di dalam dua lukisan yang disebut terakhir itu, Semsar menunjukkan dirinya sebagai manusia seniman, yang punya sisi kehidupan lain.


Selamat datang Semsar. (EFIX)



Dari Buku The Shade of Northern Lights


Ia lahir di Medan. Besar di Bandung dan Jakarta, ia belajar seni lukis pertama kali di Beograd, Yugoslavia antara tahun 1965-1968. Mengenyam pendidikan seni rupa tahun 1975 di San Fransisco Art Institute, Amerika Serikat. 1977-1981 belajar seni patung di FSRD Institut Teknologi Bandung dan tahun 1983 menetap di Amsterdam. Ia pernah bermukim di empat negara, termasuk Kanada, lima tahun terakhir ini. Memang, tidak mudah menemukan dunia Semsar di masa sekarang, karena dunianya adalah dunia kemanusiaan, yang tidak terbatas pada persoalan politik atau ekonomi, kebudayaan maupun hukum.


Semsar melukis dan mengolah dunia kemanusiaan itu, mengomentari, kadang memaki, namun tidak pernah menertawakan, tidak pernah melecehkan. Kehidupan ia pandang dengan berkerut dahi, melepas canda dan tawa di kalangan teman: Randy si Pekerja Kebersihan, Mutang Urud si Aktivis Kemerdekaan Serawak, untuk menyebut beberapa yang hidup di Kanada.


Mencari tempat Semsar di dunia ini mungkin lebih sulit lagi. Ia lebih banyak meninggalkan catatan tentang pengalaman. Lukisan dan karya-karyanya pun bercerita tentang pengalaman—sendiri maupun milik orang lain—dengan tema besar kemanusiaan. Ada juga kepahitan, kegetiran, kegundahan dan kebosanan.


Dalam empat tahun terakhir di Kanada, ia tinggal di sebuah apartemen bobrok, di kawasan rawan kriminalitas. Tetangganya seorang psikopat yang mampu menghajar pacarnya hingga patah kedua belah kaki (yang berhasil diselamatkan oleh Semsar), namun di kesempatan lain menangis tersedu-sedu di pundak Semsar karena merasa memiliki kesamaan dalam keyakinan beragama. Semsar juga melihat sisi kelam kehidupan masyarakat pasca industri lainnya, seperti pasar heroin di sekitar tempat tinggalnya, dan juga rasialisme kebudayaan, justru di tempat-tempat umum yang secara hukum seharusnya meniadakan segala bentuk diskriminasi. Ia menjadikan semua peristiwa itu sebagai pengalaman.


Pengalaman tersebut diolah dalam kesendirian, dipadu dengan etika yang dijunjungnya, melahirkan pengalaman-pengalaman baru, pengalaman yang estetis, pengalaman yang dapat dikomunikasikan. Dunia Semsar yang sarat konsep dapat kita kenali melalui pengalaman estetis. Kita pun dapat ikut merasakan kepahitan dan kegetiran kehidupan bila kita mau membuka kesadaran, memberikan jalan bagi estetika.


Bila akhirnya kita merenung maka kita berhasil menangkap pesan yang ingin disampaikan Semsar. Namun bila kita akhirnya bergerak untuk berbuat demi kemanusiaan, maka kita berhasil memasuki dunia Semsar yang kelam dan sarat makna; mulai melihat kehidupan dalam warna-warna baru, warna-warna yang memberikan harapan tentunya.



Perupa Kontroversial Semsar Siahaan Tutup Usia
(Kompas, 23 Pebruari 2005)


Semsar Siahaan (53), perupa kontroversial yang kerap melancarkan protes, antara lain dengan membakar patung Irian Dalam Tarso karya dosennya di Institut Teknologi Bandung (ITB), meninggal dunia di Tabanan, Bali, Rabu dinihari.


Pria yang terlahir di Medan, Sumatera Utara, 11 Juni 1952 itu, meninggal dunia setelah pada Senin (21/2) petang lalu sempat jatuh pingsan, sehingga harus dilarikan ke RSUD Tabanan, sekitar 20 km barat Kota Denpasar.


Diperoleh keterangan, petang itu Semsar bersama beberapa tukang batu, bergiat membangun sebuah bak penampungan air di rumah dan lahan miliknya, di Dusun Kesambi, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, sekitar 15 km utara Kota Tabanan.


Sedang asyik mengawasi pelaksanaan "proyek" tersebut, alumnus ITB angkatan 1977 itu, tiba-tiba jatuh pingsan, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.


Dr Sri Karyani, Humas RSUD Tabanan mengatakan, setelah memdapat perawatan secukupnya, Semsar pada malam harinya bisa siuman, dan langsung bisa diajak berkacap-cakap mengenai keluhan penyakitnya.


Kepada perawat, pria yang juga kerap mendemo pemerintahan Presiden Soeharto itu, mengeluhkan rasa sakit di bagian dada, sesak nafas dan lemas.


Sri mengungkapkan, sejak masuk rumah sakit sekitar pukul 20.00 Wita malam itu, kondisi kesehatan Semsar sebenarnya sudah tampak mulai pulih, namun di luar dugaan pada Selasa (23/2) jelang tengah malam, daya tahan tubuhnya drop total.


Mengatasi kondisi yang kritis seperti itu, dokter yang siaga melakukan berbagai upaya, namun tak berhasil menyelamatkan nyawa Semsar, yang pada Rabu dinihari sekitar pukul 00.56 Wita menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Semasa aktif sebagai mahasiswa pada Jurusan Seni Rupa dan Disain ITB. Semsar juga dikenal sebagai "anak didik" yang bandel, tidak saja sering protes, tetapi juga berulah, sehingga harus berurusan dengan pihak kepolisian di Bandung.


Ulah mahasiswa "nyentrik" yang sempat menggegerkan dunia seni rupa itu, antara lain sempat melancarkan protes dengan membakar patung Irian Dalam Tarso, karya Prof Soenarjo, dosen pada perguruan tinggi tersebut.


Akibat aksi yang dianggap telah memusnahkan patung "keramat" yang sempat tampil dalam sejumlah pameran di mancanegara itu, Semsar sempat mendekam dalam bui.


Citara Siahaan, adik kandung korban, menyebutkan, jenazah almarhum akan diberangkatkan ke Jakarta sore ini, sekitar pukul 16.00 Wita dari Bandara Ngurah Rai. "Kita masih nunggu keluarga yang lain, yang menyusul akan tiba di Bali, baik dari Medan maupun Jakarta. Setelah itu jenazah langsung diberangkatkan," ucapnya. (Ant/Eh)



The Shade of Northern Lights
(diambil dari buku The Shade of Northern Lights)


Lima tahun tiga bulan aku meninggalkan Indonesia. Berangkat dari benua belahan Selatan, aku menetap di benua belahan Utara, berkontemplasi, katakanlah, di sebuah negeri yang bernama Kanada. Tiga puluh satu juta jiwa penduduknya, negeri itu membentang luas dari Samudra Pasifik hingga Samudra Atlantik, beratapkan Kutub Utara. Kanada negeri yang dingin, panas, penuh warna, terkadang terkesan ‘datar.’ Di sini pun ada konflik kemanusiaan, namun dibungkus dengan lembut, dingin dan halus, dalam tenunan berhias ornamen indah seperti 'multikulturalisme,' 'hak warga,' dan 'kebebasan bicara.' Inilah negara yang masuk kelompok G-8, negara industri maju, yang ternyata masih harus menghidupi sejumlah besar manusia tanpa rumah, yang dipinggirkan dan harus mengais-ngais tong sampah untuk menyambung hidup. Di sini, manusia-manusia muda hidup terkatung-katung, tanpa kasih sayang, sebagai korban keruntuhan nilai keharmonisan hubungan kekeluargaan, di dalam lingkaran setan. Mereka terbungkam, terbutakan, terjejal oleh jaminan kesejahteraan sosial yang memberikan hanya pelipur lara berupa materi. Negeri ini, seperti juga Indonesia, tumbuh dalam alam purbasangka yang menyakitkan dan akut. Seperti juga Indonesia, negeri ini masih mencari sosok dirinya. Sementara tanahnya telah ditempati masyarakat asli beribu-ribu tahun, negaranya masih harus melihat perjuangan First Nation, begitulah masyarakat aslinya lazim disebut, untuk mempertahankan identitasnya dari pemusnahan sistematis, meskipun dengan keberdayaan yang sangat kecil. Tanah itu, setidaknya bagi telingaku, melantunkan kisah-kisah tentang suramnya cahaya utara. Kanada, kebanyakan rakyatnya, mulai merasakan dampak mengerikan lindasan roda mesin neo kapitalisme berskala global yang adidaya dalam era World Trade Organization

Karya-karyaku dalam asa perantauan pun berangkat dari pengalamanku sehari-hari, ketika menelaah masalah kemanusiaan di sekitarku. Terkadang, pengalamanku menghadapkan aku pada kekerasan terhadap jiwa di dalam perantauan. Kekerasan itu mengancam secara licik, melalui diskriminasi dan konspirasi yang terbentuk oleh tabiat para intelektual neo kolonial busuk bermentalitas pencuri dan rakus. Kekejaman terencana itu menggunakan kekuasaan institusional dan uang untuk ’membunuhku’ dengan menghina dan melecehkan, melalui media teknologi informasi global, atas nama kebebasan bicara. Lima tahun aku hidup dalam keadaan tertekan, menahan amarah dan terus bersabar, dan hingga kini aku masih menghadapinya. Ternyata, hukum bukanlah dongeng yang indah.


Seperti dahulu, masih dalam pemikiran dan perenungan yang sama, aku berpegang teguh bahwa Manusia adalah sang Pencipta Seni dan Seni adalah ciptaan Manusia. Dalam kondisi kemanusiaan terancam, adalah Seniman yang harus melangkah di depan sambil mengusung nilai-nilai kemanusiaan. Masalah-masalah yang menjadi beban kemanusiaan telah mengglobal, sehingga problema kemanusiaan memiliki kemiripan di seantero benua. Terpadunya esensi permasalahan manusia, meskipun wujud dan latar belakang budayanya beraneka ragam, telah memberi tanda-tanda akan bangkitnya sebuah semangat baru Solidaritas Rakyat Global untuk Kesetaraan, Keadilan dan Persaudaraan. ’Keberhasilan’ negara-negara mega kapital dalam menciptakan panggung global bernama World Trade Organization yang membuka pasar bebas bagi penganut demokrasi kaum pedagang, ternyata justru memperdalam jurang antara si Kaya dan si Miskin. Jurang itu pun mencakup segregasi ikatan sosial yang terjadi di negara-negara G-8 sendiri.


Hal-hal seperti di atas itulah yang akan tetap menonjol dan utama. Bentuk dan isi bercampur menjadi satu kesatuan, yang berangkat dari pengalaman hidupku sebagai bagian dari masyarakat global. Semangat berkarya seniku masih selalu menjauh dan mengambil jarak dari ’ke-Indah-an’ yang manja, spoilt beauty, serta eksotisme tradisional yang menuntut belas kasihan. Keindahan yang dipenuhi tata krama yang berkarat dan basi, bagiku, tidak akan pernah menjadi tantangan bagi dunia Penghayatan dan Berpikir.


Kesenian telah memasuki era baru. Situasinya adalah cerminan cengkraman ekspansi global kapitalisme dan situasi itu memanggil kaum seniman sedunia untuk membangun ikatan kerjasama, kolaborasi antar urban, kolaborasi antar budaya lokal. Itulah kolaborasi kesenian masyarakat terpinggirkan oleh dampak globalisasi.


Maksud dan tujuan dari Seni dan Ber-Kesenian adalah mempersatukan di dalam kebersamaan, sehingga kita menyongsong Solidaritas Rakyat Global demi Kesetaraan, Keadilan dan Persaudaraan.


Semsar Siahaan


21 Juli '04
Wiji Thukul Wijaya
Oleh R. Von der Borch | Tanah Air | No 5 | Edisi Desember 1990

Tak pelak dunia sastrapun dijadikan medan yang menegangkan oleh penguasa ketika ekspresi seorang seniman mengandung kekuatan yang, katakanlah dapat menerbitkan kesewenang- wenangan sang penguasa. Sementara itu, sang seniman menapaki lingkungan sekitarnya sebagai medan acuan buah karyanya, yakni berusaha memasukkan proses produksi karyanya kedalam proses social setempat. Sebuah langkah vital untuk menghadapi tirani! Von der Borch dalam tulisan ini memberikan gambaran lingkungan Wiji Thukul sebagaimana dia menapaki perkembangan diri dan pertumbuhan puisinya.

Inilah puisi jalanan, puisi ngamen,
puisi yang tidak butuh legitimasi
dari dewan kesenian,

WTW, 7/9/87

Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak. Keluarganya katolik, dan diapun masuk SD katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar
di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada tahun 1980. Di Solo, Thukul dibesarkan di sebuah kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Berapapun tambahan penghasilan dari anak istri bias sangat penting artinya. Rentenirpun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu menggelisahkan para penghuni kampong.
Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkahnya sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah mejadi tukang Koran, tukang semir mebel di suatu perusahaan kecil di kampung, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan. Keterlibatan Thukul dalam teater dan kesenian di Sala dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul diberbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak-sajaknya pun muncul dalam Antalogi 4 Penyair Solo. Kumpulan terbaru Thukul berjudul Suara. Dia memproduksi sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya: "Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi."

Kegiatan Thukul dalam teater dan berbagai bentuk seni panggung telah melibatkannya dalam kelompok topeng pada Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), serta kelompok teater kampong bernama " Sarang Teater Jagat ". Teater Jagat dibentuk tahun 1978 oleh Cempe Wisesa Laluwarta telah aktif sampai awal 1987. Kegiatannya meliputi ngamen, pementasan di kampong yang melibatkan penduduk setempat , serta pertukaran teater antar kelompok di berbagai kampong lainnya.
Dalam 1987 Thukul terlibat dalam suatu kegiatan yang sama sekali baru baginya. Setiap minggu pagi pada awal tahun itu dia lewatkan dengan melukis bersama dua puluh anak-anak kampungnya, serta sebagai pencerita ulung. Tentang itu dia menjelaskan: "bila mereka lelah, saya bercerita ". Juli tahun itu pula dia ditawari pekerjaan sebagai penyair tamu/mondok (poet in residence ) di Cirebon serta pesisir utara Jawa Barat dengan tugas merekam kehidupan sehari-hari rakyat perkampungan nelayan di sana. Tawaran ini diterimanya dengan antusias. Selain itu ada pula tawaran lain (yang realisasinya tergantung ketersediaan dana) untuk menyelenggarakan loka-karya teater bagi anak-anak kampong di Sukabumi, Jawa Barat, bersama dua orang seniman dari Yogya.
Thukul terbilang luar biasa dalam hal latar belakang kampungnya, dan ketiadaan pendidikan formal ternyata sama sekali tidak menghalangi keterlibatanya yang luas dalam berbagai kegiatan kesenian setempat. Kepercayaan diri serta prestasi yang dicapainya selama ini antara lain berkat persahabatannya dengan Halim HD, budayawan Sala yang pertama mendorongnya untuk membacakan sajak-sajaknya di muka umum, serta terus memerus melibatkannya dalam kegiatan umum seniman Jawa Tengah. Akan tetapi tingkat keterlibatannya ini pun dipengaruhi oleh sikap pribadinya terhadap pendidikan dan pengetahuan. Kita dapat merasakan sikapnya tersebut melalui komentarnya sebagai berikut:
"Di desa tempat saya bekerja, gadis gadisnya rata-rata takut sekali kepada "anak anak sekolah". Rasa rendah diri mereka kuat sekali. Tapi di kotapun, di kampung saya juga, hal itu menjadi kondisi umum yang merata. Memang penyakit yang sedang menggerogoti dunia saat ini "kelumpuhan mentalitas". Dalam istilah Paulo Fraire mungkin kelumpuhan mentalitas itulah yang dinamakan sebagai "silence culture", kebudayaan bisu. Dan obatnya adalah penyadaran. Banyak yang terkejut maupun terhibur oleh pemakaian tradisi ngamen sebagai sarana Thukul membacakan sajak-sajaknya dimuka umum . Walaupun baginya yang penting dalam hal ini (selain sebagai sumber penghasilan yang penting) sangatlah jelas:
Aku keluar masuk kampong -ngamen baca puisi dari pintu ke pintu. Dari rumah ke rumah dari jam lima sore sampai jam sembilan malam. Sendirian.
"…panggungnya" bukan di 'pentas' tapi di halaman masyarakat umum'. (jadi lebih majemuk. Bukan cuma kaum peminat sastra seni saja!) Dari ngamen puisi itu aku mendapat input dan kritik langsung dari masyarakat. Bahkan ada yang mengajak berdialog… Dari ngamen puisi itu juga aku mendapat informasi yang tidak mungkin kudapatkan dari siaran resmi radio, Koran maupun televisi, yang kumaksudkan adalah 'protes-protes terpendam' ketidakpuasan -ketidakpuasan masyarakat bawah kepada kebijaksanaan -kebijaksanaan pemerintah' yang jarang diungkapkan tapi ada.
September 1987, Thukul mengambil langkah yang tidak pernah ia tempuh sebelumnya dengan menghadiri acara tahunan Pertemuan Penyair Indonesia di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta sama sekali tanpa maksud untuk mengambil bagian secara resmi, melainkan "Tujuan saya datang ke pertemuan itu adalah untuk 'mengacau' dan bicara: inilah puisi jalanan. Puisi namen." Untuk acara ini Thukul dan Halim HD menyiapkan selebaran berisi lima sajak dalam bahasa Indonesia (Nyanyian Abang Becak, Sajak untuk D, Peringatan dan Sajak Suara) dan satu berbahasa Jawa Geguritan Iki Mung Pengin Kandha (sajak ini hanya ingin bercerita), lengkap dengan pengantar terhadap sajak Thukul terhadap Halim. Selebaran selebaran ini yang Thukul bagi-bagikan (dalam gaya yang mengingatkan kita pada Rendra) sewaktu pembacaan, diberinya judul yang provokatip "Sastra Ngamen-Sastra Gugat". Lengkap dengan ilustrasi gambar badan terbelenggu dengan kedua tangan berusaha membebaskan diri dari rantai. Pernyataan ini mengandung dua tantangan. Pertama penggunaan istilah "Sastra Ngamen" telah memberikan pengakuan artistik pada karya Thukul serta seniman lain yang pilihan estetikanya tidak sejalan dengan ataupun tidak sesuai dengan kaidah umum yang dianut para seniman lain. Pernyataan ini secara terang terangan menggugat mereka yang berpendapat bahwa kata-kata 'sastra' dan 'ngamen' (ataupun makna yang diwakilkannya tidaklah mungkin untuk disejajarkan. Tantangan kedua -lebih tegas dan lugas, yaitu gugatan politiknya kepada masyarakat luas.
Bekerja ditingkat paling bawah selalu merupakan titik dimana teori dan praktek kreatip Thukul bertemu. Namun lebih dari sekedar pendekatan, pengalaman hidupnya sendiri bersama kaum miskin kota memang telah mewarnai seluruh karyanya, baik dalam segi estetik maupun isinya. Seluruh karyanya mengandung keaslian yang tidak dapat disangkal, serta ekspresi pribadi keprihatinan sosial yang dalam, yang semata-mata lahir dari pengalaman hidupnya sendiri.
Keprihatinan Thukul yang secara polos dia ungkapkan dalam karya-karyanya meliputi seluruh sisi kehidupan dan pengalaman mereka yan hidup di pinggiran. Ketimpangan sosial, apatisme yang diraksukan dan ketidak-tahuan yang mencekik kaum miskin dan renta, pemberangusan suara buruh yang menuntut perubahan sosial, penindasan sewenang wenang terhadap para pekerja dan aktivis sektor informal, sensor serta perpecahan akibat politik parpol merupakan persoalan-persoalan utama yang senantiasa merebut perhatiannya. Catatan 27.5.86 mengungkapkan penindasan hak hak buruh pekerja murah, telah dia tarik dari pengalaman pribadinya sebagai penjual koran. Penindasan terhadap pekerja sektor informal pedagang kaki lima, tukang becak serta pelacur yang hidupnya tidak pernah lepas dari perjuangan menghadapi arus masyarakat industri yang semakin materialistik, merupakan fokus dari puisinya seperti Sajak setumbu nasi sepanci sayur dan Nggladag Slamet Riyadi. Keganasan yang inheren dalam masyarakat industri sebagaimana dirasakan oleh anggota terlemah, merupakan tema puisinya Sajak anak-anak kita dan Kota ini milik kalian. Catatan hari ini melukiskan- melalui baris-baris pendek, kesulitan penduduk kampung serta pernyataan pribadi Thukul akan peran yang dimainkan oleh kesenian dalam situasi demikian. Sebuah perkembangan ide menarik dalam puisinya dapat dijumpai dalam Kepada Wiyono yang membahas secara meluas dan terinci ekonomi dan psikologi kehidupan kampung. Mundurnya budaya tradisional (terutama budayanya kaum miskin perkotaan serta penduduk pedesaan di Indonesia saat ini) dalam proses 'modernisasi' merupakan fokus dari Pasar malam Sriwedari.

Konsisten dengan gayanya yang khas, kajian politik Thukul terungkap dalam sajak-sajaknya melalui uraian atas berbagai hubungan dan pengalaman pribadinya. Pengertian yang abstrak mengenai ketidak-adilan struktural dan institusional telah menemukan bentuknya melalui pendapatnya tentang realitas sehari-hari. Setiap bait sajaknya spesifik, kuat berakar pada lokasi dan saat tertentu dari pengalaman setempat.
Karya Thukul tidak pernah lepas hingga menjadi puisi propaganda yang anonim. Puisinya sama sekali tidak memohon belas kasihan maupun uraian bertele-tele mengenai kaum miskin yang terhormat, dua hal yang biasanya mengurangi nilai puisi atau pun tulisan para seniman dari kelas sosial yang lebih tinggi, meskipun sebenarnya merekapun simpati pada masalah sosial serta ingin pula menyatakan solidaritasnya terhadap golongan yang mereka tulis. Pokok keprihatinan yang diungkapkan dalam karya Thukul tidak pernah anonim, serta tidak pernah berkembang menjadi 'isu'. Dia selalu memberi nama, wajah, serta perasaan terhadap kemiskinan, ketertindasan serta diskriminasi sosial, hal mana hanya mungkin dilakukan oleh orang yang menulis dari dalam saja, tanpa kecendrungan menempatkan ketidak-adilan pada situasi yang acak ataupun menganggap penderitaan manusia semata-mata sebagai akibat saja dari ketidak sempurnaan perseorangan.
Dalam suatu surat terbuka kepada Emha Ainun Najib, Juli 1986, Thukul mengungkapkan kengeriannya atas ketidak adiilan dan penindasan yang sengaja dilakukan dalam masyarakat Indonesia: Aku jadi semakin yakin bahwa budaya bisu betul betul sudah meraksuk kedalam kehidupan bermasyarakat kita ! Ini gawat. Komunikasi direduksi jadi kebuntetan. Dialog seperti sengaja dihindarkan . Aku merasa kita ini dibodohkan. Dan dibutakan! Aku kini betul betul merasa bahwa kita ini betul-betul sedang dininabobokan. Oleh siapa ? Oleh masyarakat kita sendiri dan oleh perangkat-perangkat sistem yang ada dalam masyarakat kita sendiri ! Dan itu berlangsung dengan amat mekanis sekali. Persis mesin. Begitulah yang kurasakan mas…"
Sebelum kejadian yang membuatnya menulis surat tersebut, penjelesannya dalam hal hubungan antara penguasa dan mereka yang secara formal tidak berdaya dalam masyarakat sempat tercermin dalam puisinya : Pulanglah nang dan kota ini milik kalian misalnya, yang secara spesifik membahas hal tersebut. Akan tetapi, baru pada akhir 1986 dan 1987 lah puisinya memperlihatkan perkembangan mencolok dari tema yang secara provokatip dia nyatakan dalam suratnya kepada Emha tersebut. Perkembangan ini terwujud baik dalam puisinya maupun dalam perhatiannya yang semakin meningkat terhadap puisi ngamen serta keterlibatanya yang mencolok dalam berbagai kegiatan budaya Jawa. Contoh yang paling menarik dari perkembangan ini adalah sajaknya yang berjudul Peringatan yang muncul dalam dua versi. Versi 1986 berbunyi sebagai berikut:

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat berbisik-bisik
Ketika berbicara
Penguasa harus waspada
Dan belajar mendengar

Dan bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
Bila rakyat patuh patuh
Penguasa harus mencari sebabnya
Bila omongan penguasa tak ada yang membantah
Kebenaran pasti terancam
Bila usul ditolak
Kritik dilarang
Dengan dalih menggangu keamanan
Berarti penguasa sedang ketakutan
Kekerasan pasti digunakan
Maka berhati-hatilah

(1986)

Sedangkan versi 1987-nya berbunyi sebagai berikut:
Jika rakyat pergi
Kita penguasa berpidato
Kita harus hati hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Dan bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan menggangu keamanan
Maka hanya satu kata: lawan !

Kedua versi Peringatan tersebut secara spesifik membahas hubungan antar penguasa dan yang tidak berkuasa. Versi yang terakhir, tidak hanya lebih explisit dari yang sebelumnya, melainkan juga membela suatu pendekatan yang sama sekali lain terhadap persoalan yang diuraikan. Patut dicatat bahwa sementara baris terakhir dari versi pertama berbunyi: "maka berhati-hatilah" maka pada versi berikutnya terbaca: "maka hanya ada satu kata: lawan!" Dalam versi kedua ini tersirat beberapa perubahan persepsi yang nyata terhadap hubungan-hubungan yang dibahasnya. Yang pertama berisi penerimaannya bulat-bulat terhadap sikap rakyat yang pasif: "bila ada omongan penguasa tak ada yang membantah/kebenaran pasti terancam" sedangkan yang kedua berbunyi: "dan bila omongan penguasa/tidak boleh dibantah/kebenaran terancam" Thukul menghapus eufemisme yang digunakan para penguasa sebagaimana tertulis dalam versi pertamanya "dengan dalih menggangu keamanan" serta menggantikannya dalam versi kedua dengan ungkapan yang lebih kuat: "dituduh subversi". Ini menunjukkan pendekatan yang sama sekali berbeda. Ketidak puasan serta ketidak-percayaan pada sistem politik dan sistem partai dikemukakan dalam puisinya pasca Pemilu 1987: Aku lebih suka dagelan, yang menyoroti perpecahan diantara kaum miskin sebagai akibat dari politik partai, dimana tidak satupun pilihan akan membawa perubahan bagi mereka. Akan tetapi, terlihat pula keyakinan baru pada perlawanan dan oposisi, sebagaimana ditulisnya dalam sajak Suara dan Syair kemerdekaan. Kebutuhan untuk secara giat membangkitkan kesadaran kritis kaum miskin serta melawan ketakutan dan apatisme, telah menjadi tema tetap dari sajak-sajaknya yang terakhir. Dua contoh, masing masing Untuk D dimana dia menyatakan kekecewaanya terhadap budaya banyak cakap sedikit kerja serta Sajak yang mengungkapkan keyakinan barunya akan peran yang dimainkna sebagai penyair dalam menentang budaya bisu disekitarnya.
Beberapa sajak Thukul secara spesifik menyatakan keprihatinannya terhadap hubungan antara seni dan kepedulian sosial. Apa yang berharga dari puisiku mungkin merupakan penjelajahannya yang paling intensip terhadap hubungan ini. Judulnya merupakan merupakan bait yang diulang-ulang sepanjang sajak, terselip di antara baris-baris yang melukiskan betapa dahsyatnya penindasan dan ketidak adilan yang dialami keluarga berserta para tetangga mereka. Ayolah Warsini membahas hal yang sama, akan tetapi mendekatinya dari sudut yang lain, serta dalam nada berhubungan dengan dengan kegiatan kelompok teater kampungnya, menyoroti ketidak-yakinan dan ketakutan yang harus diatasi padar anggota kelompok untuk ikut terlibat :

Warsini !Warsini !
apa kamu sudah pulang kerja Warsini
apa kamu tak letih seharian berdiri di pabrik
ini sudah malam Warsini
apa celana dan kutangmu digeledah lagi
karena majikanmu curiga kamu membawa bungkusan moto

atau apakah kamu mampir di salon lagi
berapa utangmu minggu ini
apa kamu bingung hendak membagi gaji

ayolah warsini
kawan-kawan sudah datang
kita sudah berkumpul lagi disini
kita akan latihan drama lagi
ayolah Warsini
kamu nanti biar jadi mbok bodong
si Joko biar menjadi rentenirnya

jangan malu warsini
jangan takut dikatakan kemayu
kamu tak perlu minder dengan pekerjaanmu
biar kamu Cuma buruh
dan sd saja tak tamat

ayolah Warsini
mas Yanto juga tak sekolah Warsini
iapun cuma tukan plitur
Mami juga tak sekolah
kerjanya mbordir sapu tangan di rumah
Wahyuni juga tidak sekolah
bapaknya tak kuat bayar uang pangkal sma
Partini penjahit pakaian jadi
di perusahaan milik tante Lili
kita sama sama tak sekolah Warsini

ayolah warsini
ini sudah malam Warsini
ini malam minggu warsini
kami sudah menunggu di sini

Surakarta 9/1986

Sajak ini tidak hanya memberikan gambaran mendalam dari bekerjanya kelompok teater tersebut, melainkan juga latar belakang para anggotanya, serta mengungkapkan dukungan dan kesetia-kawanan antar anggotanya. Keyakinan Thukul akan efek pembebasan dari mendorong perkembangan serta ekspresi pribadi serta kreativitas kolektip di antara rakyat miskin juga terasa dalam sajak tersebut. Keyakinan ini pulalah yang membawanya pada kegiatan bersama anak-anak sekampung seperti diuraikan sebelumnya.
Sementara pengalaman setempat merupakan titik awal dari setiap pernyataan kritik sosialnya, sajak-sajaknya memiliki kemampuan untuk melibatkan secara sangat spontan, hati dan pikiran para peminat yang dipilihnya. Hal ini telah menjadi basis dalam menentukan pilihan estetiknya. Sajaknya disusun untuk pertunjukan kampung, seringkali berbentuk deklamasi dengan kalimat-kalimat pendek serta uraian yang langsung dan persis. Sering pula sebagimana hanya Ayolah Warsini, terdapat pengulangan baris-baris yang penting dalam bentuk syair. Hal ini sengaja dia pilih, dan ternyata sangat membantuk serta memberikan kekuatan luar biasa pada sajak-sajaknya ketika dibacakan pada pertunjukan.
Gaya bahasa puisi Thukul pun merupakan segi yang berhubungan dengan kesadaran para peminatnya, bagi siapa dia menulis. Beberapa dari sajaknya yang terkenal dia tulis dalam bahasa campuran Jawa- Indonesia yang secara instrinsik menarik, sebab merupakan suatu gejala delam proses menuju suatu kebudayaan 'nasional' Indonesia. Akan tetapi, latar belakang penggunaan bahasa campuran dalam sajak-sajak Thukul lebih karena merupakan bahasa sehari-hari. Hal ini menyebabkan sajaknya lebih mudah dicerna oleh penduduk kampung, serta lebih meningkatkan kemampuannya menyampaikan pikiran serta perasaan.
Pada hakikatnya, pilihan-pilihan estetik inilah yang memberi sajak Thukul ajakan tertentu bagi para peminatnya. Pilihan itu dilakukannya berdasarkan keyakinan bahwa bentuk keindahan haruslah sesuai dengan kenyataan sosial dimana suatu karya dilahirkan. Sepanjang praktek kreatipnya Thukul senantiasa dibimbing oleh keyakinan ini, sebagaimana terungkap melalui debat 'sastra kontekstual' oleh Arief Budiman dan lain-lain, bahwa tidak ada kriteria keindahan yang universal bagi seluruh karya seni. Nilai keindahan selalu ditentukan oleh pengalaman sosial yang bersangkutan.
Pilihan estetik yang demikian, pada hakikatnya merupakan pilihan politik yang dapat menggemakan sikap politik para seniman pelakunya. Pada dasarnya ini pulalah sebabnya Thukul berkali-kali harus berhadapan dengan polisi setempat serta penguasa daerah. Pak Lurah telah melarang membaca puisi dikampungnya sendiri. Salah satu kejadian ini telah dia singgung dalam surat terbukanya kepada Emha Ainun Najib:
Aku jadi ingat ketika diinterogasi di kantor polisi oleh intel bersepatu. Aku diinterogasi oleh pak intel gara-gara puisi yang kubacakan di panggung 17 Agustus di kampungku. Pak intel menyarankan kepadaku supaya aku tidak bikin puisi yang 'tidak-tidak'. Kalau ada apa-apa kasihan orang tuamu, katanya lagi dengan lebih meyakinkan. "mbok kalau bikin puisi itu yang baik-baik saja mas…"
Thukul menyebut sebagian dari sajak-sajaknya sebagai 'hits' karena selalu disambut hangat oleh para penggemarnya ketika dibacakan keras-keras. Dua diantaranya adalah Darman, yang bercerita pengalaman pahit suatu keluarga desa yang mengadu nasib di kota , dan abang becak yang membahas kehidupan keluarganya sendiri serta berbagai pengaruh kebijakan pemerintah dan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok pada perekonomian mereka. Deskripsinya tentang sajak-sajak tersebut sebagai 'hits' menunjukan bagaimana cara Thukul sendiri mengukur 'keberhasilan' artistik. Lebih dari itu, hal ini telah semakin memperkuat niatnya untuk bekerja dengan gaya tertentu diantara rakyat miskin dan awam, diluar jangkauan pranata resmi kebudayaan.

