Selasa, 17 Juni 2008

saat api perjuangan semakin berkobar

Wiji Tukul

Wiji Tukul, dalam kumpulan kumpulan sajak-sajak, "Aku ingin jadiPeluru", Penerbit Indonesia Tera, Cetakan I, Juni 2000.

Nanyian Abang Becak

jika harga minyak mundhak simbok
semakin ajeg
berkelahi sama bapak
harga minyak mundhak lombok-lombok
akan mundhak
sandang pangan akan mundhak
maka terpaksa tukang-tukang lebon
lintah darat bank plecit tukang kredit
harus dilayani

siapa tidak marah bila kebutuhan hidup semakin
mendesak, seribu lima ratus uang belanja
tertinggi dari bapak untuk simbok, siapa bisa
mencukupi sedangkan kebutuhan hidup semakin
mendesak

maka simbok pun mencak-mencak:
”pak-pak anak kita kebacut metu papat lho!
bayaran sekolahnya amak-anak nunggak lho!
si Penceng muntah ngising, perutku malah sudah
isi lagi dan suk Selasa Pon ana sumbangan maneh
si Sebloh dadi manten!”

jika bbm kembali melonjak
namun juga masih disebut langkah-langkah
kebijaksanaan
maka aku tidak akan lagi memohon pembangunan
nasib

kepadamu duh Pangeran duh Gusti
sebab nasib adalah permainan kekuasaan
lampu butuh menyala, menyala butuh minyak
perut butuh kenyang, kenyang butuh diisi

namun bapak cuma abang becak!
maka apabila becak pusaka keluarga pulang
tanpa membawa uang
simbok akan kembali mengajak berkelahi bapak

Solo, 1984

Tidak ada komentar: