Rabu, 18 Juni 2008

Semua Yang Hilang Pasti akan Kembali

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang/suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan/dituduh subversif dan mengganggu keamanan/maka hanya ada satu kata: lawan!
Dalam membaca karya sastra, khususnya puisi. Mayoritas penikmat sastra mendambakan dari hasil bacaannya terkecap keindahan. Teresapi pendar-pendar aroma estetika. Oleh karena itu, banyak penyair berusaha menuangkan harmoni kata yang indah dalam setiap karya puisi mereka. Dalam puisi kita mengenal stigma yang dipakai oleh banyak orang bahwa memuat berbagai kata imajinatif merupakan syarat mutlak dalam puisi. Namun hal ini tidak berlaku oleh beberapa penyair yang menjadikan karya sastra sebagai medium perlawanan terhadap realitas yang timpang. Mereka merasa cukup dengan bahasa yang sederhana. Kata-kata diupayakan menciptakan keutuhan sajak. Lihat saja penggalan puisi dari Wiji Thukul di atas yang berjudul ”Peringatan” (1986). Sebuah jenis puisi dimana fakta, pengalaman atau memori intim seorang penyair diungkapkan apa adanya dalam kesederhanaan bahasa leksikan-gramatikal sehari-hari yang lugas dan tidak rumit. Jenis puisi atau sajak semacam ini oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri dinamakan sebagai ”sajak terang”. Sebab maksud dari puisi tersebut sangat transparan dan nyata.

Puisi Wiji Thukul disini hanyalah contoh kecil dari sebuah karya sastra yang tercipta dari kesadaran menjadikan seni sebagai media perjuangan terhadap kesewenang-wenangan. Wiji Thukul pernah memenangkan penghargaan Werdheim, sebuah anugerah bergengsi untuk karya-karya kemanusiaan. Puisi-puisinya memperoleh pujian, meski ia mengatakan tak pernah menulis puisi untuk menang perlombaan. ”Meski para seniman masih memperdebatkan hubungan halal atau haram antara seni dan politik, tapi kami memutuskan untuk hidup dan berkesenian di tengah perlawanan rakyat yang kehilangan hak-haknya di masa Soeharto”. Ungkapnya, ketika ditanyakan alasan yang mendasari lahirnya puisi-puisi yang ditulisnya.

Berjuang Lewat Sastra

Seno Gumira pernah mengatakan “Ketika Jurnalisme di bungkam, Sastra Harus Mengungkapkan Kebenaran.”. Benarkah sastra memiliki tugas suci seperti itu ? Bisa jadi benar. Malah Mohamad Sobary menilai sastrawan adalah da’i yang baik. Sastrawan di matanya (seharusnya) mampu mengiklankan keluhuran Tuhan dan segenap Nabi-nabi-Nya serta para pendukung nilai luhur lainnya, sehingga keluhuran tersosialisasi dengan baik di masyarakat. Manusia dituntut untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’aruf itu memanusiakan manusia, sedangkan nahi munkar itu pembebasan, dan beriman kepada Tuhan itu transendental. Dalam konteks kesusastraan Indonesia, sastra religius menggenapi isu sastra yang ada. Sastra religius mengambil tema-tema keagamaan yang variasinya amat banyak. Menurut Kuntowijiyo, sesungguhnya semua sastra punya bobot religiusitas, asal dilihat dari pandangan teologis dan metafisis.


Kuntowijoyo menggagas jenis genre baru dalam sastra dan menyebutnya sebagai sastra profetik. Sastra yang menurutnya melanjutkan tradisi kerasulan. Sebab agama dihadirkan untuk membangun peradaban ummat manusia yang berwatak profetik. Dalam artian agama datang untuk mengubah secara radikal tatanan sosial kultural mapan yang opressif, yang membuat manusia terbelenggu, saling melindas dan tak jelas arah sejarahnya. Sehingga ummat manusia mencapai tingkat teratas peradabannya sebagai makhluk yang berakal dan berbudi.