Kembalilah Widji Thukul
“Thukul, pulanglah!” seru Forum Sastra Surakarta, pertengahan tahun 2000. Tidak hanya di Solo, oleh para aktivis hak asasi dan sastrawan diteriakan juga seruan itu di Surabaya, Mojokerto, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta. Seruan itu meluas ke pelbagai kota lain. Toh sampai kini Thukul tak pulang-pulang jua. Di manakah Thukul? Ada yang bilang, ia bersembunyi di Jerman, mungkin juga di Belanda atau di Australia. Ada juga yang bilang, ia di sekap di kepulauan seribu.

Kalau manusia yang menyekapnya,mendingan. Sekurang-kurangnya manusia masih mempunyai hati nurani,betapa pun kejamnya dia. Tapi kalau ”momok hiyong” yang menahannya aduh, tak tahu lagi bagaimana nasibnya.Sebab, kata Widji Thukul sendiri,momok hiyong itu bukan main ganasnya. Maklum, momok hiyong bukan hanya sejenis hantu Jawa, yang ditakuti anak-anak tapi juga biang kerok jago bikin kisruh,akalnya bulus, siasatnya ular, kejamnya sebanding nero, sefasis Hitler, sefeodal raja ketropak. Momok hiyong itu doyan emas doyan hutan, doyan kursi doyan nyawa.

momok hiyong momok hiyong
berapa ember lagi
darah yang akan kau minum ?

(Momok Hiyong, 30 September 1996)

Jangan-jangan momok hiyong itu sudah mendoyani nyawa Widji Thukul sendiri. Jangan-jangan momok hiyong itu sudah meminum darah Widji Thukul. Kalau demikian, tak mungkin lagi Wiji thukul pulang. Dan kalau momok hiyong yang menelan nyawanya dan menghisapnya, susahlah kita mengurus kepergiannya. Percumalah upaya Kontras, percuma susah payah LSM, sia-sia jeritan rekan sastrawan. Momok hiyong itu tak mungkin di paksa mengaku, karena tak mungkin ia di temukan. Maklum ia hantu, roh jahat yang tak kasat mata, walau perbuatannya kelewat jahat. Jadi momok hiyong itu tak dapat di tangkap. Yang bisa dilihat dan ditangkap hanyalah kuasanya yang jahat. Untuk memahami kuasanya yang jahat itu. Sedikitnya sekarang anda sudah tahu, wujud nyata momok hiyong itu adalah kekuasaan yang menganggap manusia seperti tikus (Puisi Tikus, 6 Januari 1997 ): bisa dilindas,bisa diburai perutnya,dan dibuat berhamburan dagingnya. Jadi sebenarnya mudah juga mengalami momok hiyong itu. Rasakan ketika anda melihat orang-orang kecil dilindas habis seperti tikus dilindas kendaraanyang sedang lewat.
Tapi pada pokoknya momok hiyong itu roh, maka ia tak hidup terus. Kata wiji Thukul:
Momok hiyong momok hiyong
apakah ia abadi
dan tak bisa mati?
Karena roh itu abadi,dan sebagai roh ia jahat, maka kejahatannya juga meng-roh, dan mengabadi sampai kini. Sesungguhnya keabadian itu adalah rangkaian dari masa lalu/masa kini, dan masa depan. Tapi momok hiyong suka memutus rangkaian,dan membuat kesinambungan baru seenaknya sendiri. Kalau masa lalu menguntungkan, ya diambil untuk membenarkan kejayaannya di masa kini. Kalau masa lalu suram, ya tidak di pedulikannya sama sekali :

.....
begitu panjang riwayat bangsa tetapi hati ini kita baru pandai memuja
masa lalu, mengelus-elus borobudur mendewakan nilai semu
.....
( Biarkanlah Jiwamu Berlibur Hei Penyair, Mei 1985 )

Momok hiyong hanya mau apa yang megah mulia dari masa lalu. Ia lupa akan penderitaan masa lalu. Lupa, bahwa sungai pernah merah oleh darah kakek nenek kita, lupa akan bangkai kakek nenek yang mengapung di atasnya, mati ditembus peluru dalam perlawanan membela harta dan milik yang sekarang ini kita warisi:

.....
demi hutan air
ibu bumi kami
gagah berani
kakek nenek kami
menyerahkan riwayatnya
pada batang –batang pohon
sebesar seratus dekapan
pada sampan-sampan lincah
dari hulu ke hilir
memburu dada penjajah
bukan siapa-siapa
kakek nenek kamilah
yang merebut tanah air
tanyakan kepada yang mampu membaca
tanyakan kepada yang tak berpura-pura siapa.....

Sejarah ini tampaknya hanya mau ingat akan mereka yang agung
Dan besar, penguasa, raja dan pujangga. Sejarah hanyalah monumen yang mengingatkan akan kebesaran mereka .Sementara rakyat yang sesungguhnya adalah tulang punggung segala monumen peringatan kemegahan mereka, dilupakan begitu saja;
.....
dizaman kerja paksa rakyat membikin anyer panarukan
dengan air mata bangkainya
di zaman romusha jepang menanam kapas dengan
tangan rakyat kita
dalan dua perang dunia tak tahu apa-apa
pada upacara kemerdekaan bangsa kita selalu kita sebut
nama-nama agung
tetapi sejarahtahu berapa juta ember darah siapa
ditenggak sudah hidup hari ini
.....

(Catatan, tanpa tahun)

Mengapa sejarah hanya ingatan yang mudah lupa akan penderitaan rakyat biasa ? Ya, karena roh dari sejarah itu adalah momok hiyong, hantu yang membenci rakyat kecil dan menganggap rakyat keci seperti tikus yang begitu saja bisa dilindas. Momok hiyong inilah yang membuat sejarah menjadi “ sejarah melik nggendhong dali”. Roh momok hiyong yang penghisap darah rakyat tapi tak pernah kelihatan itu menjelma pada diri para penguasa, dan membuat mereka melik lalu lali. Karena kegendongan melik dan lali itulah dengan mudah mereka memutar sejarah, seakan-akan sejarah ini hanyalah diciptakan untuk memuja keagungan mereka. Maka sejarah ciptaan mereka yang dirasuki momok hiyong ini menjadi sejarah pelupaan yang lali (lupa) akan mereka-mereka yang kecil dan menderita. Salah satu korban kelupaan mereka adalah penyair Wiji Thukul sendiri. Dengan syair-syairnya,Wiji Thukul membela rakyat melawan momok hiyong. Ia mensyairkan penderitaan rakyat menjadi nyanyian, yang tidak enak didengar di kuping momok hiyong :

aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk untuk penguasa

puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan

mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk-tusuk sepi
ia tak mati-mati

telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka
aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa

(Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa, 18 Juni 1997)

Nyanyian penderitaan itu tersa dan terdengar bagaikan dupa mantra yang terus mengusik dan mengusir roh jahat tersebut. Momok hiyong tentu tidak suka akan nyanyian itu dan penciptanya sekaligus. Karena ia adalah roh yang tidak kelihatan, maka dengan cara roh yang tak terlihat pula, tiba-tiba ia meniadakan Wiji Thukul. Wiji Thukul tiba-tiba menghilang, seperti anak kecil yang digondol wewe disiang bolong. Anak, istri, keluarga, dan teman-temannya mencari dan bertanya kesan kemari, ke mana Thukul? Tak ada yang dapat memberi tahu, ke mana ia pergi atau di mana ia berada. Hilangnya Wiji Thukul begitu misterius, dan kemisteriusan itu hanyalah bisa diterangkan jika kita percaya bahwa dalam sejarah kita ini memang ada momok hiyong, hantu jahat tak kelihatan,yang bisa memakan darah rakyat, dan sekarang korbannya adalah pejuang rakyat bernama Wiji Thkul. Karena momok hiyong adalah roh jahat yang tak kelihatan, maka ia juga membuat kabur tak kasat mata dan memisteriuskan semua peristiwa yang berkaitan dengan hilangnya Wiji Thukul.

Pelawan Kelupaan
Momok hiyong berusaha menutupi segala kejahatannya dengan upaya agar kita melupakan Wiji Thukul. Tapi siapa mau mengalah pada upayanya yang ingin membuat kita lupa? Sekarang ini masih banyak yangsadar, dan mau ingat akan Wiji Thukul. Betapa susah melawan kemisteriusan dan kelicikan momok hiyong, manusia-manusia ini tak berputus asa dalam mencari kepastian, ke mana dan di mana sebenarnya, Wiji Thukul. Momok hiyong adalah pecinta kematian, sementara manusia-manusia itu adalah orang-orang yang mencintai kehidupan. Kematian harus dilawan dengan kehidupan. Maka mereka tidak mau di bohongi dengan tipuan momok hiyong seakan Wiji Thukul telah mati. Mereka tetap percaya bahwa Wiji Thukul hidup. Karena itu mereka tetap menanti dan mengurus kedatangannya kembali.
Perjuangan mereka ini seakan sia-sia, namun sekurang-kurangnya mereka inilah kelompok manusia yang mau melawan lupa atau kelupaan, dan membuat sejarah ini tidak menjadi lupa.
Orang pertama yang melawan momok hiyong, biang kerok pelupaan itu, adalah Si Pon, istri Wiji Thukul sendiri. Si Pon punya pas fotoThukul. Kata SiPon, menunggu itu menyakitkan. Kalau ia lagi rindu suaminya, ia pandangi foto itu, dan ia merasa terhiburkan. Lalu ia minta seorang pelukis untuk melukiskan foto Thukul di atas kanvas. Untuk itu ia membayar Rp 110.000. “ Saya lukiskan foto suami saya, karena saya yakin, suami saya masih ada,” kata Sipon. Si Pon sering memandangi foto itu, dan ia merasa Wiji Thukul masih hidup, karena ia masih mengharap kedatangannya. Seperti Si Pon, kedua anaknya, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah, juga tak berputus asa mengharap kedatangan bapaknya. Tiap kali Si Pon diundang Kontras ke Jakarta untuk bersama-sama menanyakan dan mengusut kasus orang hilang di negri ini, kedua anaknya itu selalu berharap, bahwa ia akan membawa pulang bapaknya yang hilang. “Ibu boleh pergi. Tapi jangan lupa pulangnya, ibu harus membawa bapak,” pesan mereka. “Di Jakarta saya menginap di hotel lumayan megah, di dekat kantor Kontras. Malam hari saya malah tidak dapat tidur, padahal saya tidur di kasur yang enak. Soalnya,saya teringat anak –anak yang tidur dirumah kami yang jelek dan miskin, “tutur Si pon. Sudah berkali-kali Sipon pergi ke Solo ke Jakarta membawa pulang harapan anak-anaknya, toh ia tidak menemukan Wiji Thukul. Di rumah, Si Pon masih mempunyai rekaman suara Wiji Thukul, ketika ia ngamen membacakan puisi-puisinya. Kedua anaknya, Wani dan Fajar, sering menyetel kaset itu pada tape recorder mereka yang sudah butut.
“Kalau merasa lupa akan suara bapaknya, Wani lalu mendengarkan kembali suara bapaknya di dalam kaset itu, “ tutur Si Pon. Si Pon tidak pernah berpikir, kaset itu akan rusak, jika diputar terus menerus . Padahal hanya kaset itu satu-satunyayang ia punya, di mana ia dan anak-anaknya dapat mendengarkan suara Wiji Thukul.Adik Wani, Fajar Merah juga suka mendengarkan kaset itu. Hanya siang itu, ketika Si pon memutar kaset tersebut di depan tamunya, Fajar menangis dan marah-marah, minta supaya kaset itu tidak disetel. “Mungkin ia jengkel dan marah. Sudah sering orang datang kesini, entah wartawan entah seniman entah rekan LSM,dan ia mengharap orang-orang itu bisa membantu membawa pulang bapaknya. Tapi sampai sekarang tak seorang pun dapat membawa bapaknya pulang. Ia jadi bosan dan marah, karena itu melarang orang mendengarkan suara bapaknya,” kata Si Pon.