Sastra profetik, menurut penulis mesti dikembangkan oleh kalangan pemerhati dan penikmat sastra generasi saat ini. Kuntowijoyo, Wiji Thukul, W.S Rendra dan beberapa penyair lainnya dengan sastra profetiknya telah menanamkan dan memperkaya cakrawala sastra religius yang lebih membawa pencerahan dan tidak melulu lebih sibuk mengurus hablumminallah (melangit) dan mengabaikan hablumminannas (membumi). Dan, sastra profetik lebih jelas kualitasnya dan kekuatan moralnya daripada sastra yang melulu membincang seks.

Lewat sastra profetik, penyair dapat mensosialisasikan penyataan sikapnya. Sikap perlawanan terhadap setiap penindasan yang menginjak-injak kemanusiaan, pemberontakan kultural terhadap setiap ketidakadilan, perjuangan untuk mewujudkan nilai-nilai sejati yang telah lama mati, penyadaran manusia Indonesia yang mengalami situasi acak (chaos) yang cukup akut sehingga terbatah-batah untuk menjelaskan diri sendiri. Penyair-penyair profetik tidak menulis puisi dari ilusi-ilusi fantasianisme, atau dari dunia bawah sadar. Sebaliknya mereka menulis puisi dengan berakar pada persoalan sehari-hari, persoalan yang ada di depan matanya. Mereka menuliskan puisi dengan penuh kesadaran, kesadaran akan adanya penindasan, akan adanya struktur-struktur riil ketidakadilan, akan adanya epikolonialisme.
Mereka bertindak sebagai ”penyaksi” yang berhadapan dengan cermin realitas yang bobrok. Dan, Thukul adalah salah seorangnya. Sajak-sajaknya terkesan sederhana, diksi-diksi yang dipakai sangat biasa, bahkan lumrah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Lewat kata-kata yang umumnya kita jumpai, Thukul seperti mencoba untuk menarik sebuah busur yang baru, dengan memosisikan dirinya sebagai yang terlibat di dalam (insider). Puisi-puisi yang ditulisnya menampakkan wajah protes yang meluap, pertanyaan-pertanyaan satire, mengapa dalam peristiwa politik kehidupan bernegara rakyat kecil yang melulu menjadi korban. Melalui puisi ia berjuang, sekadar melakukan ”penggugatan”. Dan perjuangan Thukul tidak hanya sebatas diksi dalam puisi, melainkan juga melebar dalam kegiatan nyata, di mana ia juga bergabung dalam sebuah gerakan yang memperjuangkan kebebasan orang-orang sipil bersama mahasiswa.

Dari sini benarlah apa yang pernah dikatakan H.B.Jassin. Semestinya sastra menempatkan posisi sebagai penyaksi zaman dengan prinsip humanisme universal-nya. Bangsa saat ini butuh sastrawan yang tidak asyik sendiri, tetapi mampu mencipta karya yang menghargai kualitas dan mempertinggi harkat hidup kemanusiaan. Meskipun sejarah mencatat, mereka yang melakukannya, terkadang harus mengecap penderitaan. Kita tahu bagaimana Rendra sempat tinggal di balik jeruji, dan dilarang untuk membaca puisinya. Bahkan Wiji Thukul telah menjadi korban kebengisan orde yang paranoid terhadap karya sastra. Tukul dinyatakan hilang 27 Juli 1996 dan belum diketahui riwayatnya hingga kini. Membaca kisah Tukul, mengingatkan saya pada seorang penyair Bulgaria yang mati dieksekusi di muka regu tembak rezim fasis negerinya. Penyair ini bernama Nikolai Vaptsarov. Ia mati muda dalam usia 32 tahun. Vaptsarov seorang pejuang bagi rakyatnya, sama seperti Wiji Thukul. Tapi, jarang ada yang tahu bahwa mereka berjuang dan melawan bermula lewat bait-bait sajaknya. Sebuah sastra profetik.
Salam Perlawanan !!!