Bu atmo (68 tahun), ibu Si Pon, yang tinggal di rumah yang sama, bercerita, sering wani maupun fajar bertanya, ”Ora Ngana, jane bapak ki ning endi to, mbah (sebenarnya, bapak ini ke man to, nek). Belum lama ini, seminggu lamanya, menjelang tidur wani selalu menangis, dan bertanya, di mana bapaknya. Bu Atmo jadi sedih, lalu bertanya, “Napa tasih napa mboten to mas, Thukul niku ? (Apakah Thukul itu masih ada atau sudah tidak ada ya Mas?).” Bu Atmo teguh berharap, Thukul menantunya itu, masih hidup dan akan kembali. Ia pernah bermimpi, suatu saat Thukul pulang, memluk si pon, lalu bermain dan bergurau dengan Fajar. Mimpi ini menggembirakan, tapi bagi Bu Atmo, justru menyedihkan. “Mergi, miturut tiyang sepuh, ten npimpekaken tiyang wangsul niku malah tiyange mati (sebab, menurut orang-orang tua, jika kita mengimpikan seseorang yang sedang kembali pulang, orang itu malah mati), ”katanya. Si Pon juga pernah bermimpui buruk. Ia seperti melihat film kekerasan gaya Amerika di televisi. Ada gua tertutup, ke gua tersebut tampak sebuah jembatan mengerikan. Dan dari jembatan itu Si Pon melihat, Thukul disekap dalam gua, lalu di siksa. Ia juga pernah bermimpi , Thukul terbelenggu dalam ruang yang sangat gelap. Si Pon ngeri melihat hal itu. Namun ia malah menafsirkan mimpi itu secara kebalikan nya. Justru karena dalam mimpi Thukul di sekap dan terbelenggu, maka dalam kenyataan ia bebas. “Dengan keyakinan seperti itu, saya menjadi lega, dan yakin Thukul masih hidup dan tidak terjadi peristiwa apa-apa padanya,” tutur Si Pon.

Thukul akan kembali
Si Pon berkontak dengan Thukul terakhir kali pada awal Februari 1998. Itu pun hanya per telpon. Katanya, waktu itu Thukul berada di sekitar stasiun Tugu, Yogyakarta. Sebelumnya, pada hari-hari menjelang natal 1997, Thukul sempat menghubungi Si Pon, juga hanya per telpon. Waktu itu THukul berpesan pada Si Pon,”Sudah setahun aku tidak ketemu anak-anakku. Aku percaya kamu akan selalu menjaga anak-anak kita. ”Si Pon tidak peduli, bahwa bisa saja setelah awal 1997 terjadi apa-apa dengan Thukul. Mungkin ia sudah dihabisi momok hiyong? Bagi Si Pon, pokoknya pesan Thukul terakhir itu adalah janji, bahwa Thukul akan segera kembali. Memang pesan terakhir dari Stasiun Tugu itu seakan sebuah janji kehidupan, bahwa betapa pun Thukul harus hidup dengan penuh kesulitan, tantangan dan siksaan, suatu saat nanti ia toh akan kembali pulang ke pelukan Si Pon lagi, seperti yang pernah di nayanyikannya dalam puisinya ini:

gerimis menderas tengah malam ini
dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-dendi
dalam sunyi hati menggigit lagi
ingat
saat pergi
dan pipi kananmu
kucium
tak sempat mencium anak-anak
khawatir
membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)
bertanya apa mereka saat terjaga
akau tak ada (seminggu sudah itu
sebulan sesudah itu
dan ternyata lebih panjang dari dari yang kalian harapkan)
dada mengepal perasaan
waktu itu
cuma terbisik beberapa patah kata
di depan pintu
kaulepas aku
meski matamu tak terima
karena waktu sempit
aku harus gesit

genap ½ tahun aku pergi
aku masih bisa merasakan
bergegasnya pukulan jantung
dan langkahku
karena penguasa fasis
yang gelap mata

aku pasti pulang
mungkin tengah malam ini
mungkin subuh hari
pasti
dan mungkin
tapi jangan
kau tunggu

aku pasti pulang dan pasti pergi lagi
karena hak telah dikoyak-koyak
tidak di kampus
tidak di pabrik
tidak di pengadilan
bahkan rumah pun mereka masuki
muka kita sudah diinjak

kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
katakan ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi di paksa menjadi penjahat
oleh penguasa
yang sewenang-wenang
kalau mereka bertanya
“apa yang kau cari?”
jawab dan katakan
dia pergi untuk merampok
haknya yang dirampas dan dicuri

(catatan, 15 Januari 1997)

Suaminya pasti pulang, entah malam, entah subuh hari. Itulah yang membuat si Pon berhati pasti, tiada sia-sialah saat menanti. Itu pula yang membuat Si Pon tak mau terkena bujukan momok hiyong yang mau melupakan dan menghapus jejak hilangnya suaminya. Tapi Si Pon tahu, menanti tidaklah berarti menunggu beroangku tangan berongkang kaki bersedih hati. Menunggu berarti membrontak, dan melawan. Di sinilah Si Pon sadar, ia kawin bukan dengan seorang suami yang bakal membahagiakandan membuatnya aman sentosa. Suaminya hanyalah orang miskin, dan sahabat-sahabatnya hanyalah kaum miskin pula. Si Pon bisa merasakan kata-kata itu, karena ia juga buruh seperti teman-teman suaminya itu. Jadi ia tidak asing dengan kemiskinan itu. Namun lebih dari itu, ia juga sadar, bahwa ia telah kawin dengan seorang suami yang suka mencipta kata-kata, yang bisa menjadi musuh momok hiyong. Bahkan Si Pon sadar, bahwa suaminya adalah pelawan, dan penjara pun tak mampu mendidiknya menjadi patuh “. Tentang hal itu sebenarnya, Atmo Juari, ayahnya sudah mengingatkannya. Atmo Juari yang kini telah almarhum Adalah bekas tentara pejuang. Karena itu ia bisa membayangkan nasib menantunya, Wiji Thukul yang pelawan itu. Ketika situasi masih aman, si Pon sudah diingatkan ayahnya, Atmo Juari, “Kawin karo Thukul, kowe kudu wis siap kelangan (jika kamu kawin dengan Thukul, kamu sudah harus siap kehilangan, dia).” Begitu ibunya, Bu Atmo, mengulang peringatan itu. Kepada Thukul, Atmo Juari pernah juga bercerita, karena rindu istri ia menyempatkan pulang dari perjuangan. Gara-gara kerinduannya ia ditangkap musuh. Maka nasihatnya pada Thukul, “Tekadmu harus tegas,jangan sampai lemah hati, tergoda menengok istri ketika sedang berjuang. “Thukul sangat menyayangi Atmo Juari seperti ayahnya sendiri. Suatu hari ia membawa uang untuk menanbah modal ayah menantu yang tukang rombeng itu. Tapi waktu itu Atmo Juari sedang sakit. Tutur Bu Atmo, “arta mandhap, pake mati. Kenging ngragati leh mati (uang turun, bapak mati. Uang itu dapat membiayai kematiannya)”.
Nasihat ayahnya tersebut selalu terngiang-ngiang ditelinga Si Pon. Karenanya ia tidak mau menyerah. Pernah ia diintrogasi di Komando Resor Militer Jebres. Ia ditanya tentang Thukul dan segala aktivitasnya, lebih sehubungan dengan demonstrasi buruh. Si Pon menjawab “saya tidak tahu”. Petugas-petugas keamanan bergantian memaksa dia menjawab seperti yang mereka inginkan. Si Pon tetap kukuh pada jawabannya. Mungkin jengkel, seorang petugas memukul Si Pon dengan kenop. Pemeriksaan terus berjalan hampir empat jam. Waktu itu Si Pon membawa Fajar yang masih balita dalam gendongannya. Karena ia sudah tidak tahan, ia menggigit punggung Fajar sampai ia kesakitan dan menangis sejadi-jadinya. Dengan cara ini, ia diperkenankan pulang dan terbebas dari intrograsi yang melelahkan.
Betapa pun tegar hatinya, Si Pon pernah luluh dan sedih, apalagi bila merasakan kerinduan kedua anaknya akan bapaknya. Pernah adik Wiji, Wahyu namanya, datang dari Jakarta, dan menginap semalam dirumahnya. Dan Wahyu membelikan mainan untuk Fajar Merah. Fajar senang sekali dan bilang pada wahyu, “Aja mulih, lek, kowe nggo ganti bapak wae (jangan pulang, paman, kamu ganti bapak saja).” Hati saya hancur mendengar rengekan itu. Saya merasa, betapa anak saya benar-benar merindukan bapaknya,” kata si Pon .
Si Pon juga sedih melihat anaknya harus disingkiri hanya karena mereka adalah anak wiji Thukul, yang dianggap penjahat negaraitu. Ia melihat, wani suka menulis-nulis.Kalau ia tidak bisa tidur, ia pasti bangun lalu menulis. Pernah si Pon mencuri-curi membaca rilisan Wani. Dalam salah satu tulisannya Wani mengeluh kurang lebih begini : Apa toh politik itu ? Saya tidak mengerti politik, tapi saya kira politik itu kejam, dan orang tua itu sungguh egois, saya punya sahabat, bapaknya Golkar. Bapak itu melarang anaknya bermain dengan saya. Kalau kesini, anak itu harus mencuri-curi. “Saya juga sering melihat wani tiba-tiba menangis. Saya meraba-raba, mungkinkah ia salah paham dengan saya ? Saya tidak tahu. Mungkin ia teringat bapaknya, dan sedih akan nasibnya,” kata Si Pon. Tangis Wani di waktu malam itu mengingatkan Si Pon akan Thukul. Pernah Thukul tiba-tiba menangis. Ternyata Thukul sedang menulis sajak tentang penderitaan penduduk Cimacan yang di rampas tanahnya dan hanya mendapat ganti Rp 30 (tiga puluh rupiah!) per meter:

bulan malam membuka mataku
merambati wuwungan rumah-rumah bambu
yang rendah dan yang miring
di muka parit yang suka banjir
membayanglah masa depan
rumah-rumah bambu
yang rendah dan yang miring
lentera minyak gemetar merabamu
penggembara oh penggembara yang nyenyak
bulan malam menggigit batinku
mulutnya lembut seperti pendeta tua
menggulurkan lontaran nasibmu
o tanah-tanah yang segera rata
berubahlah menjadi pabrik-pabriknya
kita pun kembali bergerak seperti jamur
liar di pinggir-pinggir kali
menjarah tanah-tanah kosong
mencari tanah pemukiman disini
beranak cucu melahirkan anak suku-suku terasing
yang akrab derngan peluh dan matahari
di tanah negri ini milikmu cuma tanah air