Orang Hilang Yang Takpernah Kembali dan Dia Pasti akan Kembali

Wiji Thukul Wijaya

wiji.jpg

Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak. Keluarganya katolik, dan diapun masuk SD katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada tahun 1980.
Di Solo, Thukul dibesarkan di sebuah kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Berapapun tambahan penghasilan dari anak istri bias sangat penting artinya. Rentenirpun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu menggelisahkan para penghuni kampong.
Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkahnya sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah mejadi tukang Koran, tukang semir mebel di suatu perusahaan kecil di kampung, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan. Keterlibatan Thukul dalam teater dan kesenian di Sala dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul diberbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak-sajaknya pun muncul dalam Antalogi 4 Penyair Solo. Kumpulan terbaru Thukul berjudul Suara. Dia memproduksi sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya : ” Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi.”

TIRANI HARUS TUMBANG

(Wiji Thukul, 1987)

tengara2.jpg

Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga, Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika Kami bunga, Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu telah Kami sebar biji-biji
Suatu saat Kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan : Engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami, Dimanapun

Derita Sudah Naik Seleher

bejana-cinta.jpg

kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku manjadi gelap

kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras

kaupaksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak

darah sudah kauteteskan
dari bibirku
luka sudah kaubilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kaurampas
dari biji mataku

derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas

Kucing, Ikan Asin Dan Aku

layang.jpg

Seekor kucing kurus
menggondol ikan asin
laukku untuk siang ini
aku meloncat
kuraih
pisau
biar
kubacok ia
biar
mampus

ia tak lari
tapi mendongak
menatapku
tajam

mendadak
lunglai
tanganku
-aku melihat diriku sendiri!

lalu kami berbagi
kuberi ia kepalanya
(batal nyawa melayang)
aku hidup
ia hidup
kami sama-sama makan

Orang Hilang Yang Takpernah Kembali dan Dia Pasti akan Kembali

Wiji Thukul - Aku Ingin Jadi Peluru

wiji-thukul-aku-ingin-jadi-peluru.jpgMedium: Buku - Kumpulan Puisi
Penulis: Wiji Tukhul
Judul: Aku Ingin Jadi Peluru
Penerbit: IndonesiaTera, Magelang
Tahun: 2000
Tebal: 5 buku, 135 puisi

“Kalau hidupmu tidak mudah, keras, penuh tekanan, kejam dan hampir-hampir kau tak tahu harus berbuat bagaimana, maka menulislah puisi.”

“Kalau hidupmu terjepit, kau dikejar-kejar, kau bersembunyi, kau berganti kaos, celana, sandal bahkan nama, sampai-sampai kau nyaris alpa dirimu sendiri, maka menulislah puisi.”

“Puisi apa yang kau tulis?Apa pun itu, puisi akan melembutkan pikiranmu, setidaknya jemarimu sendiri.”

Di jaman seperti ini, masihkah relevan membaca Thukul? Tahun-tahun ini tentu sudah jauh berbeda dibanding era Wiji Thukul. Sudah tidak ada lagi sepatu lars menginjak di bawah meja. Orang boleh mencaci presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, bupati juga para DPRnya sendiri tanpa perlu gentar. Orang punya puluhan partai politik untuk di pilih. Konon, kita tidak perlu lagi punya rasa takut pada negara. Ya, itu benar. Yang menjadi persoalan bukanlah apakah kita takut pada negara, melainkan jika negara takut pada warganya sendiri. Itulah yang jauh lebih mengerikan. Karenanya, meski era penghilangan orang macam Thukul sudah dianggap berlalu namun masih ada kematian-kematian yang tak perlu. Munir, misalnya. Ironisnya, Munis turut menulis essay tentang Wiji Thukul sebagai pengantar buku kumpulan puisi Wiji Thukul, berjudul Aku Ingin Jadi Peluru.

Masihkah relevan membaca Thukul? Soal relevansi, itu mudah dicari. Ada baiknya simak satu puisi Thukul ini:

Kucing, Ikan Asin Dan Aku

Seekor kucing kurus
menggondol ikan asin
laukku untuk siang ini
aku meloncat
kuraih
pisau
biar
kubacok ia
biar
mampus

ia tak lari
tapi mendongak
menatapku
tajam

mendadak
lunglai
tanganku
-aku melihat diriku sendiri!

lalu kami berbagi
kuberi ia kepalanya
(batal nyawa melayang)
aku hidup
ia hidup
kami sama-sama makan

Puisi tentang sesuatu yang sederhana dengan bahasa sederhana.