(Di Tanah Negeri ini Milikmu Cuma Tanah Air, tanpa tahun)

Si Pon tidak bisa melarangt jika anak-anaknya tidak suka bahkan membenci tentara atau polisi. Maklum, anaknya merasa, merekalah yang menculik bapaknya. Dan keuda anak itu merasakan sendiri kekasaran aparat keamanan ketika menggeledah rumah mencari Thukul. Yhukul adalah pengasuh Sanggar Suka Banjir, tempat anak-anak miskin melukis. Waktu itu lukisan-lukisan anak pun disita, termasuk lukisan yang ditulisi nama Wani, karena Wani adalah pelukisnya. Membaca nama wani, seorang petugas membentak keras, “Apa-apaan ini? masih kecil sudah diajari berani melawan negara.” Wani memang berarti berani. Tapi tak ada kaitan lukisan itu dengan keberanian melawan negara. Wani hanyalah sebuah nama saja. Dan anak beranama Wani itu melihat sendiri, betapa konyol kelakuan aparat keamanan itu dan betapa cupet pikirannya. Hal itu dikenangnya sebagai kenangan pahit sampai kini.
Seperti Wani, Fajar juga tidak suka dan nyaris membenci polisi. Pernah Si Pon mengajak kejalan Slamet Riyadi, dan melihat kebetulan polisi sedang latihan. “Untuk apa polisi latihan menembak?” tanya Fajar. Dan sebelum Si Pon menjawab, anak itu sudah menjawab sendiri, “Ternyata untuk menembaki mahasiswa, ya bu?” Maklum, menjelang Reformasi, Fajar sering melihat televisi, di mana polisi mengacung-acungkan senapannya ke arah mahasiswa yang berdemonstrasi. Pernah juga Si Pon dan fajar pergi ke pasar Gedhe, dan ketemu seorang lelaki Lelaki itu ternyata adalah polisi, yang pernah dilihat Fajar. Fajar membaca nama yang tertera di dada baju seragam polisi itu. Diam-diam Fajar menghapalkan nama itu.
Ketika ketemu kembali di pasar Gedhe, Fajat melihat polisi tersebut tidak pakai seragam. Toh Fajar masih mengingatnya dan bilang pada ibunya, “Ternyata dia lebih tampan dan bagus kalau tidak memakai seragam polisi, ya bu,” Anak kecil itu tidak tahu apa-apa tentang kekerasan dan politik. Ia hanya tahu, ia membutuhkan bapaknya,dan bapak yang dibutuhkan itu ternyata di ambi polisi, dan sampai sekarang belum dikembalikan. Pantas kalau ia jadi benci polisi, sampai seragamnya pun ia tidak suka lagi. “Lare niki nek kaleh polisi pancen benci (Terhadap polisi anak ini memang benci),” kata Bu Atmo tentang cucunya. Betapa kesewenang-wenangan telah menanamkan rasa benci pada anak yang belum waktunya tahu tentang benci-membenci. Ada juga kebiasaan aneh dan lucu pada Fajar, sejak bapaknya diculik. Tiap kali anak itubertemu dengan aparat yang berpakaian loreng, ia selalu berusaha mendekatinya, lalu melipat tangannya, dan mengucap kata-kata, “Jambore-jambore, bar (Jambore-jambore, selesai).” “Kowe ike ngomong apa to, le ? (kamu ini bicara apa, nak),” begitu tanya Si Pon mau pun Bu Atmo tiap kali mendengar Fajar bergumam saat ia melihat orang berpakaian loreng. Memang ibu dan neneknya sampai sekarang pun tak mengerti, apa maksud kata-kata itu, dan Fajar pun tak mau menerangkannya. Anak ini seperti punya mantra sendiri menghadapi mereka yang berpakaian tentara. Mantra singkat itu mungkin menyimpan sikap yang dipunyai ayahnya:
.....
kamu memang punya tank
tapi salah besar kamu
kalau karena itu
aku lantas manut
andai benar
ada kehidupan lagi nanti
setelah kehidupan ini
maka akan kuceritakan kepada semua makhluk
bahwa sepanjang umurmu dulu
telah kuletakkan rasa takut itu ditumitku
dan kuhabiskan hidupku
untuk menentangmu
hei penguasa zalim

(Puisi sikap, 24 Januari 1997)

jambore-jambore, bar
tankmu, bedilmu, seragammu
kau kira aku takut padamu,
hei momok hiyong !

Siapa tahu, mungkin mantra itulah yang terkandung dalam ucapan Fajar, setiap kali ia takut berhadapan dengan orang yang berpakaian loreng, yang baginya adalah momok hiyong?

Pengharapan yang teguh
Momok hiyong itu tak kelihatan. Salah jika kita hendak menangkapnya dengan cara-cara yang tak kelihatan pula. Nanti kita makin tertelan dalam ketak terlihatannya. Momok hiyong itu pecinta kematian. Salah jika kita menyerahkan kehidupa padanya. Kita justru harus melawan cintanya akan kematian dengan cinta kita akan kehidupan. Itulah yang dibuat Si Pon. Kendati ia di beri tahu, percuma segala upayanya menanti suaminya kembali, ia tetap menanti dengan tabah. Kendati ia pernah ragu, jangan-jangan suaminya telah tiada, ia yakinkan dirinya bahwa suaminya masih ada, dan suatu saat nanti akan kembali.
Hanya ada satu kata; LAWAN ! itulah pesan suaminya, Wiji Thukul, bagi siapa saja yang jadi korban kekejaman momok hiyong. Dan Si Pon mempraktekan semboyan itu dalam hidupnya.
Karena ia mau tetap bertahan hidup, tak mau menyerah, kendati ia perempuan yang miskin, lemah, dan tak berdaya. Dan sikap ini ditunjukannya dengan kerja keras. Pagi malam ia menjahit. Tempat ia menjahit bernama “Nganti Fashion”. Nama yang mengambil nama anaknya perempuan ini adalah tinggalan suaminya, Wiji Thukul. Di tempat itu, Si Pon menerima jahitan, tapi juga menjual hasil jahitan. Satu celana hasil jahitannya. Berharga Rp. 8.000, dipasar ia menjualnya Rp 9.000. lumayan jika ada yang menjahitkan padanya, ia mendapat uang tambahan. Si Pon seorang penjahit. Maka sesungguhnya ia bisa menjahit sendiri bajunya. Namun sampai sekarang ia tetap mengharapkan baju yang dijanjikan Wiji Thukul. Katanya, baju itu akan segera datang, tapi sampai sekarang mengapa belum juga ia menerimanya.
“sampai sekarang baju itu belum saya terima. Mungkin baju itu masih dibawa Thukul, ”kata si Pon. Si pon tidak mau menyerah. Ia tetap mengharap, nanti suatu saat Thukul pulang, dan membawa baju loak sobek pundaknya, yang dijanjikannya. Sekuat itu harapan Si pon. Dan dengan harapan itulah Si Pon diam-diam mengajari kita untuk tidak mau mengalah pada momok hiyong. Dengan harapan yang diwujudkan secara nyata dalam hidup sehari-hari itulah Si Pon mengajak kita untuk melawan momok hiyong yang sewenang-wenang dengan kuasanya, yang ternyata memakan korban orang-orang tak bersalah, seperti SiPon sendiri dan kedua anaknya. Dengan harapan itu Si Pon mengajak kita untuk berjuang melawan momok hiyong yang suka menutupi dan melupakan kejahatannya, yang telah menghilangkan orang tanpa jejak apa pun. Dalam harapan Si Pon itulah tampak suatu perjuangan melawan momok hiyong, roh melik nggendhong lali yang telah menyejarah secara nyata dalam riwayat negara ini.

Puisi Thukul Bukan Sekadar Modal Dengkul
Oleh Alex R. Nainggolan

Penerbitan ulang kumpulan puisi Wiji Thukul Aku Ingin Jadi Peluru oleh Indonesiatera, barangkali sedikit unik. Di tengah riuh reformasi, di mana keran kebebasan ekspresi seni yang terbuka lebar, puisi-puisi Thukul, yang acapkali bernada protes itu, mungkin terkesan biasa, bahkan tak ada artinya sama sekali. Kita pun sama-sama tahu, jauh sebelum Thukul menulis sejumlah puisi yang bernada kecaman, W.S. Rendra, di paruh dekade 70-an sudah menuliskan dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, atau Emha Ainun Nadjib dengan Sesobek Catatan Buat Indonesia. Kegeraman para penyair itu, merupakan saksi abadi, yang membungkus segala ketimpangan sekaligus protes terhadap kondisi sosial-ekonomi di tengah masyarakat.
Kegeraman semacam itu, dengan mencoba untuk memotret gap-gap di sekeliling, terangkum pula dengan pelbagai tema, baik itu kaya-miskin, baik-jahat, kediktatoran, kesewenangan kekuasaan. Memang pijakan awal dari semua denyut aura kalimat yang tumbuh berpusat pada kekuasaan (power) di mana segala keinginan untuk tetap mempertahankan kursi, yang ternyata tak selamanya mulus. Seandainya para penguasa mendengarkan suara-suara bawah, tentu ia akan memperbaiki, dengan mempertimbangkan dan melakukan koreksi dari dalam. Tapi ternyata para penguasa cenderung amnesia untuk sekadar menghiraukan suara-suara ”sumbang” tersebut.
Kegeraman yang ditulis para penyair, semacam Thukul, Emha, dan Rendra, yang ternyata memilih untuk bertindak sebagai penyaksi. Penyair, bagaimanapun seseorang yang menciptakan dunianya sendiri, dunia dari karya-karyanya. Tetapi ia pun bertindak dalam posisi yang tak pernah mungkin untuk lepas dari realitas. Sajak-sajak yang bernuansa protes sosial, terkadang cenderung mengeluarkan penyair dari dunianya. Meskipun demikian, sajak-sajak protes juga tak tinggal diam, bukan sekadar menjelma jadi pamflet yang gelap, sebagaimana iklan di televisi akhir-akhir ini. Katakanlah sajak-sajak serupa itu ditulis di periode saat ini, ketika euforia kebebasan menggema merupakan susunan bunyi yang ganjil, tentu akan diacuhkan begitu saja. Akan tetapi penyair-penyair sebelumnya, yang bertindak sebagai ”penyaksi” yang berhadapan dengan cermin realitas yang bobrok, melakukan jauh sebelum keran demokrasi negeri ini terbuka bebas. Dan, Thukul adalah salah seorangnya. Sajak-sajak yang terangkum dalam Aku Ingin Jadi Peluru terkesan sederhana, diksi-diksi yang dipakai sangat biasa, bahkan lumrah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Namun yang tergambar di sana ialah sebuah kesederhanaan yang memancar. Lewat kata-kata yang umumnya kita jumpai sehari-hari, Thukul seperti mencoba untuk menarik sebuah busur yang baru, dengan memosisikan dirinya sebagai yang terlibat di dalam (insider). Puisi-puisi yang ditulisnya menampakkan wajah protes yang meluap, pertanyaan-pertanyaan satire—yang menuju sebuah muara bagaimanapun dalam peristiwa politik, kehidupan bernegara melulu rakyat kecil yang menjadi korban. Sudah barang tentu, lingkungan kondisi masyarakat golongan ekonomi ke bawah cukup akrab di mata Thukul. Melalui puisi ia berjuang, sekadar melakukan ”penggugatan”, dan perjuangan yang dilakukan olehnya tidak hanya berhenti hanya sebatas diksi dalam puisi, melainkan juga melebar dalam kegiatan nyata di mana ia juga bergabung dalam sebuah gerakan yang memperjuangkan kebebasan orang-orang sipil bersama mahasiswa.
Thukul seperti ingin menegaskan jika seorang penyair, tidak hidup sendirian. Meminjam Afrizal Malna, seorang penyair juga hidup bersama masyarakat luas. Cerminan karya yang dihasilkan tidak akan jauh dari lingkungan di mana ia tinggal. Suatu hal yang mengingatkan pula bagaimana Arief Budiman menghidupkan sastra kontekstual yang sempat menjadi perbincangan hangat di ranah sastra Indonesia.
Meskipun pada bagian lain, antara karya dan penyair memerlukan suatu ”jarak” yang aman. Bagaimana puisi dan penyair mampu memilah realitas, sehingga menciptakan dunia sendiri: imajinasi. Sebuah batas yang memang tak bisa ditarik secara gamblang, tetapi setidaknya dalam berkarya para penyair (sastrawan) juga berpijak dalam realitas tersebut. Sehingga tidak hanya sekadar berdiri sendiri, hidup dalam menara gading imajinasinya sendiri saja.