Ya, hidup Thukul tampaknya begitu keras. Ini tampak dari puisi-puisi dalam buku ini. Buku kumpulan puisi yang diterbitkan oleh IndonesiaTera berusaha merangkum semua puisi Thukul. Buku ini memuat dua kumpulan puisi Thukul yang pernah terbit sebelumnya (oleh Taman Budaya Surakarta), yaitu Puisi Pelo dan Darman Dan Lain-lain, yang menjadi dua sub bab tersendiri. Selain itu, juga memuat puisi-puisi yang belum terkompilasi, dan dijadikan dua sub bab, Lingkungan Kita Si Mulut Besar dan Ketika Rakyat Pergi. Sub bab terakhir berjudul Baju Loak Sobek Pundaknya adalah kumpulan puisi Thukul semasa pelarian (setelah 1 Agustus 1996). Dalam pelarian, Thukul menulis dengan nama samaran Budi Bang Branang. Salah satu puisi masa pelariannya adalah Kucing, Ikan Asin Dan Aku di atas.

Nyanyian Akar Rumput

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang

kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!

Kalau banyak orang negara takut pada Thukul (dulu) itu bisa dimengerti. Membaca Thukul adalah membaca semangat perlawanan.

dalam keyakinan kami
di mana pun –tirani harus tumbang!
(Bunga Dan Tembok)

mari tidur
persiapkan
perlawanan, esok pagi!
(Untuk D)

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?
(Tentang Sebuah Gerakan)

aku menulis aku penulis terus menulis
sekalipun teror mengepung
(Puisi Di Kamar)

penjara sekalipun
tak bakal mampu
mendidikku jadi patuh
(Puisi Menolak Patuh)

kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu: pembebasan!
(Tujuan Kita Satu Ibu)

Tapi Thukul bukanlah orang yang begitu keras penuh pemberontakan. Thukul tetaplah manusia yang mempunyai sisi lembut, terutama pada ibu. Thukul tidak sekedar menulis perlawanan, ia menulis banyak hal, terutama hal sehari-hari yang ia akrabi. Kalau toh Thukul menari-nari dalam dunia imajinasi, ia tetap kembali pada sehari-hari.

Sajak Ibu

ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
ibu akan marah besar
bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
ketabahan ibuku
mengubah sayur murah
jadi sedap
…
…
dengan kebajikan
ibu mengenalkanku kepada tuhan

Derita Sudah Naik Seleher

kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku manjadi gelap

kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras

kaupaksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak

darah sudah kauteteskan
dari bibirku
luka sudah kaubilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kaurampas
dari biji mataku

derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas

Membaca Wiji Thukul adalah membaca dunia Thukul dengan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti. Bahasanya cukup lugas, tidak berbunga-bunga, dan tidak memerlukan banyak tafsir. Itu karena Thukul ingin didengar. Thukul bukan menulis puisi untuk dikulum diam-diam. Puisinya untuk diucapkan bahkan diteriakkan. Ya, kata orang, puisi Thukul adalah puisi protes. Namun, mungkin lebih tepat dipandang sebagai sebuah puisi proses. Ya, menulis puisi bagi siapa pun adalah sebuah proses. Proses menafsirkan realita. Dan, bagi Thukul realita itu berupa kekerasan.

Kembali ke pertanyaan semula. Di jaman sekarang ini apa relevansinya membaca Thukul? Hm, tidakkah kita juga melihat realitas kekerasan itu sampai sekarang? Diperlukan Thukul untuk mengingatkannya pada kita semua.

Om Ale
03 Maret 2007

***

Apakah Kita Akan Diam Melihat Setiap Penindasan

Peta Politik Sastra Indonesia (1908-2008)

oleh Asep Sambodja

Abstrak

Bagaimanakah peta politik sastra Indonesia selama 100 tahun (1908-2008) belakangan ini? Dalam makalah ini akan dijelaskan secara deskriptif peta politik sastra Indonesia dalam satu abad kebangkitan nasional. Kita tahu bahwa perkembangan politik di Indonesia sangat berpengaruh dalam perkembangan sejarah sastra Indonesia. Siklus perubahan politik 20 tahunan, misalnya, bisa terbaca dalam penyebutan angkatan yang diberikan kritikus sastra H.B. Jassin. Di masa kolonialisme, pengaruh itu tampak dalam karya sastra, baik yang memiliki semangat antikolonialisme di zaman Belanda maupun berkembangnya simbolisme di zaman Jepang akibat situasi yang sangat represif. Di masa pemerintahan Soekarno, perbedaan ideologi yang demikian tajam juga berdampak langsung terhadap perkembangan sastra Indonesia, yakni dengan merasuknya ideologi dalam diri sastrawan maupun dalam karya sastra yang dihasilkannya. Hal ini dapat terbaca dengan jelas dalam polemik antara sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang mengusung nilai-nilai realisme sosial dengan sastrawan Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang mengusung nilai-nilai humanisme universal. Di masa pemerintahan Soeharto, polemik antara sastrawan Manikebu dengan sastrawan Lekra sedikit menyusut dalam paruh pertama masa pemerintahannya, namun semakin mencuat di paruh kedua masa pemerintahan Soeharto. Indikasinya adalah munculnya polemik hadiah Magsaysay pada 1995, saat sastrawan Lekra, Pramoedya Ananta Toer, memperoleh hadiah tersebut. Polemik itu dimotori oleh Taufiq Ismail, salah satu ujung tombak sastrawan Manikebu. Pemerintahan Soeharto yang cenderung sentralistis juga menimbulkan reaksi di kalangan sastrawan, yakni dengan munculnya suara-suara revitalisasi sastra pedalaman yang menolak Jakarta sebagai pusat. Selain itu, kecenderungan apolitis yang diterapkan pemerintah Soeharto juga direspons dengan gagasan sastra kontekstual yang disuarakan Arief Budiman dan Ariel Heryanto. Kini, di era reformasi, sastrawan Indonesia juga merasakan adanya kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, dan lahirnya semangat untuk menghargai perbedaan (multikulturalisme). Jiwa bhinneka tunggal ika yang terdapat dalam karya sastra klasik Indonesia abad ke-14, kakawin Sutasoma karya Empu Tantular, seperti dibangkitkan kembali dalam kehidupan berbangsa dan berbudaya di Indonesia. ***

Apakah Kita Akan Diam Melihat Setiap Penindasan

Munir yang Tak Pernah Mati

oleh Silvi Fitri Ayu

(Mahasiswa Program Studi Korea FIB UI)

Untukmu Munir adalah sebuah buku kumpulan cerita pendek karya dua belas mahasiswa Universitas Indonesia yang disunting oleh Asep Sambodja (dosen Program Studi Indonesia FIB UI). Buku yang diterbitkan pada Maret 2008 ini merupakan bentuk kepedulian para mahasiswa terhadap kasus pembunuhan Munir yang merupakan tokoh penegak HAM di Indonesia. Seperti disebutkan pada bagian pembuka buku ini, Untukmu Munir juga merupakan buku pelengkap atas terbitnya buku-buku lain yang berisi tentang peristiwa bersejarah dalam menegakkan demokrasi dan hak asasi di Indonesia.

Ketika pembaca mulai membaca bagian pembuka buku ini, pembaca akan mendapatkan sebuah pemikiran baru tentang arti pentingnya sebuah karya sastra dibuat oleh para penyair. Karya sastra diartikan sebagai sebuah upaya untuk menyuarakan kebenaran dan bentuk “pengabadian” peristiwa sejarah yang mungkin nantinya akan terlupakan. Pada bagian pembuka ini juga terdapat dua buah puisi, yaitu karya Goenawan Mohamad yang berjudul “Kwatrin tentang Sebuah Poci” dan karya Subagio Sastrowardoyo yang berjudul “Mata Penyair”. Kedua puisi ini semakin menekankan arti penting sebuah karya sastra. Selain itu juga ada puisi karya Asep Sambodja yang berjudul “Cak Munir di Awan” sebagai pembuka buku ini, yang menyiratkan makna bahwa “sosok Munir” akan selalu hidup di hati para penegak hak asasi manusia di negeri ini.