Lima Bagian
Buku ini dipilah menjadi lima bagian, ditambahkan pula lima buah puisi baru dalam edisi cetak ulang ini. Bagian pertama: Lingkungan Kita Si Mulut Besar, kedua Ketika Rakyat Pergi, ketiga Darman dan Lain-Lain, keempat Puisi Pelo, dan kelima adalah Baju Loak Pundaknya. Dalam majalah Basis, Yogyakarta pernah pula diangkat masalah puisi Momok Hiyong, yang menjadi sentral perjalanan hidup Wiji Thukul. Tragedi-tragedi kemanusiaan yang selama ini ditutupi kembali terkuak dengan membaca kumpulan ini. sebuah protes dari masyarakat biasa, yang mencoba menegakkan kembali hakikat kemanusiaan.
Banyak judul puisi yang terkumpul memakai kata Catatan, saya kira memang Thukul bermaksud untuk mencatat secara garis besar realitas keseharian yang ditemuinya. Berbagai potret kegetiran hidup hadir terkuak semacam ongkos yang mahal di sebuah puskesmas, kehidupan buruh yang sengsara, atau ketika kesenian tak lagi bisa menjadi pegangan hidup. Sejumlah kesaksian yang begitu tegar, getir, dan siap menjadi pisau. Ternyata hidup tidak hanya berisi kesenangan semata, sebagaimana yang tertuang dalam acara sinetron di layar televisi kita. Thukul memaparkan pula, bagaimana ia mencintai perempuan, dengan bermodal baju yang loak pundaknya.
Pemakaian simbol binatang banyak pula hadir, simak dalam sajak Tikus—bagaimana Thukul mencoba menggugat tentang kekalahan si ”kecil” dengan yang ”besar”. Kita pun dihadapi dalam sebuah hukum rimba, siapa yang menang dialah yang berkuasa: seekor tikus/pecah perutnya/terburai isinya/berhamburan dagingnya//seekor tikus mampus/dilindas kendaraan/tergeletak/di tengah jalan/kaki dan ekornya terpisah dari badan/darah dan bangkainya/menguap/bersama panas aspal hitam//siapa suka/melihat manusia dibunuh/semena-mena/ususnya terburai tangannya terkulai/seperti tikus selokan/mampus/digebuk/dibuang/di jalan/dilindas kendaraan//kekuasaan sering jauh lebih ganas/ketimbang harimau hutan yang buas/korbannya berjatuhan/seperti tikus-tikus/kadang tak berkubur/tak tercatat/seperti tikus/dilindas/kendaraan lewat…
Sajak ini ditutup dengan pertanyaan yang bersedia. Thukul seperti mempertanyakan lagi naluri kemanusiaan bagi orang-orang yang kerjanya menindas:kau bersedia/diumpamakan/ seperti tikus?
Kekerasan demi kekerasan terus saja diabadikan, Thukul seperti membingkainya dengan mencatat keseharian, sikap dirinya, pernyataan yang tak mau ”menolak patuh”, tentunya lewat puisi. Perlawanan yang tak berkesudahan diungkap, dan Thukul bersedia menjadi martir untuk itu. Inilah salah satu kelebihan Thukul, puisi-puisi yang ditulisnya bukan hanya sekadar bermodal dengkul semata. Ia piawai menggabungkan keseharian yang acapkali luput dari perhatian kita, namun tak bisa kita ingkari. Suatu hal yang mengingatkan saya pada gaya-gaya nyeleneh, baik yang tertulis di kaus oblong atau lirik-lirik lagu gaya anak muda. Lirik-lirik itu pun tetap menohok realitas sekelilingnya, walaupun Thukul memakai diksi yang lebih ”keras” lagi. Hal lain yang kembali menerawangkan ingatan saya pada puisi-puisi epik Pablo Neruda, menyandingkannya bagaimana perlawanan yang ditawarkan kedua penyair ini hampir sama.
Dalam Bunga dan Tembok tampak juga bagaimana Thukul menghardik kekuasaan tiran:…jika kami bunga/engkau adalah tembok/tapi di tubuh tembok itu/telah kami sebar biji-biji/suatu saat kami akan tumbuh bersama/dengan keyakinan:engkau harus hancur!//dalam keyakinan kami/di mana pun –tirani harus tumbang! Sikap dirinya sebagai seorang penulis juga tergambar dalam puisi lainnya di Puisi di Kamar:…tak menyerah aku pada tipudaya bahasamu/yang keruh dan penuh genangan darah/aku menulis aku penulis terus menulis/sekalipun teror mengepung.
Demikianlah, Thukul, dalam menulis puisi juga berusaha untuk tidak terlalu menghiraukan para kritikus sastra. Dalam pengantarnya, Thukul menulis bahwa dalam penciptaan puisi penyair hanya tergantung kepada diri sendiri. Mungkin kritikus ada juga fungsinya. Tetapi, kritikus bagi Thukul cuma nomor empat urutannya. Penyair yang bagus, ialah penyair yang tidak tertekan, sebagaimana berada di dalam bilik pemilu, tanpa tekanan, bebas, tidak dipilihkan, melainkan memilih sendiri.
Barangkali, memang benar apa yang diucapkan oleh H.B.Jassin—yang konon terilhami dari negarawan besar Mahatma Gandhi, semestinya sastra menempatkan posisi sebagai penyaksi zaman dengan prinsip humanisme universal-nya. Kemanusiaan yang menyeluruh, meskipun kita tahu, jauh sebelumnya telah ”menggugat” bagaimana kekuasaan yang timpang tak akan mampu menopang kehidupan berbangsa menjadi lebih baik. Kita pun mencatat, bagaimana Rendra sempat tinggal di balik jeruji, kerapkali dilarang untuk membaca puisinya. Tapi hukuman berbalik yang diterima bagi penguasa yang paranoid terhadap karya sastra memang tak akan bertahan lama. Dan sejarah telah mencatatnya. Thukul merupakan salah seorang dari para pencatat sejarah itu.***

Penulis adalah penyair, tinggal di Jakarta


INDONESIA-L
Suara INDEPENDEN No. 5/I/Oktober-Nopember 1995
Wiji Thukul: "ORDE BARU MEMBERANGUS PIKIRAN RAKYAT"

Wiji Thukul, si penyair demonstran itu, lahir di Kampung Sorogenen, Jebres, Solo, 1963. Seperti mayoritas tetangganya, ayahnya juga seorang tukang becak. Tahun 1982 ia drop-out dari SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia), jurusan tari. Pengalaman ini, dan sejumlah pengalaman lainnya -- seperti menjual koran (waktu tinggal di Semarang), buruh/tukang pelitur dikampungnya, bahkan ngamen ke kota-kota lain -- tidak menjadikan dirinya rendah diri.

Pada 1988, Thukul pernah menjadi wartawan di Masa Kini, meski cuma tiga bulan. Dan puisi- puisinya diterbitkan dalam media cetak dalam dan luar negeri. Tiga tahun kemudian, bersama dramawan dan penyair WS Rendra, ia menerima penghargaan Wertheim Encourage Award, yang pertama sejak didirikan. Waktu itu penghargaan diberikan langsung oleh Wertheim Stichting di negeri Belanda. Tentang penghargaan ini, Wiji mengaku sempat bangga karena ia menerimanya lebih dulu dibanding Pramudya Ananta Toer.

Perkawinannya dengan Sipon -- buruh pabrik moto (bumbu masak) yang kini jadi penjahit di kampung Kalangan -- dikaruniai dua anak: Ngantiwani dan Fajar Merah. Ia bangga dengan kedua anaknya karena lukisan anaknya dengan tanda tangan Wani, pernah membuat aparat
bertanya-tanya. Bahkan anak pertamanya ini sudah pandai membuat fabel modern yang bagus atas pengalaman tentang penggusuran. Thukul mendirikan dan mengajar di Sanggar Suka Banjir di kampungnya. Bersama-sama dengan orang-orang yang peduli pada rakyat, ia juga
mendirikian Sanggar Lukis di Sragen. Buku-bukunya yang terbit sebagai kumpulan tunggal; Mencari Tanah Lapang; Darman dan Puisi Pelo.
Sedangkan kumpulan puisi bersama, banyak sekali: termasuk yang diterbitkan Kedubes Jerman.

***********************************************************************

Sebagai penyair maupun aktivis, Anda tidak jarang kena cekal, diintimidasi bahkan kena gebuk. Bagaimana pengalaman Anda?
* Sebenarnya masalah cekal-mencekal, pelarangan, pembubaran bahkan intimidasi -- baik terselubung maupun terang-terangan -- adalah masalah kita bersama. Peristiwa semacam itu setiap hari ada di depan kita, di kota mana pun ada. Bahkan ada yang lebih dari itu, seperti
dibunuhnya petani atau rakyat kecil diberbagai tempat: Nipah (Madura), Haur Koneng, Timika, Timtim dan masih banyak lagi. Ini semua adalah masalah sekaligus pengalaman kolektif kita. Penganiayaan-penganiayaan itu adalah masalah dan pengalaman t raumatis kita bersama, terutama masalah rakyat kecil.

* Penganiayaan itu bentuknya macam-macam. Ada bentuk penganiayaan justru melalui teman-teman sendiri. Teman saya seorang pelukis instalasi pernah omong tentang itu. Banyak seniman lukis yang tidak berani melukis realis bukan karena ditakut-takuti tentara atau polisi secara langsung, tetapi melalui teman-temannya sendiri. Kenapa ditakut-takuti temannya sendiri? Karena temannya ini mendapat ketakutan dari temannya yang pernah ditakut-takuti oleh aparat atau mereka yang punya kekuasaan.