Buku yang terdiri dari 76 halaman ini mengangkat satu tema penting, yaitu “kematian Munir”. Para penulis dalam buku ini secara garis besar menempatkan diri mereka ke dalam empat karakter, yaitu sebagai Munir, Suciwati (istri Munir), Malaikat Pencabut Nyawa, dan teman Munir. Pada umumnya, para penulis menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi ada satu cerpen berjudul “Keputusan Malaikat” karya Zul Abrar H. yang menggunakan sudut pandang orang ketiga.

“Bayang-Bayang Kematian”, “Harta Berharga”, “40 G”, “Kematianku”, “Gugur di Musim Gugur”, dan “Tanya Yang Belum Terjawab” merupakan cerpen-cerpen yang bercerita tentang skenario kematian Munir pada tanggal 7 September 2004 di pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-974. Keenam penulis ini memposisikan diri mereka sebagai seorang “Munir” yang mencoba menjelaskan situasi ketika maut akan menjemputnya. Dari keenam cerpen ini tidak terlalu tampak perbedaan yang sangat besar tentang skenario kematian Munir.

Hampir di keenam cerpen ini selalu muncul tokoh dr. Tarmizi dan Pollycarpus yang menjadi teman seperjalanan Munir menuju Belanda. Akan tetapi, tokoh dr. Tarmizi diceritakan sedikit berbeda pada cerpen berjudul “Bayang-bayang Kematian”. Dalam cerpen ini dr. Tarmizi diceritakan sepertinya ikut terlibat dalam pelaksanaan pembunuhan Munir. Hal ini terlihat dari beberapa kalimat, yaitu ”Aku hanya mampu mendengar penggalan-penggalan pembicaraan mereka. Satu yang kudengar jelas. Berhasil”. Sedangkan pada kelima cerpen lainnya, dr. Tarmizi hanya digambarkan sebagai tokoh yang berusaha menolong Munir dari keracunan arsenik. Tokoh Pollycarpus hanya diceritakan sebagai orang yang menawarkan kebaikan kepada Munir, yaitu untuk pindah duduk dari kelas ekonomi ke kelas bisnis. Sikap Pollycarpus yang begitu kukuh untuk membujuk Munir pindah ke kelas bisnis terasa sangat mencurigakan. Pembaca buku ini pasti akan sangat bertanya-tanya tentang kebaikan tokoh Pollycarpus. Hal ini dikarenakan tokoh Pollycarpus dalam cerpen-cerpen ini memberikan kebaikan kepada Munir dengan cara yang sangat mencurigakan dan dia memperkenalkan diri dengan profesi yang agak berbeda-beda. Namun, pada intinya setiap cerita menunjukkan bahwa Munir sendiri bertanya-tanya tentang penyebab kematiannya.

Para penulis ini melalui cerita-cerita mereka telah berhasil menjadi sosok Munir yang sangat menderita ketika racun arsenik mulai bekerja dan merenggut nyawanya. Mereka seolah-olah telah benar-benar melihat, bahkan mengalami situasi saat itu. Sosok Munir sepertinya telah melekat dalam diri penulis-penulis ini, karena mereka begitu mudah mendeskripsikan sosok Munir ke dalam karya-karya mereka.