Ini gejala apa?
* Inilah salah satu bentuk penindasan yang paling berbahaya. Sebab penindasan yang kita hadapi sekarang ini adalah penindasan yang membuat orang tidak sadar bahwa kita sedang dianiaya, dibungkam tapi tidak merasa dibungkam. Sekarang ini sedang berlangsung secara
sistematis dua macam penjajahan, yaitu penjajahan fisik maupun kesadaran. Dua-duanya bisa kita saksikan dalam waktu bersamaan. Ketika aksi anti pembredelan di Lapangan Monas, seniman Semsar Siahaan dipatahkan kakinya oleh tentara. Ini apa artinya? S ebenarnya yang
dipatahkan bukan cuma kaki Semsar tapi ide-ide demokrasi, ide-ide untuk menyatakan kemerdekaan berpendapatlah yang dibunuh.

Kalau ide itu sudah mati, apa artinya?
* Artinya .... Orde Baru berhasil memberangus pikiran rakyat secara sistematis dan efektif. Koran Pikiran Rakyat memang masih ada, ya? Ha...ha...ha...ha.... Maksud saya, kalau kesadaran itu sudah mati ini pertanda bahwa pikiran rakyat sudah diberangus betul-betul.

Tetapi ide-ide demokrasi di negeri ini atau di mana pun apa bisa benar-benar dihapus?
* Kalau melihat semakin banyaknya aksi-aksi di sana-sini, saya nggak yakin bahwa ide-ide demokrasi benar-benar bisa diberangus. Disana-sini perlawanan sudah menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Tahun kemarin saja kita mencatat ada 80 kali aksi mahasiswa. Yang dilakukan oleh buruh, ditambah petani, bahkan sampai ratusan. Ini bentuk perlawanan terhadap penindasan yang kita alami bersama yang bisa dilihat dengan mata. Tetapi kalau sekarang masih banyak yang diam, mungkin ada yang tidak beres.

Kenapa Anda menolak undangan baca puisi HUT ABRI di Solo?
* Itu pernyataan sikap saya, dan bukan satu hal yang berani atau heroik. Bagi saya itu hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia yang hidupnya terus-menerus dibayang-bayangi ketakutan, diintimidasi oleh pihak-pihak yang menindas kita. Siapa pun kita, kita harus bersuara menghadapi hal semacam itu. Sebagai penyair maupun pribadi saya merasa punya tanggung jawab. Kalau saya datang, akan mengombang-ambingkan massa. Massa jadi bingung. Kalau anda penyair, karya anda dibaca banyak orang.

* Karena itu anda harus jujur dan mempertanggungjawabkan sikap anda kepada banyak orang seperti yang anda katakan lewat karya anda. Tanggungjawab bahwa anda itu merdeka dan tidak mau dimanipulasi. Kalau sikap anda tidak jelas, pembaca anda akan jadi bingung dan bertanya-tanya, "Wiji Thukul itu bagaimana sih. Omongnya lawan! lawan! tapi kok rangkul- rangkulan sama orang yang menindas".

Bukankah undangan itu bisa dijadikan tempat mengekspresikan karya dan sikap Anda?
* Bisa jadi seperti itu. Tetapi itu juga momen yang baik bagi pengundang untuk membikin imej di depan orang banyak bahwa mereka mulai terbuka dan demokratis. Mereka bisa bilang, "Wong Wiji Thukul yang biasa bengok-bengok, biasa protes, suka ikut aksi saja diundang
kok. Kami kan baik mau mendengarkan dan memberi kesempatan orang lain termasuk yang suka protes". Ini kan bisa membingungkan orang banyak.

Karya Anda digolongkan sebagai puisi pinggiran, tidak indah, malah vulgar. Tanggapan Anda?
* Puisi-puisi saya memang banyak beredar di kalangan aktivis maupun orang kecil, dan memang sangat khas dan cocok untuk orang-orang bawah. Karena puisi-puisi naratif lebih bicara dan komunikatif dalam berbagai pertemuan untuk membicarakan masalah mereka, dibanding puisi-puisi absurd atau yang multi interpretable.

* Jadi kalau dulu ada karya sastra yang dianggap liar, sekarang pun ada. Dan saya kira sepanjang sejarah dalam berbagai bidang kehidupan tertutama politik akan terus ada yang dianggap liar dan ada yang terus menjaga kemapanannya dengan cara menciptakan serta menjaga kata liar atau kata-kata lain.

Saat menulis puisi, seseorang pasti memasuki pergulatan atau perdebatan estetika. Sejauh mana formulasi tentang kebebasan estetika dalam kaitannya dengan media yang Anda pilih?
* Bagi saya berpuisi itu erat sekali dengan pengalaman hidup terutama yang dirasakan penulisnya. Juga berbagai pengalaman atas jagad kata ditambah reaksi-reaksi yang muncul atas kata-kata yang digubahnya. Proses kreatif saya juga bertitik tolak dari pengalaman di samping
pandangan bahwa keindahan itu sangat dipengaruhi oleh pengalaman.

Punya pengalaman yang lebih konkret?
* Agustus 1982, saya diundang baca puisi di sebuah kampung di Solo dalam acara 17-an. Puisi yang saya baca adalah puisi yang saya buat spontan. Di luar dugaan puisi itu bikin geger orang sekelurahan. Puisinya pendek dan sederhana. Tapi puisinya memang medeni. Judulnya
Kemerdekaan Tahun 1982. Isinya, /Kemerdekaan adalah nasi/ Dimakan jadi tai/. Cuma begitu. Singkat sekali. Tapi apa yang terjadi? Paginya, semua panitia dipanggil ke kelurahan.

Apa yang Anda temukan dari peristiwa ini?
* Bagi saya peristiwa ini adalah pengalaman keindahan. Ketika puisi itu saya bacakan, saya lihat orang betul-betul menikmati "kekurangajaran" saya. Saya mendengar komentar dari mereka, "Ya wis ra apa-apa. Pisan-pisan lurah ya digawe bingung," Dari sini saya menangkap adanya suatu perasaan bersama orang kecil di kampung.
Selain pengalaman keindahan saya mulai melihat kedahsyatan kekuatan kata-kata.

Jadi kata-kata penyair itu punya kelebihan?
* Mungkin begitu. Suatu hari saya ke Yogya untuk menengok seorang teman. Sampai di Malioboro, saya melihat sedang ada demo di Gedung DPRD yang dilakukan oleh para petani. Saya kaget sekali waktu melihat salah satu poster yang mereka bawa berisi kutipan atas baris puisi saya yang berbunyi, Hanya ada satu kata: lawan! Saya lalu berpikir, ini apa? Saya lalu merasa bahwa kata-kata yang ditulis penyair secara jujur betul-betul kata-kata sejati.


Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa
Oleh: Wiji Thukul

aku bukan artis pembuat berita
tapi memang
aku selalu kabar buruk
buat para penguasa

puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat
dan berdesakan mencari jalan

ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ia tak mati-mati
telah kubayar apa yang dia minta
umur-tenaga-luka

kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
:kau masih hidup!

aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa

18 juni 1997

Catatan Subversif Tahun 1998
-disebabkan oleh Wiji Thukul

kau adalah kemarau panjang
yang hanya membawa kematian
kepada daun, bunga, dan
ikan-ikan di sungai
kampung tercinta

karena kau adalah kemarau
maka airmata kami akan
menggenangi bumi
jadi embun
naik ke langit, jadi awan-awan
dan dengarlah gemuruh kami
sebagai hujan turun

mengusirmu dari sini!

Darman

desa yang tandus ditinggalkannya
kota yang ganas mendupak nasibnya
tetapi ia lelaki perkasa
kota keras
hatinya pun karang
bergulat siang malam
Darman kini lelaki perkasa
masa remaja belum habis direguknya
Tukini setia terlanjur jadi bininya
kini Darman digantungi lima jiwa
Darman yang perkasa
kota yang culas tidak akan melampus hidupnya
tetapi kepada tangis anak-anaknya
tidak bisa menulikan telinga
lelaki, ya Darman kini adalah lelaki
perkasa, ya Darman kini adalah lelaki perkasa
ketika ia dijebloskan ke dalam penjara
Tukini setia menangisi keperkasaannya

ya merataplah Tukini
di dalam rumah yang belum lunas sewanya
di amben bambu wanita itu tersedu
sulungnya terbaring diserang kolera

Tukini yang hamil buncit perutnya
nyawa di kandungan anak kelima


Dari: Inside Indonesia,
no. 12 october 1987

Jakarta simpang siur
ormas-ormas tiarap
tiap dengar berita
pasti ada aktivis ditangkap

telepon-telepon disadap
koran-koran disumbat
rakyat was-was dan pengap

diam-diam orang cari informasi
dari radio luar negeri

"jangan percaya
pada berita mass media cetak
dan elektronika asing!"

Penguasa berteriak-teriak setiap hari
nasionalismenya mirip-mirip Nazi

Agustus 1996

Note:
Puisi ini belum diberi judul oleh Wiji Thukul.

Sajak-sajak bawah tanah Wiji Thukul

(1)

kekuasaan yang sewenang-wenang
membuat rakyat selalu berjaga-jaga
dan tak bisa tidur tenang
sampai mereka sendiri lupa
batas usianya tiba

dan dalam diamnya
rakyat ternyata bekerja
menyiapkan liang kuburnya
lalu mereka bersorak

ini kami siapkan untukmu tiran!

penguasa yang lalim
ketika mati tak ditangisi rakyatnya

sungguh memilukan
kematian yang disyukuri dengan tepuk tangan

11 Agustus 1996


(2)

Para jendral marah-marah

Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi.
Tapi aku tidur. Istriku yang menonton.
Istriku kaget. Sebab seorang letnan jendral menyeret-nyeret namaku.

Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tariknya.
Dengan mata masih lengket aku bertanya: mengapa?
Hanya beberapa patah kata keluar dari mulutnya:
"Namamu di televisi..."
Kalimat itu terus dia ulang seperti otomatis.

Aku tidur lagi dan ketika bangun wajah jendral itu
sudah lenyap dari televisi. Karena acara sudah diganti.
Aku lalu mandi. Aku hanya ganti baju. Celananya tidak.
Aku memang lebih sering ganti baju ketimbang celana.

Setelah menjemur handuk aku ke dapur.
Seperti biasa mertuaku yang setahun lalu ditinggal mati suaminya itu,
telah meletakkan gelas
berisi teh manis.
Seperti biasanya ia meletakkan di sudut meja kayu panjang itu,
dalam posisi yang gampang diambil.

Istriku sudah mandi pula. Ketika berpapasan denganku kembali

kalimat itu meluncur, "namamu di televisi..."
Ternyata istriku jauh lebih cepat mengendus bau kekejaman kekuasaan itu daripada aku.

12 Agustus 1996

(3)

wani
bapakmu harus pergi
kalau teman-temanmu tanya
kenapa bapakmu dicari-cari polisi
jawab saja:
"karena bapakku orang berani"

kalau nanti ibu didatangi polisi lagi
menangislah sekuatmu
biar tetanggamu kanan-kiri datang
dan mengira ada pencuri masuk rumah kita