Berbeda dengan keenam cerpen yang telah disebutkan di atas, para penulis dari cerita “Catatan Kematian Suamiku”, “Kerinduan”, “Sebuah Perjalanan Panjang”, dan “Surat Untuk Suamiku” menempatkan diri sebagai Suciawati, yaitu istri Munir. Secara keseluruhan keempat cerpen ini merupakan gambaran tentang perasaan seorang istri yang sangat merindukan suaminya yang telah meninggal dan semangat untuk memperjuangkan keadilan demi suaminya. Rasa rindu dan kesedihan yang mendalam, terhadap suami yang telah meninggal terlihat jelas dalam cerpen “Kerinduan” dan “Surat Untuk Suamiku”. Cerpen “Kerinduan” memperlihatkan perasaan seorang istri yang begitu berat untuk melepas kepergian suaminya hingga dia pun melihat kedatangan suaminya dalam mimpi. “Surat Untuk Suamiku” ini sangat tepat diletakkan di bagian akhir buku ini karena rasa rindu dan kehilangan itu membuat bangkit sosok Suci untuk melanjutkan kehidupannya serta meneruskan perjuangan sang suami, Munir.

“Catatan Kematian Suamiku” dan “Sebuah Perjalanan Panjang” lebih menggambarkan rasa marah seorang istri dan perjuangan untuk menegakkan keadilan. Ketika pembaca membaca kedua cerpen ini, sangat terasa bahwa untuk menegakkan keadilan di Indonesia sangatlah sulit dan setiap rakyat belum dapat memperoleh haknya secara utuh dalam bidang hukum. Suciwati akan terus berjuang sekuat tenaga untuk mencari keadilan dalam kasus kematian suaminya, karena di negeri ini ”keadilan” sudah tidak memiliki tempat lagi. Instansi-instansi hukum yang seharusnya menegakkan keadilan sudah semakin kehilangan wibawanya. Pemerintah sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk dapat menegakkan hukum.

Pembaca akan semakin tahu bahwa sesungguhnya kasus Munir belumlah terselesaikan sepenuhnya, walaupun Pollycarpus telah dijatuhi hukuman atas kasus kematian Munir. Siapa sesungguhnya dalang dari kasus Munir ini belum diketahui dengan jelas. Hal ini dikarenakan kasus Munir bukan sebuah kasus kematian biasa, tetapi terkandung unsur-unsur politik di dalamnya. Kasus kematian ini merupakan kasus kematian yang telah direncanakan secara matang dan melibatkan beberapa “petinggi-petinggi” negeri ini yang takut kejahatannya dibongkar oleh Munir. Hal tersebut tergambar dari cerpen “Keputusan Malaikat”. Kalimat-kalimat terakhir cerpen ini sangat menggambarkan perkembangan kasus kematian Munir pada saat ini. Berikut paragraf terakhir cerpen “Keputusan Malaikat”:

Berbagai sidang kemudian digelar untuk mencari tahu siapa tersangka kasus pembunuhan itu dan sampai saat ini tersangka kasus kematian itu tidak pernah terungkap. Hanya Tuhan, Malaikat Pencabut Nyawa, dan Malaikat Pencatat Takdir yang mengetahui siapakah orang yang menjadi kepanjangan tangan Malaikat Pencabut Nyawa untuk melaksanakan tugasnya.

Selain itu cerpen ini juga memperlihatkan situasi Indonesia yang sangat buruk. Negeri tercinta ini telah terkenal dengan kekacauannya dan banyak peristiwa pelanggaran hak asasi manusia. Indonesia telah menjadi sebuah negeri yang mengagungkan penindasan dan telah mengubur semangat keadilan.

Cerpen “Terbungkam” semakin memperlihatkan bahwa sesungguhnya bangsa ini belum merdeka. Penggalan bait lagu “Indonesia Raya” diawal cerpen ini menambah kepiluan akan situasi negeri ini. Semangat kebangsaan dalam lagu itu seamakin membuat kita pilu karena sesungguhnya kita bukanlah bangsa yang merdeka. Sekarang negeri ini kembali dijajah oleh kemunafikan dan penindasan.

Diceritakan lewat cerpen “Terbungkam” tentang salah seorang sosok teman Munir yang sangat mengagumi sosok Munir yang sangat berani dalam membela kebenaran. Teman Munir ini sangat menyadari bahwa bangsa ini sedang dalam masa kebobrokan. Akan tetapi, berbeda dengan Munir, dia tidak berani menyuarakan kebenaran itu. Rasa takut lebih menguasainya dari pada semangat untuk menyuarakan kebenaran, bahkan dia sampai melarikan diri ke luar negeri karena rasa takutnya ini. Namun, kematian Munir menyadarkan dia bahwa manusia tidak boleh takut dengan kematian, karena setiap manusia pasti akan mati. Selain itu kematian Munir juga memberikan semangat dalam dirinya untuk berani menyuarakan kebenaran dan terus melanjutkan perjuangan Munir yang tak akan pernah mati.

Sosok Munir yang berani dan bersahaja tergambar dengan sangat jelas dalam kedua belas cerpen ini. Dalam setiap hembusan napas Munir begitu terasa semangat keberanian dan keadilan. Munir bukan hanya memberikan inspirasi kepada keluarga dan teman-teman saja, tetapi setiap orang yang membaca cerita tentang Munir pasti akan sangat mengaguminya. Selain itu, kepergian Munir tidak hanya membuat sedih orang-orang terdekatnya, tetapi banyak orang di negeri ini yang menangisi kepergiannya.

Cerpen-cerpen dalam buku ini sebenarnya hanyalah salah satu media untuk menyampaikan kebenaran. Lewat sosok Munir, para punulis dalam buku ini ingin menyadarkan dan mengajak pembaca tentang semangat keadilan yang sudah hampir tak tersisa di negeri ini. Buku ini juga ingin membuka mata kita bahwa negeri ini sedang “sakit keras”. Kita yang masih hidup sampai saat ini hendaklah mulai sadar untuk membenahi bangsa ini. Hal itu karena nasib bangsa ini sesungguhnya ada di tangan kita semua.

Munir adalah sosok teladan yang harus selalu kita contoh. Tubuh Munir boleh pergi meninggalkan kita semua tetapi semangat Munir harus dan akan selalu ada di hati orang-orang yang mencintai keadilan. Yakinlah pasti akan lahir sosok-sosok yang akan meneruskan semangat perjuangan seorang Munir. Dan kita harus menjadi sosok pengganti Munir yang tidak pernah takut untuk selalu menegakkan kebenaran dan keadilan.

Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen-cerpen ini pun cukup lugas dan mudah dipahami oleh para pembaca serta cocok dibaca oleh semua umur.

Selasa, 17 Juni 2008

Antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru

Apa hubungan antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru?
Dan apa yang berkaitan antara keduanya?
Soe Hok Gie dan Mahameru adalah dua legenda Indonesia, sedangkan hubungan antara keduanya?
Soe Hok Gie wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut

Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Dia adalah sosok aktifis yang sangat aktif pada masanya. Sebuah karya catatan hariannya yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman oleh LP3ES diterbitkan pada tahun 1983. Soe Hok Gie tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan juga merupakan salah satu pendiri Mapala UI yang salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat menjadi pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442m.

Kemudian pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676m. Banyak sekali rekan-rekannya yang menanyakan kenapa ingin melakukan misi tersebut. Gie pun menjelaskan kepada rekan-rekannya tesebut :

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Sebelum berangkat, Gie sepertinya mempunyai firasat tentang dirinya dan karena itu dia menuliskan catatannya :

“Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Gie yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), berikut beberapa kisah yang mewarnai tragedi tersebut yang saya kutip dari Intisari :

Suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru. Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, beberapa anggota tim terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. Di depan kelihatan Gie sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan.
Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, mereka menunggu datangnya Herman, Freddy, Gie, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Gie dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, mereka berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Gie, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Gie dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan.
Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
“Cek lagi keadaan Gie dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, mereka berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, mereka yakin kalau Gie dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad keduanya sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Gie dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.

Soe Hok Gie telah menjadi salah satu Dewa yang memuncaki Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa.

SEBUAH TANYA

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
Di bawah ini ada sebuah puisi Gie yang kita tak tahu judulnya. kiranya ada yang tahu, sila lah berbagi info pada kami.

(Puisi Gie)

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”